Rumah Bagi Setia

Aku hapal kedua bola mata itu. Geraknya yang terlatih perlahan. Menguliti pandangan mata siapapun yang menghadapinya. Matanya tidak beralih dari tempat dimana aku sekarang berdiri. Ia duduk dengan kedua tangan ditopang lengan kursi. Raut wajahnya seperti biasa, sedikit basah dan dingin. Kita berdua terjebak di satu ruangan yang terkesan asing namun juga terasa sangat hangat. Di luar sana tidak terdengar apa-apa kecuali riuh cuit burung yang bersuara tak seperti biasa. Seperti mantra.

Untitled

“Sudah kubilang, jatuh cinta dan setia itu berbeda.” Kalimatnya memecah keheningan yang dari tadi menyelimuti kami. “Seharusnya dia tahu bahwa aku mungkin tidak pernah mencintainya.”

Sebelum ia meneruskan, kuberanikan diri memotong kalimatnya. Kutanyakan apa yang membebani kakinya hingga tak beranjak dari ia duduk. Sudah hampir setahun. Dan pagi tadi, ia juga sudah tidak menyiapkan kudapan untuk tamu undangan. Ia hanya duduk. Mengunci diriku dengan dua kosakata antara cinta dan setia.

“Yang dilempar ke dunia ini hanyalah cinta. Ia tumbuh meranggas seperti rumput yang tak pernah kau harapkan. Kata itu telah membatukan manusia menjadi parasit pohon-pohon di sekitar.” Tidak bisa kupahami benar apa yang dikatakannya. Raut wajahnya tak berubah sama sekali. “Sedangkan  setia berbeda. Ia tumbuh di tempat lain. Mungkin di jurang yang menciutkan nyalimu. Bisa jadi di atap gedung yang tak sampai ditangkap matamu.”

Kurasa rangkaian kalimatnya terlalu mengandung pertanyaan. Ia tak biasanya berkata dengan pilihan kata seperti itu. Apakah ia tengah mengigau, aku tak tahu. Biar saja aku dengar sampai mana ia akan mengakhiri kalimatnya.

“Kau tahu kenapa sekarang kita berdua ada di sini? Jika saja aku tanyakan apakah kau mencintaiku, mungkin pikiranmu akan berusaha mencari alasan. Bisa jadi. Mungkin juga kau setia padaku. Aku juga tak tahu.”

Aku sudah tak sabar lagi. Kepalaku pusing menerima jejalan kalimatnya yang datang menghujam. Aku perhatikan dinding ruang itu. Tidak ada pajangan lukisan apapun. Hanya ada gambar aku di sudut dinding, dan lukisan ia di sudut yang lain. Hampir setiap perabotan di sini sangat akrab bagiku.

“Bisa kau permudah?”

“Aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Bahkan lebih dalam dari kegelapan. Aku sumpahi diriku sendiri untuk menggandeng tangannya. Menemani dia mencapai segala obsesinya. Aku adalah baju bagi dirinya. Tapi apakah kau tahu?” Dia menrubah sorot matanya. Semakin tajam.

“Aku harus berulang kali menyakiti diri sendiri. Cinta ternyata bukan jaminan. Cinta adalah rumput meranggas. Akhirnya aku berhenti mencintainya.”

Kalimat terakhirnya membuatku bingung. “Lalu bagaimana selanjutnya?”

Ia menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan. “Aku beranikan diri menaiki gedung yang tinggi sekaligus terjun ke jurang yang dalam.”

Sepertinya aku mulai mengerti kemana arah perkataannya. “Jadi kau putuskan untuk setia?” Dia mendehem, lantas mengangkat wajahnya, tersenyum. Tandanya pertanyaanku benar.

“Waktuku tidak akan banyak untuk sekedar mengajarimu apa itu setia. Kau hanya perlu tahu. Bahwa engkau hidup sebagai penggembala. Kau gembala kecil yang menggiring peliharaan pikiranmu sendiri.”

Aku rasakan angin mulai menyelimutinya. Menghembuskan kulitnya. Aneh! Aku perhatikan kulitnya mengelupas sedikit demi sedikit. Ia seperti patung yang rapuh. Baginya sendiri, ia seolah tak merasakan apa-apa.  Apakah pandanganku saja yang semakin kabur?

“Setelah kau dengar keteranganku. Kau akan sulit untuk jatuh cinta. Kau seperti kekasihku. Kau orang yang terlalu larut dalam angan-angan. Kau rakus!” suaranya merendah, membuatku harus sedikit kepayahan menangkap kata demi kata.

Tiba-tiba saja tubuhnya yang basah menjadi kering dan berdebu. Mula-mula tangannya yang ditopang kursi berhamburan menjadi serpihan tanah. Kakinya mulai ditumbuhi batangan mawar. Dan tubuhnya mulai ditumbuhi daun-daun. Lengan kursi itu menjadi sepasang nisan yang menuliskan dirinya sendiri dengan nama yang selalu memecahkan kaca di mata. Tiba-tiba saja semua menjadi putih. Beberapa waktu. Satu, dua, tiga, hingga beberapa waktu.

