Madilog Memandang Muhammad SAW

Opini- “Ketika menghadap Tuhan, saya muslim. Tetapi, manakala berhadapan dengan manusia saya bukan muslim, karena Tuhan sendiri bilang ada banyak setan diantara manusia. Jadi, kami mengalahkan pimpinan mereka dengan Al-qur’an di tangan.” Tan Malaka bilang. (Tempo: 2008, 60).

Tan Malaka? Apakah dia Muslim? Ia sudah menegaskan bahwa ia muslim. Beberapa orang yang \nmengenalnya, gerak jalan pikiran revolusionernya mengaburkan agama dalam dirinya. Ia seorang komunis. Membaca komunis, membuat kita melayang kepada peristiwa berdarah 1965. Tenanglah, tulisan ini hanya bercerita sedikit pribadi Tan Malaka dan ruang kecil dalam dadanya sebagai manusia dengan segenggam iman. Jadi, tidak ada singungan peristiwa 1965.

Bagaimana Tan Malaka memandang Baginda Rasulullah SAW? Ini adalah salah satu pertanyaan menarik. Ada beberapa alasan mengapa pertanyaan ini bisa menjadi bahan pertimbangan. pertama, sepak terjang Tan Malaka berangkat dari pemikiran komunis. Kedua, posisinya dalam berjuang meraih kemerdekaan berdiri di zona merah yang mana blok yang ia bangun telah menorehkan sejarah berdarah di hari lalu. Ketiga, adanya tali penghubung antara sudut pandang meterialistik dengan mistika.

Tan Malaka telah menciptakan satu proyek yang sampai sekarang masih diselami oleh beberapa orang, yang disebut “Madilog”. Landasan berpikir proyek ini bermula dari kesadarannya melihat fenomena rakyat Indonesia dahulu yang dijajah oleh kaum Belanda. Apa salahnya? Ini bukan soal nama sebuah bangsa, melainkan sebuah pola pikir. Indonesia kala itu dibagi menjadi dua kutub yang saling berlainan; Kapitalis dan proletar. Madilog ingin menyadarkan kepada masyarakat proletar (pribumi tertindas) untuk mulai sadar bahwa perlu adanya kesadaran kepada hal-hal yang riil.

Realitas yang disinggung adalah pola pikir yang memulai tesis terhadap alam sekitar. Dalam garis besar Madilog, Tan Malaka ingin adanya pergeseran kebenaran yang diambil dari kenyataan. Betapa masyarakat tertindas terdahulu dijajah secara materi lewat kerja paksa dengan upah minim, sosial dengan adanya tingkat strata sosial yang menciutkan harga diri sebagai manusia, dogmasi yang diarahkan kepada bayang-bayang surgawi dan neraka. Logika yang dimainkan adalah dengan melihat keadaan sekitar untuk kemudian dilakukan suatu tindakan sebagai kesimpulan berpikir.

Contoh kecil saja dari percikan pemikirannya, jika seorang anak kuli petani tidak mendapatkan pendidikan, maka selamanya mereka akan buta huruf. Tubuh mereka akan diperas keringatnya. Harga diri mereka akan runtuh hanya karena tidak hidup dari kalangan priyayi. Mereka tidak memiliki hak untuk mendapatkan kebenaran. Langkah mereka disuruh kesana-kemari oleh orang yang beruang.

ketika seorang didalam keadaan yang serba sulit, hal yang bisa mereka pegang adalah kebenaran mistika. Seperti misalnya, bahwa hidup ini tidak lebih dari ujian untuk kebahagiaan di akhirat. Pribadi akan mengakui bahwa hidupnya memang ditakdirkan untuk sengsara. Itulah kenapa Tan Malaka ingin menggeser pikiran dengan segala yang ada di dunia ini memiliki aturannya. Aturan di luar kendali manusia memang tidak disinggung, tetapi aturan manusialah yang bisa dicari kebenarannya. Semisal dengan pertimbangan ini dilakukan, maka bisa tumbuh satu kesadaran bahwa kerja keras mereka seharusnya bisa lebih dihargai. (seperti kutipan: pekerjaan tangan sama mulia dengan kerja otak). Sikap pesimis akan bergeser dengan begitunya.

Lalu, bagaimana sebuah materilistis logika memandang wujud Nabi Muhammad SAW yang diselimuti dengan kabar mistika seperti mukjizat, nur Muhammad, dan keghaiban lainnya? Hal-hal yang sifatnya Hablum-minallah kita sisihkan terlebih dahulu. Tan Malaka beranggapan bahwa Muhammad tidak serta merta diselimuti kemistisan. Ada banyak sekali pikiran ilmiah yang bisa dijadikan pertimbangan.

