Surat Mantan Terakhir

Langit menggantungkan bulan di luar jendela. Terlihat dari dalam oleh sepasang mata yang kuat. Dengan selang infus yang menancap di pembuluh darahnya, ia berusaha tetap sadar, duduk dan menulis beberapa surat. Mungkin ini surat terakhirnya.

Aliran_Seni_Lukis_Romantisme

“Aku ingin berterus terang. Bagiku, dunia ini tidak lain adalah neraka yang takdir baiknya hanya dititipkan kepada orang beruang. Mereka bisa bersekolah. Membeli buku apapun yang bisa meningkatkan derajat. Makan haruslah teratur tiga kali sehari dengan kadar kandungan yang kaya protein dan vitamin agar kekokohan tulang bisa bertahan lama dan tak mudah lapuk tergerus usia. Jika boleh hidup ini aku memilih, aku ingin tidak hidup dalam keadaan yang buruk. Paling buruk sekalipun.”

Matanya memejamkan beberapa waktu sebelum ia menguatkan jemarinya menulis tulisan lebih panjang.

“Tuhan tak limpahkan aku harta kecuali sedikit rupa yang menarik perhatian para gadis yang kutemui. Sudah genap usia ini enam puluh tiga tahun, mengikuti sunah nabi. Tak terhitung berapa gadis yang sudah mencium bau dadaku. Tak terbayang berapa wanita yang telah menjalin kasih denganku di kamar kecil kumuh 3 x 4 hanya untuk bertukar bibir sampai subuh.”

“Renika. Mantan pertamaku. Seorang yang mengajari aku melihat dunia dari sebuah sudut pandang positif. Dia tidak perawan sejak umur 10 tahun karena dapati pelecehan seksual dari guru sekolahnya. Nyatanya gurunya punya kelainan; exhibitionist. Dia memutuskan lepas dari keluarga karena tak kuat dengan penghakiman tetangga. Di sekolah dia tak ada tempat aman. Setiap hari yang ia dengar hanya hujatan bahwa masa depannya hanya akan ditampung dunia hitam karena tak perawan. Dia temukan aku dalam keadaan hampir mati di dekat toko kelontong karena kercacunan sisa makanan yang kuambil dari tong sampah. Dia memacari aku. Dia bilang, hidup ini sudah menyusahkan. Jika diri belum berani untuk menatap mati, bertahanlah sedikit lebih lama dengan cara manusia. Dia jadi pelacur pada umur dua puluh tahun. Selama berpacaran denganku, aku jadi tukang ojek sekaligus body guardnya. Dia mengajari aku bagaimana menaklukkan laki-laki dengan monopoli bahasa. Waktu itu, aku masih depalan belas tahun.”

images

“Setelah putus dari Renika karena dia akhirnya bertaubat setelah terjangkit raja singa, aku diumpankan pada Malika. Seorang anak politikus yang terjerumus lingkaran mafia. Ketika kali bertemu denganku, ia katakan wajahku mirip kekasihnya yang mati tertembak saat transaksi narkoba. Aku akhirnya berpacaran dengannya selama 2 tahun. Selama itu, dia ajari aku bagaimana menjalin sebuah kelompok yang militan. Bagaimana melihat kelicikan politik ayahnya. Meskipun dia begitu kaya, dia bilang dia penganut sosialisme. Dia bahkan bilang tak pernah sekalipun membenci rakyat miskin. Dia benci orang kaya yang kerjanya memeras rakyat kecil. Kupikir dia sangat gila, 26 tahun dan memiliki hampir seratus anak buah.”

“Hubunganku setelah dengan Malika. Aku mulai mencari pasangan yang sesuai dengan kebutuhanku. Banyak hal-hal yang bisa aku jadikan pelajaran dari orang-orang ini. Persetan dengan cinta. Perempuan yang aku tiduri semua adalah sekolah. Mereka begitu jujur dan memberikan aku segalanya. Ilmu dan pengalaman. Mulai dari seorang dokter, seorang mahasiswi filsafat, aktifis feminisme, semua telah masuk ke dalam diriku hingga akhirnya terbangunlah aliansi para preman arus bawah ini. Kelompok yang aku buat untuk melindungi para wanita dari kejahatan seksual dan kebejatan nafsu.”

Rangga berhenti menulis. Diambilnya segelas air putih di dekatnya untuk menghilangkan perkabungan dari semua mantan pacarnya yang sudah mati. Air yang mengalir lewat tenggorokannya seolah memberikan penghidupan bagi dia. Sebuah tenaga baru.

Baru dia hendak lanjutkan suratnya, seorang dokter datang dari balik pintu untuk memeriksa kondisi darahnya. Rangga sudah lima tahun mengalami cuci darah. Untung sekali mantan pacarnya semua bersatu mendirikan sebuah yayasan sebagai donatur kesehatan para gelandangan. Jadi, Rangga merasakan obat yang ia telan setiap hari serasa cinta yang hangat dan menguatkan.

“Bapak harus tidur. Besok bisa bapak lanjutkan lagi.” Saran Dokter Susan.

Dengan dengusan napas, ia baringkan diri dengan bantuan dokter Susan. Diraihnya selimut untuk segara pergi tidur. Apalah daya beberapa surat yang tak rampung menahan matanya. Jangan tidur dulu, pikirnya.