Di luar telingaku aku dengar orang-orang mulai melangkah menjauh dari pemakaman. Sedang kurasakan tubuhku masih terduduk melamatinya.

“Mungkin aku tahu sekarang kenapa aku masih bisa mengangkat kaki ke sini. Cinta hanya rumput ranggas. Setia sendiri jadi kegelapan yang dalam.” Kuraih ponsel di sakuku. tertulis disana seseorang mengirim pesan. “Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin.” Kujauhi tempat itu. Melihat sekeliling. Rasanya seperti di sinilah jurang bagi kehidupan dalam ruang yang berbeda. Terima kasih. Idul Fitri tahun ini kita hanya berkirim setia.

Iklan

Apakah Aku Hidup Untuk Dilupakan?

Tulisan ini ditulis pada hari – 30 Ramadhan 1440 H/ 2019. Tulisan ini juga tidak akan menyinggung anjuran agama. Tulisan ini mengajak Anda sedikit menengok kejadian masa lalu tentang dunia dan kejadiannya.

Bisakah Anda memprediksi berita atau topik apa yang akan lahir sampai akhir Desember nanti? Biar saya ajak Anda mengingat. Perayaan lebaran, isu tentang peresmian presiden. Hukum mengucapkan Hari Natal bagi Muslim atau hukum merayakan Tahun Baru. Semua itu adalah prediksi yang dihitung dari ukuran periode.

Maksud saya begini, banyak dari kita yang hidup pada zaman milenial mengalami kemunduran dalam mengamati dunia. Dunia yang ada dalam diri kita. Kita seolah lebih mengenal orang lain daripada diri kita sendiri hanya dari omongan media yang mengambil data dari ‘menurut’.

Mundur ke belakang, saya tertarik mengutip salah satu esensi cerita dari Frank kelada Vera dalam “Dunia Maya” yang dikisahkan Jostein Gaarder. Ia menyebutkan “Kita bisa hidup lebih lama untuk mengingat masa lalu. Tapi kita tak pernah bisa hidup di masa depan.”

Kita melihat, alam dunia ini terus memberikan masa demi masa. Manusia pertama dihidupkan dan jatuh ke bumi bersama kekasihnya. Peradaban dimulai dari waktu ke waktu. Nama-nama dan bahasa kemudian disepakati untuk menghayati dunia. Mungkinkah mereka memikirkan kita yang hidup jauh sebelum mereka? Adakah mereka pernah membicarakan pakaian seperti apa yang akan kita kenakan ini?

Tidak jauh sebelum zaman milenial, sebelum kita mengenal antena televisi yang menjamur di atap rumah, kita adalah orang yang suka bercerita dengan tetangga. Kisah verbal dari mulut ke mulut untuk menghidupkan kisah yang sudah mati. Mungkin tentang Adam atau Hawa. Kita bahkan dibodohi otoriterian presiden kita untuk waktu yang lama. Apakah orang tua kita lantas protes dan seolah terganggu hidupnya? Mereka hanya akan mengeluh pada tetangga. Kuncinya ada pada arus informasi.

Kebudayaan kita adalah budaya tutur. Ini sudah dijelaskan dalam kesustraan Jawa tentang Walisongo yang dakwah dengan pendekatan kultural. Ceramah pastur. Banyak dari kita telah mati setelah teknologi lahir. Kemudahan ini membuat kita menjadi aladin atau doreamon, bisa jadi Jin zaman Sulaiman. Kita mendapat informasi yang terus menerus berubah dalam waktu yang singkat dan cepat. Kita terpaksa mengikuti itu semua.

Akhirnya, kita banyak menghabiskan waktu untuk mengenal kehidupan luar. Jauh itu, kita mulai tidak mengenal sebenarnya hakikat kita. Ramadhan ini akan diganti topik THR. Lantas masihkah kita akan menjaga kebudayaan temporal selama 30 hari ini?

Kita bisa belajar dari kitab suci. Kitab suci memberikan peluang bagi kita untuk mengenal dunia sebelum kita. Menjaga kematian dan kisahnya. Menjaga kebaikan dan keburukannya. Ini menjadi refleksi kita agar kita bisa mengetahui latar belakang diri kita. Perayaan periodek telah menjadi makanan kita sehari-hari. Kita dididik dunia untuk memikirkan hari ini dan esok. Kita tidak diajarkan untuk menentukan alasan apakah hari ini dan esok dibentuk dari kemarin.

Pada akhirnya, kita yang hidup tidak akan menjadi cerita apapun. Kita tidak akan diberkahi cerita apapun. Kita akan mati menjadi hantu. Tidak menjadi cerita. Tidak menjadi mitos. Kita menjadi butir pasir peradaban yang ditinggalkan. Mari kita kenali keluarga kita. Kita bangun hidup kita dengan versi kita. Kita adalah buah yang matang dari tangkai yang mengeluarkan buah matang sebelum kita.