Zaman pra-Muhammad orang Arab hidup dalam kepercayaan pada berhala. Setiap daerah memiliki kondisi beragam berhala yang mengakibatkan adanya perbandingan antara berhala satu dan berhala lainnya. Dalam kaitannya ini, Berhala yang berdiri tegak di Mekkah menjadi satu yang bisa dijadikan suatu masterpiece kaum pra-Muhammad. Ini menunjukkan adanya suatu ketidakadilan yang mana setiap daerah, dengan kondisi beragam, memandang berhala mereka. Muhammad yang datang sebagai seorang pemimpin umat, memberikan satu deklamasi penting bahwa di mata Tuhan manusia tidak dibedakan kecuali ketaqwaan. Ada kaitan yang menarik bahwa apa yang diajarkan Muhammad dalam mendekati kebutuhan psikologi menempatkan manusia dalam kondisi yang sama. Manusia memiliki dasar kebutuhan psikologi yang sama tanpa terlilit harta dan hal-hal materiil lain yang berpotensi membeda-bedakan.

Apakah Muhammad serta merta mendapatkan pengetahuan politik perang? Perlu dilihat sejarah perjalanannya mulai dari berdagang dengan pamannya. Ia mulai bertemu dengan kafilah-kafilah lain yang memberikannya satu pemandangan tentang gerak suatu golongan. Ini merupakan proses wajar dari sebuah cara belajar manusia (observing). Muhammad terus mencari kebenarannya dari lingkungan sekitarnya (sekali lagi sisihkan terlebih dahulu materi mistis).

Apakah dengan takdir ma’sumnya (dijauhkan dari dosa), Muhammad lantas diam saja dan seolah membanggakan diri? Muhammad jua melakukan aktifitas layaknya manusia yang hidup di bumi. Ia menggembala hewan, ia berjualan, ia juga ikut dalam perkumpulan permusyawaratan (apakah ini termasuk hal-hal immaterial? Tidak sama sekali).

Dengan segala benturan kondisi masyarakatnya dan rasa ingin tahunya, Muhammad mencoba mencari naungan dari semua hal yang material. Ia juga berkhalwat, menyendiri, merenung, merumuskan konsep revolusioner. Ia kembalikan kebutuhan badaniyahnya kepada pengatur aturan materiil (Hablumminallah). Jadi, bisa dilihat bahwa apa yang menjadi sepak terjang Muhammad Saw, baik fi’liah dan qouliyah, ditaruhkan pada porsi yang seimbang. Muhammad tidak serta merta pemimpin dengan jubah keghaiban. Ia telah melalui pergerakannya dengan logika dan materialistis yang paripurna. Michael Hartz mengatakan bahwa Muhammad adalah satu figur pemimpin nomer satu di dunia dengan konsep keesaan Tuhan (Tauhid).

Begitulah sebuah materialistis logika memandang stigma mistika. Bagi pembaca, semoga dengan ini ada sedikit rangsangan bahwa semua hal-hal memang harus dipandang sesuai porsinya. Aturan dunia ini adalah milik material, tapi aturan materiil telah diatur oleh aturan mistika (Tuhan). Semoga dengan ini kita menjadi pribadi yang menjadi lebih kritis dalam menghadapi realita di sekitar kita. tentunya, urusan dogma agama, penulis kembalikan kepada pribadi pembaca. Tanpa mengurangi rasa hormat, penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah telah diberi kesempatan untuk menuliskan sedikit pikiran sederhana ini.

Kesalahan Saya adalah Menerbitkan Buku ke Penerbit ‘itu’

Opini- Di dalam benak beberapa penulis, menyaksikan tulisannya di rak toko buku adalah salah satu yang menyenyakkan tidur. Apalagi buku-buku tersebut tertata rapi di daftar ‘best seller’. Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang penulis di saat seperti itu. Setidaknya, saya pernah punya

firasat seperti itu.

Saya sadari betul saya bukan tergolong penulis yang baik. Menulis bagi saya tidak lebih cara terbaik merelaksasikan syaraf otak yang sering ribut akan berbagai hal. Suatu waktu benar saya membayangkan tulisan saya akan dicetak dan dibaca orang lain. Rasa itu mencuat ketika beberapa orang mulai memberikan tanggapan positif pada status-status yang saya tulis. Baiklah, beberapa sanjungan cukup untuk memupuk kepercayaan diri.

Sekali lagi, saya bukan penulis yang baik. Saya layangkan pikiran saya pada satu kesimpulan untuk membuat satu buku. Buku sekumpulan puisi. Selama proses pembuatan puisi, saya rasakan berbagai macam emosi yang bergumul menjadi satu. Tak jarang saya membatalkan janji bertemu dengan kawan saya hanya untuk merampungkan naskah puisi saya yang, dalam benak saya, akan meledak.