Ia berdiri dan kembali membuka buku catatan. Masih ada satu halaman tersisa. Dia habiskan malam itu juga.

“Biar aku lanjutkan. Entah kenapa kata-kata pada lembar terakhir ini begitu tak sabar ingin segera ditulis. Jadi kita mulai saja. Semua mantan yang sudah menjadi pengalaman dan bagian dari perjalanan berdarah ini tidak akan pernah aku lupakan. Mereka yang membuka mata pada diriku bahwa hidup ini harus dihadapi. Mau bagaimanapun pedihnya. Kita akan menjadi buah dari masa mendatang. Kita akan mati dan berinkarnasi menjadi ingatan. Jika aku tak bertemu mereka, aku tak akan sampai pada titik ini. Jadi, jikalau kalian nanti baca suratku ini. Aku ingin kalian berbaiklah pada keluarga kalian. Jangan tunjukkan kebengisan kalian di mata anak kalian yang lugu. Berikan perhatian lebih. Didik mereka sampai mengerti keadilan. Dan,,,”

Belum sampai pada akhir tulisan semua jadi begitu hitam. Rangga tak lihat apa-apa lagi kecuali cahaya putih yang mulai membesar. Seolah-olah  cahaya itu menjelma tangga yang bisa saja mengantarkan dia ke arah berantah.

***

Kerumunan berjaket lengkap dengan senjata di tangan sudah memenuhi seluruh sudut rumah megah itu. Rumah miliki seorang ketua mafia yang sudah berpuluh tahun tak bisa diendus keberadaannya. Setelah berjalan pengintaian dan persiapan penyerangan, seorang polisi berhasil masuk dan menembak mati kepala mafia itu. Tubuhnya roboh kelantai dengan ciprtana darah di mejanya, tak sedikit membasahi kertas-kertas yang seperti tintanya masih baru.

Era Digital dan Menurunnya Fungsi Otak

Kamu bisa lihat setiap hari di twitter. lihat kolom trending. Tagar apa yang sedang naik? Perhatikan dengan seksama apakah kamu akan ikut menuliskan tagar tersebut demi mencari perhatian follower atau memang topik tersebut menarik perhatianmu untuk terlibat didalamnya. Atau kamu mau lihat YouTube dengan pesona trending yang bisa mengganggu selera makanmu di atas meja karena yang berada di posisi atas berisi konten ‘prank’ yang kaukira sampah. ladolcevita_mayo1

Semua informasi di dalam internet kini menjelma ombak tak tenang. Setiap sapuannya mengantarkan berbagai macam topik yang tak terhitung jumlah. Beberapa isu mungkin sangat menarik untuk disimak, sedangkan yang lain seperti sampah. Titik fokus pada tulisan ini sebenarnya bertumpu pada kekacauan kita memproses seluruh informasi yang ada sehingga berpengaruh pada cara berpikir kita.

Kita tidak pernah mengharapkan untuk memikirkan apa yang dibuat orang di dunia maya sebagai trending topik. Namun, dengan dukungan segala elemen media yang bisa menjadi wartawan saat ini, satu isu saja bisa sangat begitu menyesatkan. Mulai dari kopi sachet yang memercikkan api saat terkontaminasi dengan api, maka kemudian orang beranggapan bahwa kopi tersebut berbahaya. Kita tidak sempat berpikir untuk melihat kandungan apa saja yang ada dalam kopi yang memang bisa bereaksi pada api. Informasi dibuat seabu-abu mungkin, penuh gimik, dan topik yang kontroversial agar mendapatkan traffic pengunjung.

Bisakah kita sekarang hidup tenang dengan perenungan sendiri? Sudikah kita bercerita pada sanak teman atau keluarga untuk masalah pribadi? Kita lebih memercayai mediasi virtual daripada verbal. Seolah cara ini merupakan bentuk dari depression healing. Sebuah ruang dengan skala tutur yang sempit. Kenapa kita bisa begitu nyaman dengan itu? Karena kita terbiasa mendapatkan informasi sepotong demi sepotong. Tidak menyeluruh. Inilah yang akhirnya membuat kita tidak bisa merenungkan sebuah isu dari berbagai macam pertimbangan.

Kita juga tidak terbiasa berpikir untuk mencari sebab-musabab dari sebuah isu. Kita hanya tahu ‘copy paste’. Kita lelah  memikirkan sesuatu yang terlalu rumit. Kita terbiasa pada kemudahan. Maka, inilah yang sebenarnya mereduksi ‘logical reasing’ kita. Jarang kita tanyakan kenapa kita bisa begitu jenuh hari ini. Kenapa kita tidak begitu puas meski sudah mendapatkan gaji tinggi. Kenapa kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik pada keluarga di rumah. Bagaimana agar aku bisa bahagia. Bagaimana cara agar aku bisa kerja sesuai passion. Semua pertanyaan ini adalah hal mendasar yang seharusnya kita pikirkan. Atau kamu mungkin memiliki masalah lain yang sekarang kamu hindari karena tak kuat memikirkannya?

tumblr_m5vmuwVyRg1ry8a3ro1_500-3590

logical reasoning berangkat dari kebiasaan dalam berdialektik. Seseorang yang tidak terbiasa untuk bermusyawarah, tidak terbiasa berkomunikasi interpersonal, dan mungkin hanya berlaku sebagai pasif komunikan akan depresi untuk mencari tahu jawaban dari persoalan diri. Pelarian dari ketidakmampuan ini akhirnya lari pada topik yang dibangun orang lain. Sehingga, habis waktu kita untuk memikirkan sesuatu yang tidak pernah menjawab pertanyaan alamiah kita sendiri.

