Kategori: Karya
-
Puisi: Melepas Tidur
Tidak pernah ada minggu. Tidak pernah ada hari libur. Kepalaku ruang kerja yang lembur penuh kertas pengingat: yang selesai masih tertunda sedang waktu beku pada kalender berwajah angka tunggal. Mataku pekerja keras yang memaku laku; hidup tak bukan bekerja dan gerak semarak pada perihal yang patut dikejar. * Kamarku ini tidak…
-
Puisi: Selalu Ada yang Ingin Aku Petik di Depan Rumah
Selalu ada yang ingin aku petik di depan rumah. Sekuntum namamu yang merah. Maka hanya keinginan, namamu putus dari tangkainya menyisakan hijau rumput terinjak-injak itu saja. * Aku selalu ingin bunuh diri lalu meminjam raga orang lain demi menyamakan umur kita. Bibir tetangga bersabda usia namamu terlalu muda untuk cinta tua milikku. * Jelas ingat:…
-
Puisi: Pengarang yang Kita Kenal Mati
Pengarang sajak yang kita kenal mati di meja kerjanya dengan berlembar kertas tercoret puisi tak rampung tentang orang-orang. Ia mati dengan semacam janji: andaikata sajak ini meregang nyawa entah di halaman berapa, atau mati suri lalu dihidupkan penyair lain lagi, rohku biar menjelma kekuatan juga keberanian juga kecintaan pula kebencian pula kutukan sampai sajak ini…
-
Puisi: Soneta Penghuni Rumah
1 Kau tidak sempat membawakan bekal tanya pada suami yang pamit bekerja pada ujung minggu kenapa setelah enam hari bibir tidak bercumbu masih saja menjauh demi kata kerja? * Pada jejak langkah kakinya di tanah menggenang bibirmu kelu mengucap sebuah nama entah siapa Telinga enggan mendengar berita kekasih pulang dengan aroma parfum yang tak pernah…
-
Puisi: Bermain Kartu
1 Kita duduk berdua saja di restoran untuk pertemuan yang kita sebut kencan daftar pesanan menunggu antrian di waktu itu kau ingin mengusir bosan lalu kuambil satu set kartu sebagai hiburan * Kita duduk berdua saja bermain kartu permainan minuman: kita setuju jatuhkan gambar serupa dari awal klu angkanya harus lebih tinggi dari itu jika…
-
Cerpen: Fatah dan Annchi
Tubuh-tubuh mulai berhambur ke luar rumah masing-masing selepas seorang takmir masjid mengumumkan kabar lewat corong pengeras suara bahwasanya ada seorang warga meninggal hari itu. Mereka keluar untuk memastikan diri bahwa mereka tidak salah dengar. Ibu-ibu saling bertanya kepada siapa saja yang mereka temui untuk mencari tahu. “Memangnya ada keluarga Pak Husni yang bernama…
-
Puisi: Suatu Waktu Kelak
Suatu waktu kelak jika kau telah menjadi seorang yang memikul kehidupan anak dan keluarga kecilmu itu ceritakanlah ke anakmu bahwa betapa mata hidung bibir kuping kulit rambut laku pikir serupa dengan milikku juga kekasihku yang mungkin tidak akan lagi pernah ia kenal kecuali lewat cerita yang kau sampaikan bila sempat setiap waktu dia beranjak tidur…
-
Puisi: Lihatlah Semut-Semut Itu
Tergesa berjalan dengan barisan mengular dari segala arah sudut ruang jauh yang sukar diterka berangkat dari mana dan sejauh apa mereka merakit langkah sampai pada titik itu juga. * Lihatlah semut-semut itu melingkar mendekat bangkai semut tua telah kehilangan nyawa dengan tubuh mendekap sebongkah gula lezat, cukup untuk satu koloni kecil semut lainnya. * “Kau…
-
Puisi: Cerita Batu
Pada penglihatan senja yang memerah sering terdengar suara gaib dari berbagai arah perihal cerita-cerita antik dari bibir teman yang kini pasrah mendiami rumah berbahan dasar tanah Ternyata cerita lebih panjang usia daripada penuturnya satu yang menggema hebat dalam telinga tentang Adam yang bercerita soal nama-nama benda di surga sebagai cerita dan…
-
Puisi: Sajak Batuk
Pertama kali ia berkenalan dengan batuk sebagai sebuah tanda dada menyesak lalu meledak bersama cairan hijau atau ludah yang dilepeh begitu saja Batuk baginya tidak sesederhana itu nyatanya batuk tidak sekedar ledakan patah-patah yang nadanya naik-turun tergantung banyak usia yang artinya penyakit musiman Batuk adalah gerbang menuju sebuah pengertian…