Saya mulai memakan banyak bahan referensi. Mulai dari cara penyampaian, gaya puisi, konten isi puisi, kritik puisi, sampai beberapa teori puisi yang tak sungkan membuat kepala senut-senut. Sekali lagi, saya hanya berpikir tulisan ini akan tembus penerbit.

Cukup lama proses penulisan puisi ini. Waktu demi waktu terlewati begitu saja. Berbagai sumber inspirasi saya pungut satu demi satu untuk menghasilkan riset yang relevan. Semua demi sebuah buku dan harga diri (ego sentris kupikir di sini).

Akhirnya satu naskah menghela napas jedanya. Proses pertama selesai. Kali ini saya perlu berpikir untuk mulai memilah dan memilih penerbit mana yang cocok untuk saya sodorkan naskah. Mulai dari penerbit mayor sampai penerbit indie. Semua saya baca aturan pengiriman naskahnya.

Selama proses pencarian informasi, mulai terbayang bagaimana nanti saya akan melihat buku itu digenggam orang-orang, dibaca di pojok taman, di sudut perpustakaan, di samping kopi panas, atau sebagai media pengungkapan perasaan para introvert. Entahlah, semua begitu kentara di pikiran itu.

Akhirnya saya memilih untuk menerbitkan indie. Alasan kenapa saya memilih proses itu tak lain tak perlu waktu lama untuk proses cetak. Ditambah lagi, ada sedikit kepastian bahwa naskah itu akan masuk cetak. Bagaimana pun, saya bukan penulis yang tenar, cukup sulit menembus penerbit mayor (kesalahan persepsi saya).

Sekarang masuk ke tahap saya memilih penerbit indie yang pas. Saya coba googling di beberapa website, dan akhirnya saya menemukan satu penerbit yang lumayan meyakinkan dari segi manajemen prosesnya. “Baiklah, aku pilih,” kata saya. Mulai saya hubungi pihak penerbit.

Benar tidak waktu lama, buku saya direspon dan akan masuk cetak. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan saya kala itu. Semuanya seperti tertebus segala waktu yang saya curahkan untuk satu buku itu. Bayangan imajiner saya mulai bermain lagi di kepala saya. Lagi-lagi sisi narsisme yang tak terkendalikan.

Selama proses cetak saya sudah membaca peraturan yang tertera. Semua saya baca sedemikian detail. Buku saya dicetak sepuluh eksemplar sebagai sample. Baiklah, saya sangat senang sekali. Dari sana, muncul pikiran untuk memasarkan buku saya.

Saya mulai membuat postingan promosi dan sebagainya. Siapa menyangka! Banyak dari beberapa teman dan kawan di sosial media menanggapi positif buku saya. Mereka ingin membeli buku saya. Saya sangat senang, meskipun tidak ada di toko buku, saya senang puisi saya dibaca orang.

Inilah kesalahan saya, setelah melihat reaksi pasar, saya menghubungi lagi pihak penerbit untuk meminta proses cetak buku sesuai pesanan. Saya ingin membuat ‘stock’ sendiri, sehingga bisa saya pasarkan. Bukankah itu hal yang bagus? Beberapa kolom chat room saya tidak mendapatkan balasan. Baiklah, mungkin pihak penerbit tengah sibuk (saya tidak begitu yakin organisasinya bisa mengabaikan chat room costumer).

Saya mulai gerah dengan dicampaknya chat saya hingga berminggu-minggu. Saya mulai jengah. Sedangkan, teman-teman saya mulai menanyakan buku saya. Saya tidak bisa menjawab banyak kecuali, “masih proses cetak.” Berapa lama lagi saya harus membuat pembaca saya, walaupun tidak seberapa, kecewa? Semua disebabkan tidak adanya balasan sekali dari pihak penerbit. Tidakkah mereka tahu usaha saya dan optimisme saya dalam menulis naskah? Apakah usaha saya cukup adil dengan tidak ditanggapinya permintaan saya mencetak buku lagi? Itulah kenapa saya mulai berpikir, kesalahan saya tidak ada pada bukunya, tapi pihak penerbit ‘itu’.

Orang Miskin Tidak Berhak Mencintai? (Review Buku: ‘Gadis Pantai’ Pramoedya Ananta Toer)

gadis-pantai-5af700fbab12ae2409328722

Bisakah seseorang mengampuni nasib yang menggencet pundak seseorang? Aku hidup di lingkungan yang memiliki manusia dengan nasib yang bertingkat. Sebelum aku sebutkan apa saja jenis mereka, kau harus tahu kita sedang membicarakan pandangan sosial umum. Pertama, komoditas orang yang lahir dengan sekeliling harta. Mereka akan merasa bersyukur kepada leluhur karena mereka digariskan dan ditempatkan di tingkat strata yang tinggi karena usaha sejarah.