Beristirahatlah. Temui keluarga dan teman. Kenali apa masalah kita. Ceritakan. Kenapa bisa terjadi dan bagaimana menyelesaikannya. Kita perlu waktu untuk merenung. Karena merenung memberikan ruang bagi kita agar mengenal diri sendiri yang tidak akan diwakili oleh platform manapun.

Rumah Bagi Setia

Aku hapal kedua bola mata itu. Geraknya yang terlatih perlahan. Menguliti pandangan mata siapapun yang menghadapinya. Matanya tidak beralih dari tempat dimana aku sekarang berdiri. Ia duduk dengan kedua tangan ditopang lengan kursi. Raut wajahnya seperti biasa, sedikit basah dan dingin. Kita berdua terjebak di satu ruangan yang terkesan asing namun juga terasa sangat hangat. Di luar sana tidak terdengar apa-apa kecuali riuh cuit burung yang bersuara tak seperti biasa. Seperti mantra.

Untitled

“Sudah kubilang, jatuh cinta dan setia itu berbeda.” Kalimatnya memecah keheningan yang dari tadi menyelimuti kami. “Seharusnya dia tahu bahwa aku mungkin tidak pernah mencintainya.”

Sebelum ia meneruskan, kuberanikan diri memotong kalimatnya. Kutanyakan apa yang membebani kakinya hingga tak beranjak dari ia duduk. Sudah hampir setahun. Dan pagi tadi, ia juga sudah tidak menyiapkan kudapan untuk tamu undangan. Ia hanya duduk. Mengunci diriku dengan dua kosakata antara cinta dan setia.

“Yang dilempar ke dunia ini hanyalah cinta. Ia tumbuh meranggas seperti rumput yang tak pernah kau harapkan. Kata itu telah membatukan manusia menjadi parasit pohon-pohon di sekitar.” Tidak bisa kupahami benar apa yang dikatakannya. Raut wajahnya tak berubah sama sekali. “Sedangkan  setia berbeda. Ia tumbuh di tempat lain. Mungkin di jurang yang menciutkan nyalimu. Bisa jadi di atap gedung yang tak sampai ditangkap matamu.”

Kurasa rangkaian kalimatnya terlalu mengandung pertanyaan. Ia tak biasanya berkata dengan pilihan kata seperti itu. Apakah ia tengah mengigau, aku tak tahu. Biar saja aku dengar sampai mana ia akan mengakhiri kalimatnya.

“Kau tahu kenapa sekarang kita berdua ada di sini? Jika saja aku tanyakan apakah kau mencintaiku, mungkin pikiranmu akan berusaha mencari alasan. Bisa jadi. Mungkin juga kau setia padaku. Aku juga tak tahu.”

Aku sudah tak sabar lagi. Kepalaku pusing menerima jejalan kalimatnya yang datang menghujam. Aku perhatikan dinding ruang itu. Tidak ada pajangan lukisan apapun. Hanya ada gambar aku di sudut dinding, dan lukisan ia di sudut yang lain. Hampir setiap perabotan di sini sangat akrab bagiku.

“Bisa kau permudah?”

“Aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Bahkan lebih dalam dari kegelapan. Aku sumpahi diriku sendiri untuk menggandeng tangannya. Menemani dia mencapai segala obsesinya. Aku adalah baju bagi dirinya. Tapi apakah kau tahu?” Dia menrubah sorot matanya. Semakin tajam.

“Aku harus berulang kali menyakiti diri sendiri. Cinta ternyata bukan jaminan. Cinta adalah rumput meranggas. Akhirnya aku berhenti mencintainya.”

Kalimat terakhirnya membuatku bingung. “Lalu bagaimana selanjutnya?”

Ia menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan. “Aku beranikan diri menaiki gedung yang tinggi sekaligus terjun ke jurang yang dalam.”

Sepertinya aku mulai mengerti kemana arah perkataannya. “Jadi kau putuskan untuk setia?” Dia mendehem, lantas mengangkat wajahnya, tersenyum. Tandanya pertanyaanku benar.

“Waktuku tidak akan banyak untuk sekedar mengajarimu apa itu setia. Kau hanya perlu tahu. Bahwa engkau hidup sebagai penggembala. Kau gembala kecil yang menggiring peliharaan pikiranmu sendiri.”

Aku rasakan angin mulai menyelimutinya. Menghembuskan kulitnya. Aneh! Aku perhatikan kulitnya mengelupas sedikit demi sedikit. Ia seperti patung yang rapuh. Baginya sendiri, ia seolah tak merasakan apa-apa.  Apakah pandanganku saja yang semakin kabur?

“Setelah kau dengar keteranganku. Kau akan sulit untuk jatuh cinta. Kau seperti kekasihku. Kau orang yang terlalu larut dalam angan-angan. Kau rakus!” suaranya merendah, membuatku harus sedikit kepayahan menangkap kata demi kata.