Selain orang yang aku sebutkan tadi, masih ada lagi golongan yang hidup atas nama dogma. Mereka memandang hidup ini tidak lebih dari usaha manusia mengenali ketidaksempurnaannya. Mereka akan menghabiskan diri dengan berkunjung ke surau, mengaji agama, dan mulai menanamkan hidup ini sebagai arena percobaan menahan siksa materi untuk masuk ke dunia yang hakiki.

Di sudut lain, akan bisa kau temukan beberapa orang dengan kulit kasar, wajah kaku, dan otaknya yang tidak pernah dididik untuk menyerah. Ia ditikam keadaan. Di dalam kepalanya, kebahagiaan adalah angan-angan dan cita-cita. Mereka terbiasa hidup kekurangan. Tidak ada alasan untuk menyalahkan takdir, karena mereka sendiri menyadari bahwa hidup ini adalah soal ikhlas dan mampir minum.

Kenapa aku katakan keadaan orang-orang di sekitarku seperti itu? kau pasti bisa menebak. Tidak lain aku ingin mengklasifikasikan pandangan kita terhadap objek hidup sesuai latar belakang diri kita. Aku akan mengangkat ‘cinta’ dalam hal ini. Setiap kata cinta disebutkan, ketiga kelas umum di atas akan menghadapi pola pemikiran yang unik.

Atas dasar ini, aku ingin berterima kasih kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah memberikan aku satu kesan cinta yang menarik dalam bukunya ‘Gadis Pantai’. Buku ini menceritakan seorang gadis yang bernama Gadis Pantai. Ia lahir di kalangan kampung nelayan yang berkeyakinan bahwa hidup tidak lebih berharga dari bekerja menyambung hidup. Gadis Pantai diajari oleh adatnya untuk tidak berlaku seperti gadis kota. Ia akrab dengan jala ikan, sawit kelapa, dan tidak diajarkan untuk memperhatikan kemulusan kulit dan rupa. Yang diajari oleh kehidupannya yaitu kecantikan terpancar dari yang tidak mampu dilihat mata.

Sampai pada suatu hari yang tidak ia sadari, ia digiring menjauhi area kampungnya. Ia akan menjaga jarak dengan jala ikan, kotor pasir pantai, dan kotor-kotor lainnya yang menepungi tubuhnya. Ia dipilih untuk menjadi istri seorang Bendoro. Gadis Pantai tidak tahu menahu alasannya kenapa ia bisa dipilih. Yang ada di dalam benaknya hanya bakti pada orang tuanya sahaja. Ia lihat wajah ayahnya yang garang, kasar, kaku, dan berjiwa kesatria bisa begitu lunak ketika sampai dipelataran Bendoro. Ia berpikir apa bagaimana bisa seorang yang jagoan di kandang bisa tertunduk dan kehabisan kata-kata di tempat asing ini, tempat orang besar.

Gadis Pantai telah dipilih untuk menjadi istri seorang Bendoro. Awalnya ia tidak merelakan dirinya ditinggal di sana. Dalam masa awalnya, ia canggung dan seolah dirinya adalah monyet yang bergerak di sana. Apa –apa yang ia dapatkan di kampungnya, tidak boleh dilakukan di rumah megah ini. Ia dilarang berbicara dengan orang ‘kebanyakan’, ia dilarang berbahasa seperti orang kebanyakan, ia harus mulai beribadah, melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang istri Bendoro. Begitulah hidup Gadis Pantai.

Seiring berjalannya waktu, Ia harus menyadari bahwa ia telah ditakdirkan beralih pada kehidupannya. Ia sudah mengabdikan diri sebagai istri seorang Bendoro. Tapi, sikap bendoro terhadap istrinya masih memperlihatkan bahwa orang tinggi tidak boleh bersama orang kebanyakan. Semuanya diukur atas nama harta dan sejarah sosial. orang yang tidak berpendidikan adalah kotor. Gadis Pantai harus bersusah payah untuk itu. bahkan, ibu dan bapaknya tidak lagi bisa berbicara seperti dulu. Anak mereka telah jadi milik Bendoro. Itu artinya menatap wajahnya adalah kelancangan. Dalam hati Gadis Pantai, betapa mudahnya seseorang berubah sikap hanya karena perubahan status sosial.

Gadis Pantai Hamil. Ia mencintai anaknya dengan setulus hati. selumrahnya seorang ibu pada Jabang bayi, ia ingin menjadi ibu yang pantas dan menjadikan anaknya luhur. Tapi kenyataan pahit menghampirinya, status sebagai sitri bendoro selesai pada hari ia melahirkan. Bahkan, di hari persalinan, bendoro tak sudi melihat istri dan anaknya karena ada urusan neara yang lebih penting menurutnya.

Gadis Pantai dicerai. Alasan sederhananya adalah menikahi orang kebanyakan adalah salah satu cara bagi bendoro untuk melagsungkan pernikahan aslinya dengan orang yang berstatus sederajat. Gadis Pantai sakit hati. Ia merasa pengabdiannya telah dinodai. Cin bisa menembus dinding tebal pandangan negative orang petinggi. Ia lahir sebagai rendahan, mau apa lagi kalau bukan kembali menjadi rendah. Ia memutuskan kabur dan sesekali melihat keadaan anaknya yang tinggal di rumah besar itu.

Dari apa yang Pramoedya ceritakan, ada yang mengganggu pikiranku tentang cinta. Aku teringat kawanku yang bisa dikatakan lahir dari kalangan orang kebanyakan. Ia memiliki kekasih. Dan kau harus tahu apa yang ia pikirkan. ia bilang ia tidak punya banyak waktu menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya karena ia harus bekerja mencukupi kebutuhan hidupnya. Cinta baginya adalah suplemen baru yang memompa jantung dan ototnya untuk bekerja lebih giat. tapi, fakta menyakitkan yang harus aku katakana adalah kekasihnya lahir dari golongan orang kaya. Kawanku tertekan. Cinta membutuhkan wajahnya yang lain yang ia sebut pembuktian. Pembuktian materi? Entahlah.

Apakah orang miskin tidak berhak jatuh cinta? kau bisa bayangkan sebuah makan malam dengan lilin dan bir digelas dengan leher panjang. Alunan music jazz, dan seorang senorita menyanyi dengan sensualitas tinggi. Ini lah bayangan sebuah keromantisan. Kita terbiasa mengukur taraf kebahagiaan dari apa yang tinggi itu perlihatkan. Ingat! Mereka diberkati sejarah. Dan bagi kita? Hal-hal semacam itu adalah bayang-bayang belaka yang siap setiap saat mencekat leher kita.

Apa yang ada dalam bayangan kalian terhadap sepasang kekasih yang tertangkap basah berciuman di bawah pohon kelengkeng di malam yang remang? Kita akan katakan itu adalah sebuah pelecehan terhadap sosial. tapi kita tidak pernah membayangkan apa yang mereka pikirkan. mereka bercinta dengan tulus. Sadar penuh ia dengan lingkungannya yang tidak bisa kita ukur seperti kamar hotel dengan wangi aloefera yang menggairahkan gerakan di atas ranjang orang kaya?

Selama pandangan seseorang terhadap orang lain masih sebatas apa yang dilihat mata, maka cinta akan tetap salah kaprah. Seperti Gadis Pantai yang dididik keadaan, ia sadar bahwa cinta yang ia lihat adalah rasa tidak menyerah ayahnya yang berjudi dengan maut hanya untuk memastikan keuarganya bisa makan. Cinta Gadis Pantai telah dipertaruhkan.  Dan kau bisa tebak seperti akhir cerita itu? ia dibuang begitu saja. karena cinta yang dipandang dengan mata, maka selamanya orang miskin akan mengutuk keadaan bahwa cinta tidak berhak atas mereka. Tapi bagi mereka yang mau mengerti tentang kebahagiaan. Cinta bisa jadi apa yang tidak nampak dan apa yang tidak mereka sebut sebagai emas dan tahta. Cinta adalah lautan yang bisa mematikan siapa saja sekaligus menghidupi siapa saja.index

Itulah yang aku dapat setelah membaca buku Pramoedya tentang Gadis Pantai. Buku ini akan sangat cocok bila kalian termasuk orang yang tidak kaya  atau kalian orang kaya. Bagi orang miskin, buku ini menyajikan wajah abstraksi cinta, dan bagi orang kaya buku ini menjadi sebuah teguran untuk mulai menyadari hakikat cinta. Bacalah buku ini. Terima kasih Pramoedya atas karya hebat ini.

Sudahkah Kita Tersenyum untuk Orang Tersayang?

downloadAku pulang pagi lagi. Semalaman aku begadang dengan dua orang temanku; Ginanjar dan Rifqi Kaje. Mereka hari ini akan tampil di suatu acara pemerintah kota. Aku hanya menemani mereka latihan saja. Malam berangsur cepat, beberapa puluh lagu yang diputar bergilir, dua gelas kopi, sebungkus rokok, dan bualan-bualan informasi yang hinggap pergi di telinga kita. Semua tidak akan berhenti kecuali memang sudah dilantunkan adzan dari toak masjid.