Tiba-tiba saja tubuhnya yang basah menjadi kering dan berdebu. Mula-mula tangannya yang ditopang kursi berhamburan menjadi serpihan tanah. Kakinya mulai ditumbuhi batangan mawar. Dan tubuhnya mulai ditumbuhi daun-daun. Lengan kursi itu menjadi sepasang nisan yang menuliskan dirinya sendiri dengan nama yang selalu memecahkan kaca di mata. Tiba-tiba saja semua menjadi putih. Beberapa waktu. Satu, dua, tiga, hingga beberapa waktu.

Di luar telingaku aku dengar orang-orang mulai melangkah menjauh dari pemakaman. Sedang kurasakan tubuhku masih terduduk melamatinya.

“Mungkin aku tahu sekarang kenapa aku masih bisa mengangkat kaki ke sini. Cinta hanya rumput ranggas. Setia sendiri jadi kegelapan yang dalam.” Kuraih ponsel di sakuku. tertulis disana seseorang mengirim pesan. “Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin.” Kujauhi tempat itu. Melihat sekeliling. Rasanya seperti di sinilah jurang bagi kehidupan dalam ruang yang berbeda. Terima kasih. Idul Fitri tahun ini kita hanya berkirim setia.

Apakah Aku Hidup Untuk Dilupakan?

Tulisan ini ditulis pada hari – 30 Ramadhan 1440 H/ 2019. Tulisan ini juga tidak akan menyinggung anjuran agama. Tulisan ini mengajak Anda sedikit menengok kejadian masa lalu tentang dunia dan kejadiannya.

Bisakah Anda memprediksi berita atau topik apa yang akan lahir sampai akhir Desember nanti? Biar saya ajak Anda mengingat. Perayaan lebaran, isu tentang peresmian presiden. Hukum mengucapkan Hari Natal bagi Muslim atau hukum merayakan Tahun Baru. Semua itu adalah prediksi yang dihitung dari ukuran periode.

Maksud saya begini, banyak dari kita yang hidup pada zaman milenial mengalami kemunduran dalam mengamati dunia. Dunia yang ada dalam diri kita. Kita seolah lebih mengenal orang lain daripada diri kita sendiri hanya dari omongan media yang mengambil data dari ‘menurut’.

Mundur ke belakang, saya tertarik mengutip salah satu esensi cerita dari Frank kelada Vera dalam “Dunia Maya” yang dikisahkan Jostein Gaarder. Ia menyebutkan “Kita bisa hidup lebih lama untuk mengingat masa lalu. Tapi kita tak pernah bisa hidup di masa depan.”

Kita melihat, alam dunia ini terus memberikan masa demi masa. Manusia pertama dihidupkan dan jatuh ke bumi bersama kekasihnya. Peradaban dimulai dari waktu ke waktu. Nama-nama dan bahasa kemudian disepakati untuk menghayati dunia. Mungkinkah mereka memikirkan kita yang hidup jauh sebelum mereka? Adakah mereka pernah membicarakan pakaian seperti apa yang akan kita kenakan ini?

Tidak jauh sebelum zaman milenial, sebelum kita mengenal antena televisi yang menjamur di atap rumah, kita adalah orang yang suka bercerita dengan tetangga. Kisah verbal dari mulut ke mulut untuk menghidupkan kisah yang sudah mati. Mungkin tentang Adam atau Hawa. Kita bahkan dibodohi otoriterian presiden kita untuk waktu yang lama. Apakah orang tua kita lantas protes dan seolah terganggu hidupnya? Mereka hanya akan mengeluh pada tetangga. Kuncinya ada pada arus informasi.

Kebudayaan kita adalah budaya tutur. Ini sudah dijelaskan dalam kesustraan Jawa tentang Walisongo yang dakwah dengan pendekatan kultural. Ceramah pastur. Banyak dari kita telah mati setelah teknologi lahir. Kemudahan ini membuat kita menjadi aladin atau doreamon, bisa jadi Jin zaman Sulaiman. Kita mendapat informasi yang terus menerus berubah dalam waktu yang singkat dan cepat. Kita terpaksa mengikuti itu semua.

Akhirnya, kita banyak menghabiskan waktu untuk mengenal kehidupan luar. Jauh itu, kita mulai tidak mengenal sebenarnya hakikat kita. Ramadhan ini akan diganti topik THR. Lantas masihkah kita akan menjaga kebudayaan temporal selama 30 hari ini?

Kita bisa belajar dari kitab suci. Kitab suci memberikan peluang bagi kita untuk mengenal dunia sebelum kita. Menjaga kematian dan kisahnya. Menjaga kebaikan dan keburukannya. Ini menjadi refleksi kita agar kita bisa mengetahui latar belakang diri kita. Perayaan periodek telah menjadi makanan kita sehari-hari. Kita dididik dunia untuk memikirkan hari ini dan esok. Kita tidak diajarkan untuk menentukan alasan apakah hari ini dan esok dibentuk dari kemarin.

Pada akhirnya, kita yang hidup tidak akan menjadi cerita apapun. Kita tidak akan diberkahi cerita apapun. Kita akan mati menjadi hantu. Tidak menjadi cerita. Tidak menjadi mitos. Kita menjadi butir pasir peradaban yang ditinggalkan. Mari kita kenali keluarga kita. Kita bangun hidup kita dengan versi kita. Kita adalah buah yang matang dari tangkai yang mengeluarkan buah matang sebelum kita.