Sesampai di rumah, aku sadari semua pintu terkunci. Ini wajar, mana ada rumah yang membuka pintu 24 jam tanpa henti. Aku ketuk beberapa kali, dan memang tidak ada jawaban. Rasanya ada yang mengganjal di dadaku. Ada ingatan-ingatan kecil yang merambat di impuls syaraf otak. Sebuah ingatan yang membangun fragmen wajah sendu bangun tidur dan membukakan pintu setiap aku pulang pagi. Kalimat yang selalu sama dari tahun ke tahun, “Jane ki turu nang ndi to, Le?” Dalam bahasa Indonesia artinya sebenarnya kemana saja sih kamu, Nak. Yah, itu kalimat almarhum ibuku.

Aku ingat suatu teori persinggungan. Sebenarnya kita sendiri diajari memahami setiap tanda. Dan tanda-tanda disekitar kita memberikan rekam jejak memori yang cukup lama di kepala kita selama kita memiliki repetisi di sana. Semisal, kau pasti ingat apa yang guru Bahasa Inggrismu ucapkan ketika hendak memulai kelas. Mungkin juga, kamu masih ingat bagaimana orang-orang yang pernah ada dan tiada mendadak mampir hinggap di ingatanmu seperti hantu hanya karena kamu mencium aroma parfum yang sama dengannya, menempati suatu tempat yang pernah mengesankan kalian, atau mungkin lagu yang pernah kalian dengarkan berdua. Semua itu adalah persinggungan. Dalam linguistik, kita sebut ini semiosi.

Sebagai remaja tanggung, terutama bagi seorang lelaki. Aku ingin mengutuk diri sendiri dan berkata, seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu begadang bersama ibuku. Menonton televisi berdua sambil memijat kakinya. Bisa juga mengantarnya belanja dengan niat mendapat uang jajan daripada bermain di luar sebagai seorang pejantan. Mungkin ini yang disebut ‘penyesalan selalu belakangan’. Maksudku, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin kita ingat di masa mendatang. Tidak banyak orang tua yang bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia menghabiskan masa lalunya untuk hal-hal yang ia syukuri di masa mendatang. Tidak sedikit orang yang merasa kehidupannya hambar atau hanya memiliki ingatan-ingatan penggembira sesaat dan tak berlaku lagi di masa tuanya untuk dikenang.

Dalam kasusku, aku merasa aku telah menjadi orang yang kekurangan persinggungan dengan ibuku. Siapa yang akan mengira, wanita yang murah senyum, mengiringi kita setiap waktu, menggoreng telur sarapan, bahkan mencucikan celana dalam kita, akan lebih cepat berpulang. Kita tidak pernah tahu. Bahkan jika aku boleh menghitung, di umurku yang setanggung ini, jumlah aku mengucapkan ‘selamat pagi’ dan ‘have a nice dream’ pada ibuku lebih sedikit daripada aku mengumbarkan kata-kata ‘jangan lupa makan’ pada kekasihku. Betapa kita bisa sejahat itu dengan seolah kita adalah orang yang dijauhkan dari masalah.

Ini adalah kasus sederhana. Di luar sana masih banyak orang yang kehilangan orang lain dan menyesal sejadi-jadinya karena apa yang ingin mereka rawat sebagai ingatan begitu sedikit. Banyak seorang lelaki tua menduda sampai akhir khayat. Jika kau tanyakan apakah ia masih mencintai istrinya. Maka ia akan memiliki begitu banyak persinggungan dengan istrinya yang ia hidupkan kembali dalam kepalanya. Ia tidak akan merasa sedih. Karena di masa lalu, mereka berdua telah melakukan begitu banyak persinggungan positif dan bersifat long term (jangkan panjang).

Setiap orang memiliki ruang paling rapuh di dalam dirinya. Sayangnya, betapa banyak dari kita mengelak atas kerapuhan itu. Berapa banyak dari kita mencari pelarian agar kita terus terliihat kuat dan bahagia. Aku, dalam mengingat ibu, selalu ingin menangis sejadi-jadinya. Peduli apa dengan cengeng. Aku ingin meresapi persinggungan yang sedikit jumlahnya ini. Kenali kerapuhanmu. Kenali sebagian dirimu yang lain. Perhatikan hari esok. Apa yang akan membuatmu hampa ketika persinggungan dalam dirimu saat ini di lepas. Ciptakan lebih banyak persinggungan yang bisa kita kenang dan membahagiakan bagi kita di masa mendatang. Jadikan setiap waktu kita hari ini, adalah kebaikan bagi kita di masa mendatang. Hargai orang-orang yang ditakdirkan mengenal diri kita. Karena, semakin sedikit persinggungan dalam hidup ini terhadap hal lain, semakin menyesal kita mengingat hari ini di lain hari; kecuali kehampaan dan remah-remah penyesalan. Sayangi orang terdekat kita. Hargai mereka. Jadikan mereka menjadi orang yang abadi dalam ingatan.

Bangun Pagi atau Siang?

Akhir-akhir ini aku sering tidur pagi. Jelas bisa kau bayangkan, aku mulai membuka lagi mataku dari tidur sekitar matahari sudah hampir sejarum jam 12 dengan kepala. Saat kubereskan diri, biasanya ada salah seorang yang jadi saksi mata ‘kekeblukanku’ ini; tetanggaku penjual kelontongan yang sewot karena aku tiap hari beli shampo se-sachet saja.

Sebenarnya tidak ada yang berubah, aku dulu waktu SMA sering sekali tidur pagi. Ini hanya beda masa saja. Aku Mahasiswa sekarang, tepatnya mahasiswa tingkat akhir. Ada dunia aneh yang mengelilingi sekitar. Satu, aku tidak bekerja. Kedua, orang menilai kehidupanku seperti kaum intelek. Ketiga, aku menjunjung ego tinggi bahwa masa muda harus dihabiskan dengan bahagia karena hidup hanya sekali mampir. Selesai itu, mati sudah.

Dari kebiasaan-kebiasaan ini aku seolah menentang jarum tradisi. Aku ingat waktu mengaji di surau, “Bangun pagi atau rejeki dipatok ayam.” Dan sekarang, aku merasa rejekiku sudah dipatok ayam sepenuhnya. Namun lihatlah. Tak ada satu ayam pun di

sekeliling rumahku yang membuat CV, belanja baju, beli gincu, atau sebatas ngopi di warung-warung pinggiran menggunjing pemerintahan. Tidak ada. Kemana larinya rejekiku?

Ada hal yang sedikit mengganjal di benak. Urusan pagi atau siang itu urusan waktu. Kau pasti ingat teori rotasi bumi. Bumi memiliki belahannya masing-masing untuk menatap dan memunggungi matahari. Kita bisa tidur dan merasa seolah bintang di langit menjaga mimpi-mimpi busuk kita, sedangkan di waktu yang sama ada orang lain, di belahan bumi lain, sedang menenggak es teh karena panas matahari yang makin lama gak tahu diri.

Anehnya lagi, urusan rejeki disambungkan dengan waktu. Aku ingin keluar sedikit dari dogma agama. Dalam agama apa pun, waktu itu memang secara mistis memiliki ruangan tersendiri untuk membina urusan diri dengan Pencipta. Tapi, urusan rejeki, semua kembali lagi pada urusan kita membina waktu. Bisakah jika aku keluar dari zona waktuku dan mulai mengikuti zona lain? Kau pasti tahu maksudku, internet adalah burok bagi informasi jaman sekarang. Dan informasi ini mengalir deras tanpa mengenal pagi atau siang.

Inilah yang membuat seseorang mulai menilai diri kita dari waktu yang sempit sesuai kaca matanya. Mereka melihat kita dalam batasan waktu yang menurut mereka adalah suatu keburukan. Tapi, apakah mereka pernah bertemu kita saat kita bersujud tanpa mendongak, berusaha memeras ide untuk merancang masa depan, menuangkan segelas bir atau kopi untuk menghilangkan stres tinggi, mereka tidak melihat semua itu. Mereka hanya melihat kau acak-acakan tidak mandi dan seolah kita ini manusia paling sial karena menolak rejeki.

Bangun pagi dengan segumpal rencana-rencana yang tertunda lebih buruk dari bangun siang yang lelah menelan pagi dengan kata ‘lakukan’. Jadi kupikir, dunia ini perlu lagi mengkaji waktu. Jika rejeki ditentukan batasan waktu, tidak akan ada pekerjaan yang cocok. Bisa kaubayangkan jika semua penjual makanan malam hari pindah ke pagi hari? Pelanggan akan kabur. Akhirnya, urusan hati dan Pencipta bisa kocar-kacir.

Maksudku, kenapa sekarang kita tidak berpikir lebih bijak. Lebih baik mana mencari waktu, atau menentukan waktu kita sendiri?

Percuma Saja ‘Percaya’

silence

Masih adakah yang bisa dipegang dari omongan orang lain saat ini? Kau pasti pernah begitu percaya kepada orang lain. Seolah-olah apapun yang keluar dari mulutnya memabukkan dan melegakan. Terkadang rasa curiga dan tidak percaya perlu juga ditanam sedini mungkin. Setidaknya memagari diri agar tidak tersesat ke dalam prinsip orang lain.

Ada seorang teman datang padaku. Wajahnya bisa kautebak. Sama sekali tidak enak dilihat. Ia menceritakan satu kasusnya yang tengah menghujam kepalanya. Ia mulai menceritakan sikap-sikap pacarnya yang beranjak berbeda. Setidaknya tidak sesuai dengan apa yang pacarnya tampilkan kala PDKT. Ia menceritakan kejelekan kekasihnya sangat lancar.