Ditulis: Muhsin Ibnu Zuhri

Sebelum Kita Diwisuda

Apakah tahun ini jadi tahun Anda akan diwisuda? Jika memang benar, saya ingin bertanya. Apa yang Anda dapatkan selama menjalani rutinitas sebagai mahasiswa? Saya ingin mengajak Anda bercerita sedikit tentang pandangan saya terhadap cara kampus mendidik saya dan beberapa orang lain yang hampir mirip dengan saya.

fda6307c-150d-4631-bc57-0f79638fa000

Dulu saya tidak pernah punya bayangan apapun  kenapa saya mengambil jurusan studi pendidikan bahasa Inggris. Tidak pernah terlintas dalam benak saya akan menjadi seorang pengajar. Awalnya saya ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional atau setidaknya sastra. Jangan dibandingkan dengan jurusan lain yang lebih menjamin masa depan seperti kedokteran atau sipil. Menjadi calon pendidik, kita diajari masuk ke dunia pikiran murid. Anda bisa bayangkan, Anda dicetak empat tahun untuk menjadi seorang guru. Apa enaknya jadi guru? Intinya saya belum siap menjadi guru.  Entah jika Anda yang sangat mendambakan pekerjaan mulia tersebut.

8ddb299c-d0d2-495a-b9e1-61f1cd23727b

Sebelum saya benar-benar dikatakan sebagai alumni, saya ingin Anda tahu. Kampus mungkin hanya tempat menghabiskan waktu. Ini anggapan subjektif saya saja. Saya bukan tipikal orang yang suka masuk ke kelas, memerhatikan penjelasan dosen, atau menjadi pengamat presentasi teman sekelas. Saya lebih suka memandang siapa teman wanita yang cantik dan bisa diajak berkencan. Atau seperti teman saya, dia lebih suka ikut organisasi daripada harus susah payah menerima diri dihina dosen berkali-kali karena nilai akademik sangat rendah. Mungkin juga, jadi kawan saya yang sangat mengedepankan nilai akademik dan membayangkan dandanan paling pas untuk wisudanya nanti. Silakan sebut jenis teman Anda yang lain.

a9a63e83-696f-4529-9428-cf87f82f842f

Apakah Anda benar-benar orang yang merasakan manfaat dari sistem perkuliahan? Atau Anda mungkin sependapat dengan saya. Perkuliahan memberikan pengalaman untuk mengenal ketidakmampuan kita. Saya bahkan tidak hapal lagi pelajaran apa yang diajarkan di semester 3,4, dan seterusnya. Yang saya ingat hanya teman kencan saya di kelas. Berapa banyak teori yang masuk ke kepala kita lantas menunggu untuk dienyahkan? Ini adalah cara sistem kelas bekerja.

IMG_1520Mungkin Anda akan lebih suka menjalani kehidupan kampus yang lain. Menjadi seorang pembangkang, kritikus, atau hanya menjadi anak senja yang perlu waktu sendiri untuk memasak puisi. Saya berkaca pada teman saya. Satu angkatan saya ada lebih dua ratus orang. Mendekati waktu wisuda ini, saya bisa dapati banyak dari teman saya keluar dari arah jurusan. Bisnis voucher, bekerja di spa, penjual online, kritikus, pengurus partai, Pembina LSM, barber, atau pekerjaan lain yang akhirnya mereka geluti. Mendekati wisuda seperti ini, tidak ada dari kita lantas membicarakan betapa senangnya kita di dalam kelas atau mengingat materi kuliah. Kita suka membincangkan tentang hal di luar itu.

IMG_3301

 Lalu untuk apa kuliah? Untuk melengkapi transaksi kita membayar uang semester. Saya hanya ingin mengajak Anda menikmati hari-hari Anda dengan kenangan yang baik. Hal ini jadi alasan mendasar berapa banyak teman seperjuangan kita yang lantas bingung mau berbuat apa setelah diwisuda. Mereka tidak punya kenangan. Mereka tidak mengenal ketidakmampuan mereka. Mereka hanya mengenal nilai di ijasah dan motivasi dari visi dan misi kampus.

Bulan depan saya mungkin akan diwisuda. Mungkin juga Anda. Sudah Anda lihat kembali kenangan apa yang Anda dapati selama tahunan kemarin? Semoga dari kenangan itu kita bisa tahu ada banyak hal yang bisa menjamin kehidupan kita masa mendatang. Menghabiskan waktu dengan banyak teman dan kenangan adalah cara terbaik menata masa depan kita. Sistem kuliah? Itu hanya layanan karena kita terdaftar dan membayar.

Nasehat Kecil untuk Tidak Merendahkan Orang Lain

Saya sering mendapat gunjingan atas segala keburukan dalam diri saya. Kadang cibiran lalu-lalang seperti pemudik di negara berkembang. Bertambah dan terus bertambah. Awalnya saya sangat tidak suka dengan cibiran tersebut. Namun tetap saja saya tidak bisa mengatasi keburukan saya sendiri. Di lain hal, seorang kawan saya sangat merasa bahwa dia tahu segalanya. Dia kadang mengatakan apa yang tidak saya tanyakan. Di setiap perjumpaan, dia selalu mengkritik siapapun yang tidak mengenakkan pandangannya. Saya pikir dia orang yang sempurna.