Aku bukan orang yang lihai perihal asmara. Apalagi memberikan solusi-solusi jitu soal mempertahankan hubungan atau memperkeruh suasana tanpa harus terlihat tetap tidak bermasalah. Yang aku tahu, aku masih punya sedikit ingatan kecil tentang beberapa adegan dalam film jika terjebak dalam situasi seperti ini. Semua mengalir begitu saja, dan kau harus lihat bagaimana raut wajahnya berubah. Ia menyimak setiap kata-kata yang aku kutip dari potongan-potongan ingatanku yang tidak utuh.

Aku bilang padanya bahwa pacarnya itu tidak pantas untuknya. Sebuah komitmen dalam hubungan emosional manusia sebenarnya hanya memenuhi kebutuhan psikologisnya saja. Jikalau memang pada masa PDKT kekasihnya sering mengucapkan selamat malam, selamat tidur, atau kata-kata aneh lainnya. atau bahkan ada kebiasaan dia yang sengaja berubah untuk mendapatkan perhatian, itu kewajaran. mungkin saja ia tengah menjajaki kepuasan emosionalnya. kupikir, puncak kepuasan emosionalnya berada pada komitmen itu mulai terbangun.

Dan kau boleh tebak yang terjadi kemudian. Ia memutuskan pacarnya. Kedatangannya kali ini sungguh berbeda. Ia datang dengan perasaan menggebu-gebu. Ia bilang perihal gadis lain yang sangat menarik perhatiannya. Sungguh banyak sekali kejadian-kejadian hebat semasa PDKT nya kali ini. Mulai dari bangun pagi dan bekerja dengan ucapan-ucapan manis dari calon kekasihnya itu. Dia sendiri sekarang sedang menjajaki kepuasan emosionalnya.

Dari kejadian yang menimpa kawanku, ada satu yang ingin aku bilang padamu. Berapa banyak orang hanya menuruti kebutuhan emosionalnya? Berapa banyak orang jatuh cinta, menggebugebu, berseteru, putus, dan menangis sejadi-jadinya? Kebutuhan emosional diciptakan tidak bertahan lama. Dan kasus kawanku, ia adalah orang yang terlalu menggunakan sisi emosionalnya sehingga hidupnya jadi penuh reka-reka. Ia mulai merasa ditikam sikap yang tajam. Logikanya memang demikian. Hubungan apa pun akan menjadi suram jikalau diawali dengan jalinan asmara yang emosional.

Aku kasih kau satu lagi contoh kenapa kita perlu berkata ‘tidak’ pada omongan orang lain. Kau pasti pernah mendambakan suatu mainan. Kau harus merengek, menabung, bahkan mengancam orang tua sekali pun untu mendapatkannya. Rasanya, kau akan dapati puncak kebahagiaan tertinggi saat engkau raih mainan itu dari tangan penjualnya. Tetapi, laun demi laun, kau tidak lagi merasa impresive pada mainan tersebut. Mulai kau acuhkan, mulai kau tinggalkan, bahkan kau mulai melirik mainan lain. Inilah sifat dasar manusia. Bila kita hadapi dengan wajar dan tingkat emosional yang sewajarnya, tidak akan ada yang merasa disakiti hanya karena perubahan sikap.

Aku bilang, mulai sekarang, berlatihlah untuk curiga. Maksudku begini, kau tingkat kesadaranmu sendiri. Kamu memiliki potongan-potongan ingatan yang sampai kapan pun akan kau bawa. Orang dahulu menamakan itu dengan ‘prinsip’. Terkadang perlu kita batasi antara kepercayaan pada diri sendiri dengan hubungan interaktif orang lain. Orang lain mungkin bisa datang dan mengomel sepuasnya. Tapi kadang kita bisa ambil sesuatu yang positif dari omelannya jika saja memang ada nilai-nilai yang sesuai dengan prinsip kita.

Kau boleh bilang ini sedikit gila. Tapi, aku hanya ingin mengajak kamu untuk percaya pada dirimu sendiri. Ambil kata-kata orang lain sebagai perbandingan terhadap apa yang kamu kira baik atau buruk. Jika semua sudah dilalui dengan proses penuh pertimbanga, maka daya emosional itu akan menuruti logika kita. Kembali ke kawanku tadi, mantannya aku tanyai perihal apa yang diceritakan kawanku. Dan ia bilang, “Kawanmu itu brengsek. Dia selingkuh.” “Aku tak percaya padanya soal hubunganmu. Aku percaya ingatanku masih berfungsi.” kataku.