_107090686_amienraisdua

Setiap orang berhak menilai orang lain. Terutama di dunia baru yang tak perlu melihat wajah. Jari lebih peka bersuara daripada logika. Di sosial media kita berhak mengatakan apa-apa. Mungkin ini yang disebut kebebasan berpendapat. “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” (UUD 19945 pasal 28E ayat 3). Hanya saja, cara berpendapat kita akhir-akhir ini melewati batas kewajaran.

Seorang anak kehilangan gairah belajarnya karena lantas dikatakan bodoh oleh gurunya. Tidak ada yang tahu bagaimana anak berupaya sekuat tenaga mengerjakan tugas yang diberikan. Tidak ada yang tahu bagaimana si anak harus membagi waktu belajar dan membantu orang tua yang berkeringat membiayai tagihan bulanan pendidikan yang kian hari makin membengkak. Sebaliknya, seorang guru dipukul oleh wali murid. Kasus yang sering muncul ke permukaan adalah guru melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Sebagai orang yang membayar, tentulah layanan pendidikan harus sesuai dengan ongkos yang dikeluarkan. Tidak ada yang tahu bagaimana si murid mengejek si guru ketika di kelas. Tidak ada yang tahu bagaimana guru sudah memperingatkan berulang kali agar memerhatikan unsur-unsur kesopanan. Sekali lagi, fakta adalah aib yang abu-abu.

Bulan lalu marak lewat sosial media dalam kaitannya pawai kampanye calon presiden. Sosial media jadi jalan pintas menaklukkan lawan dengan mempermainkan opini publik. Caranya jelas, memberikan isu-isu yang belum tentu benar. Sebenarnya, bagi pembaca yang budiman, mereka sangat tidak suka dengan cara kekanak-kanakan isu tersebut. Kita jadi seolah pribadi yang pantas mengatakan orang lain buruk. Hal tersebut bahkan menyinggung sendi-sendi personal. Agama, suku, ras, kekelaman masa lalu, bahkan sampai status hak sipil.

Kebabasan berpendapat, HAM, dan hukum menjadi senjata untuk menjatuhkan orang lain. Lebih mendalam, kita mulai membandingkan posisi kita lebih baik di mata tuhan. Kita berlomba untuk menarik simpati Tuhan bahwa kita adalah orang yang mulia dengan cara hidup kita. Orang yang belajar ilmu yang tak menyentuh realita kemanusiaan. Orang yang dipengaruhi jaminan kebahagiaan hakiki atas nama agama. Orang yang merasa hebat karena lingkaran kasta dan kekuasaannya. Semua itu lantas menjadi satu kelebihan kita yang terus kita banggakan.

Dengan kecenderungan mencari kelemahan orang lain, akan terus menyombongkan diri kita. Narsisme yang berlebihan. Panjat sosial yang kelewatan. Akankah masa depan lantas akan damai? Bisakah kita hidup nanti dengan sederhana. Menikmati sore hari dengan meminum teh bersama kekasih di kebun belakang rumah. Keluar malam dan pulang pagi tanpa ada yang menjelekkan pekerjaan kita?

Saya jadi ingat dengan Jostein Gaarder yang menceritakan Frank dan Vera yang berbagi ramuan keabadian. Apakah yang akan mereka cari dari keabadian itu. Berapa banyak masa lalu yang akan mereka tinggalkan di jalan-jalan. Semakin lama hidup kita, akan semakin banyak urusan yang perlu kita selesaikan.

Saya akan memberikan satu saran yang dikutip dari Syeh Abdul Qadir Jailani yang mungkin relevan untuk kita saat ini. Pesan yang belia sampaikan termaktub dalam kitab nashaih al-ibad.

  • Jika kita bertemu dengan orang lain

Tanamkan pada diri kita bahwa orang lain itu memiliki pribadi yang baik. Banyak kebaikan yang ia sembunyikan dari mata kita. Ia pasti lebih baik dari kita di mata manusia dan Tuhannya.

  • Jika kita bertemu dengan anak kecil

Anak kecil selalu kita anggap remeh. Anak kecil memang tidak akan melampaui kita dalam kaitan keilmuan atau rasionalitas berpikir. Tapi, anak kecil punya kemungkinan dalam melakukan kejelekan lebih sedikit dari pada kita yang hidup lebih lama. Ia pasti lebih baik derajatnya.

  • Jika kita bertemu dengan orang tua

Orang tua lebih punya banyak waktu untuk menghadiahkan banyak kebaikan di hidupnya. Kebaikan yang ia lakukan sebelum kita. Tentulah ia hidup dengan limpahan kemuliaan atas apa yang ia lakukan selama di dunia. Soal derajat, ia pasti lebih tinggi dari kita yang baru hidup beberapa waktu.

  • Jika kita bertemu dengan orang berilmu

Orang berilmu adalah orang yang memegan sendi hakikat kebaikan dunia dan fana. Tentulah orang yang berilmu banyak menyebar manfaat kepada orang lain. Lantas bagaimana mungkin kita bandingkan dengan orang-orang macam kita yang malas belajar. Kita dididik kemalasan dan kepongahan. Tentulah orang yang berilmu lebih baik dari kita.

  • Jika kita bertemu dengan orang tidak tahu

Orang yang bodoh adalah orang yang tidak tahu. Tuhan tidak menghitung dosa bagi orang yang tidak tahu. Bagaimana dengan kita yang tahu dan melanggar aturan-Nya? Berapa banyak kita menipu Tuhan untuk melanggar aturannya sedangkan kita sendiri paham bahwa yang kita lakukan adalah salah?

  • Jika kita bertemu dengan orang yang beragama lain

Kita tidak pernah tahu akhir masa dari manusia. Bagaimana keadaannya. Bisa jadi orang yang kita temui akan berakhir dengan iman yang sama dengan kita. Bisa jadi kita menjadi orang yang meninggalkan iman di akhir usia. Kita tidak tahu.

Kita adalah gumpalan daging yang berpikir. Kita menggenggam hakikat hidup yang sama. Apakah lantas kita selalu lebih baik dari orang lain? Kita hanya perlu terus berkata dan berlaku baik. Itu saja.

Apa Salahnya Pura-pura Bahagia

Sebelum Anda baca tulisan ini sampai kata terakhir, tanyakan satu pertanyaan kepada diri Anda sendiri “Apakah aku pernah benar-benar merasa bahagia dengan tulus?”

a075bffe0c83199e

Mungkin agak terkesan pesimis jika membaca judul tulisan ini. Benar adanya. Saya ingin mengajak Anda mengenal kepura-puraan Anda yang sesungguhnya. Bagaimana Anda mengartikan makna dari kata ‘bahagia’ dengan cara yang tulus. Mengenal dengan baik bahwa wajah kebahagiaan kita sering sekali berpura-pura. Kepura-puraan yang kita bagikan pada dunia.

Suatu hari seorang ibu keluar rumah. Kakinya melangkah kearah pasar untuk membelikan anaknya baju baru untuk lebaran. Sebelumnya, sudah dikatakan jikalau tahun ini hasil dari penjualan warteg ibunya tidak begitu laku. Sang anak sudah tidak sabar mengenakan baju merek terbaru, seperti milik teman-temannya. Sehingga nanti jika waktu sholar Idul Fitri tiba, si anak tidak merasa berbeda dengan teman-temannya. Si ibu coba mengatur ulang pengaturan keuangan supaya uang jatah bulanan bisa untuk membelikan makanan lebaran sekaligus baju bagi anaknya.

Si ibu itu kemudian keluar masuk beberapa toko untuk melihat jenis pakaian paling terbaru. Dia tidak berencana membeli barang satupun. Ia berpikir, ia akan membeli kain dengan warna nada serupa dan menjahitnya sendiri di rumah. Untung, di rumah masih ada mesin jahit yang bisa digunakan. Setidaknya, bisa menghemat pengeluaran. Si ibu mencoba menyembunyikan tindakan ini dari anaknya.

Waktunya tiba, anak menagih. Ibu sudah bisa memberikan baju tersebut. Dua potong baju. Satu baju taqwa dengan motif bunga bordir, dan satunya lagi kemeja dengan warna navy dengan motif emblem. Mulanya, si anak sangat bahagia. Dia tidak menyangka yang tadinya hanya meminta satu potong baju saja, akan tetapi ibunya membelikannya dua potong sekaligus. Waktu lebaran tiba, si anak keluar bersama teman-temannya, main petasan, dan menghabiskan uang amplop dari tetangga untuk membeli mainan yang sudah parker di pertigaan gang.

Di satu siang yang terik, Ibu meminta si anak lekas pulang. Ditanyanya ia apakah ia suka dengan model bajunya. Si anak hanya menganggukkan kepalanya. Si ibu lantas manarik senyum lega. Lebaran kala itu terlewati dengan sempurna.

Waktu berjalan, si anak mulai dewasa. Ia sudah 21 tahun. Ibunya sudah 65 tahun. Ibu sudah tidak bekerja. Dia lebih suka duduk di kursi goyang menghadap jendela sambil merajut kain untuk dijadikan sapu tangan atau hiasan saja. Si anak sudah bekerja dengan tingkat kesibukan yang bisa dibilang tinggi. Intensitas pertemuan keduanya kali ini sangat sedikit. Si anak harus pulang-pergi keluar kota mengirim barang. Si ibu di rumah sendiri dengan bayangan masa anak-anaknya.

Suatu ketika saat anak pulang kerja, dan ibu sedang tak kuasa menahan rindu, ibu bertanya pada si anak. “Kamu lebaran nanti mau dibelikan baju?” kata ibu. Si anak mendehem bernada menolak. “Sudah, Bu. Tidak usah. Nanti aku bisa beli baju sendiri. Kalau mau, Ibu nanti aku belikan gamis baru.” Jawab si anak dengan senyum teduh. Mendengar perkataan itu, ibu mengarahkan wajah ke sudut lain. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Yasudahlah.” Sudah sejak anaknya mandiri, dia lebih suka menikmati kehidupan di luar rumah. Beberapa kebutuhan memang terpenuhi, tapi tidak sepenuhnya terpenuhi.

Di sore yang meremang. Si ibu naik angkutan umum ke pasar. Ia menghampiri salah satu toko milik tetangganya yang menjual baju. Di tangannya ada beberapa potong baju yang sudah ia jahit untuk dijadikannya baju lebaran anaknya. Tapi, nampaknya si anak lebih suka baju keluaran pabrik. Dia menjualnya. “kau bisa jual dengan harga teserah kau. Bisa juga kau ganti pakai label jualanmu tak masalah.”

Lebaran kembali menghampiri, dan si anak membuat ibu benar-benar tersenyum. “Bajumu bagus.” Si anak menjawab dengan ramah, “Iya beli dari Wak Narman. Halus. Jahitannya juga rapi.”

“Kau tampan. Simpan baik-baik baju itu. Jangan sampai rusak. Sudah dibeli dengan mahal-mahal.”

Akhirnya, setiap lebaran si anak tak lagi membeli baju baru karena dia sudah cukup mengerti pengelolaan uang. Dan di setiap lebaran sejak itu, si anak selalu mengenakan baju yang ia beli dari tetangganya.

Ini cerita yang sangat sederhana. Tapi, bisa kita bayangkan bagaimana lantas si ibu berulah seperti kebahagiaan dirinya teramat tulus? Mungkin kata ‘tulus’ mampu lahir bila saja si anak tahu bahwa baju itu milik ibunya untuknya. Tapi, bukankah si ibu tetap berbahagia? Meski tidak sepenuhnya.

Bahagia adalah entitas yang tak terindera. Terkadang, kita bisa bilang satu waktu itu kita teramat sangat bahagia. Seiring waktu, kita jadi tidak berbahagia lagi. Bahagia adalah keadaan yang sangat temporal dan tidak tetap. Inilah yang disebut sebagai kebahagiaan.

Sekarang, banyak pembicara mengatakan jalani hidup ini dengan bahagia. Mungkin lagi, bisa kita ambil pelajaran baik dari kata bijak, hadapi semua dengan senyuman. Secara simbolis, senyum adalah lambang kebahagiaan. Tapi, seseorang sebenarnya sulit benar-benar mengukur keaslian dari bahagia. Bayangkan, semakin dewasa kita dihimpit kebutuhan dan tanggung jawab. Dua hal itu sebenarnya adalah wujud yang tidak ingin kita tanggung sepanjang waktu. Ini adalah takdir. Ini adalah gejala semesta. Dan kita hanya bisa menerimanya. Lantas bagaimana cara kita bisa mengenal bahagia yang tulus. Sebuah rumus terminologi yang rumit untuk diurai.

Mungkin, kita tidak bisa selalu dalam keadaan bahagia. Kita akan dihadapkan pada situasi yang sering membuat kita merasa terpojok dan terpuruk. Lantas apa yang perlu kita lakukan? Menolaknya? Tidak mungkin. Terima kesedihan itu dengan lapang dada. Seperti Svend Brinkmann, seorang psikolog, mengatakan orientasi pada kebahagiaan yang berlebih hanya akan membuat emosi kita kecil. Hanya saja, saya tidak begitu tertarik dengan kecenderungan merasa terus bahaya. Saya lebih suka menerima bahaya tersebut untuk diri sendiri. Namun, di mata dunia, kita harus memberikan apa yang sepantasnya diterima dengan baik, yaitu kebahagiaan.

Kita hanya perlu mencari jalan kecil yang lain yang lebih mudah. Kebutuhan adalah misi yang perlu kita penuhi. Kita perlu mencari cara yang sesuai dengan diri kita agar kita tidak tertekan secara berlebihan.

Meminjam cara hidup orang lain tidak bisa kita jadikan sebagai ukuran. Berapa banyak orang kehilangan kebahagiaannya karena sering menyelami dunia maya. Wadah yang menghujam ketidakmampuan kita. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk bertanya pada diri sendiri. “Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku lakukan dengan mudah? Apa yang bisa aku ambil dari apa yang bisa aku lakukan dengan mudah? Bagaimana aku bisa mendapatkan apa yang manjadi tujuanku mengambil sesuatu dari apa yang bisa aku lakukan dengan mudah?” pertanyaan ini akan sedikit membantu kita mengenal diri kita. Mengenal diri kita tentang kemampuan luar biasa yang kita miliki. Ketidakmampuan kita adalah kemampuan milik orang lain. Mari keluar rumah. Sapa orang-orang yang kita kenal. Mulai hidup dengan pura-pura yang tulus.

Berpura-pura bahagia lebih baik daripada kita mengeluh sepanjang waktu, seolah kita lemah dan tidak berkembang. Bahagia bersifat sementara. Jika kita melewatkan satu kesempatan dengan bahagia, itu tidak akan bertahan lama. Masih ada kesempatan yang menawarkan kita kebahagiaan lain. Dengan cara lain, dengan orang lain, dengan kisah lain, dengan hasil yang lain, dan itulah kiranya ketulusan semesta memberikan kamu kebahagiaan yang pura-pura. Tidak ada salahnya berpura-pura bahagia.

Mungkin si ibu berpura bahagia kini karena gagal mempersembahkan baju rajutannya untuk anak. Tapi, bisa jadi esok hari ibu punya cara lain untuk memberikan anaknya baju rajutan yang lain. “Nak, ibu punya baju buat kamu. Gak kalah bagus sama punya tetangga. Daripada kamu beli baju di luar, kan? Mending gratis dikasih ibu. Nanti kamu bisa beli label di pasar atau ke tukan cetak. Yang penting, kamu tetap tampan dan keren di mata ibu.”