Ditulis: Muhsin Ibnu Zuhri

Sebelum Kita Diwisuda

Apakah tahun ini jadi tahun Anda akan diwisuda? Jika memang benar, saya ingin bertanya. Apa yang Anda dapatkan selama menjalani rutinitas sebagai mahasiswa? Saya ingin mengajak Anda bercerita sedikit tentang pandangan saya terhadap cara kampus mendidik saya dan beberapa orang lain yang hampir mirip dengan saya.

fda6307c-150d-4631-bc57-0f79638fa000

Dulu saya tidak pernah punya bayangan apapun  kenapa saya mengambil jurusan studi pendidikan bahasa Inggris. Tidak pernah terlintas dalam benak saya akan menjadi seorang pengajar. Awalnya saya ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional atau setidaknya sastra. Jangan dibandingkan dengan jurusan lain yang lebih menjamin masa depan seperti kedokteran atau sipil. Menjadi calon pendidik, kita diajari masuk ke dunia pikiran murid. Anda bisa bayangkan, Anda dicetak empat tahun untuk menjadi seorang guru. Apa enaknya jadi guru? Intinya saya belum siap menjadi guru.  Entah jika Anda yang sangat mendambakan pekerjaan mulia tersebut.

8ddb299c-d0d2-495a-b9e1-61f1cd23727b

Sebelum saya benar-benar dikatakan sebagai alumni, saya ingin Anda tahu. Kampus mungkin hanya tempat menghabiskan waktu. Ini anggapan subjektif saya saja. Saya bukan tipikal orang yang suka masuk ke kelas, memerhatikan penjelasan dosen, atau menjadi pengamat presentasi teman sekelas. Saya lebih suka memandang siapa teman wanita yang cantik dan bisa diajak berkencan. Atau seperti teman saya, dia lebih suka ikut organisasi daripada harus susah payah menerima diri dihina dosen berkali-kali karena nilai akademik sangat rendah. Mungkin juga, jadi kawan saya yang sangat mengedepankan nilai akademik dan membayangkan dandanan paling pas untuk wisudanya nanti. Silakan sebut jenis teman Anda yang lain.

a9a63e83-696f-4529-9428-cf87f82f842f

Apakah Anda benar-benar orang yang merasakan manfaat dari sistem perkuliahan? Atau Anda mungkin sependapat dengan saya. Perkuliahan memberikan pengalaman untuk mengenal ketidakmampuan kita. Saya bahkan tidak hapal lagi pelajaran apa yang diajarkan di semester 3,4, dan seterusnya. Yang saya ingat hanya teman kencan saya di kelas. Berapa banyak teori yang masuk ke kepala kita lantas menunggu untuk dienyahkan? Ini adalah cara sistem kelas bekerja.

IMG_1520Mungkin Anda akan lebih suka menjalani kehidupan kampus yang lain. Menjadi seorang pembangkang, kritikus, atau hanya menjadi anak senja yang perlu waktu sendiri untuk memasak puisi. Saya berkaca pada teman saya. Satu angkatan saya ada lebih dua ratus orang. Mendekati waktu wisuda ini, saya bisa dapati banyak dari teman saya keluar dari arah jurusan. Bisnis voucher, bekerja di spa, penjual online, kritikus, pengurus partai, Pembina LSM, barber, atau pekerjaan lain yang akhirnya mereka geluti. Mendekati wisuda seperti ini, tidak ada dari kita lantas membicarakan betapa senangnya kita di dalam kelas atau mengingat materi kuliah. Kita suka membincangkan tentang hal di luar itu.

IMG_3301

 Lalu untuk apa kuliah? Untuk melengkapi transaksi kita membayar uang semester. Saya hanya ingin mengajak Anda menikmati hari-hari Anda dengan kenangan yang baik. Hal ini jadi alasan mendasar berapa banyak teman seperjuangan kita yang lantas bingung mau berbuat apa setelah diwisuda. Mereka tidak punya kenangan. Mereka tidak mengenal ketidakmampuan mereka. Mereka hanya mengenal nilai di ijasah dan motivasi dari visi dan misi kampus.

Bulan depan saya mungkin akan diwisuda. Mungkin juga Anda. Sudah Anda lihat kembali kenangan apa yang Anda dapati selama tahunan kemarin? Semoga dari kenangan itu kita bisa tahu ada banyak hal yang bisa menjamin kehidupan kita masa mendatang. Menghabiskan waktu dengan banyak teman dan kenangan adalah cara terbaik menata masa depan kita. Sistem kuliah? Itu hanya layanan karena kita terdaftar dan membayar.

Nasehat Kecil untuk Tidak Merendahkan Orang Lain

Saya sering mendapat gunjingan atas segala keburukan dalam diri saya. Kadang cibiran lalu-lalang seperti pemudik di negara berkembang. Bertambah dan terus bertambah. Awalnya saya sangat tidak suka dengan cibiran tersebut. Namun tetap saja saya tidak bisa mengatasi keburukan saya sendiri. Di lain hal, seorang kawan saya sangat merasa bahwa dia tahu segalanya. Dia kadang mengatakan apa yang tidak saya tanyakan. Di setiap perjumpaan, dia selalu mengkritik siapapun yang tidak mengenakkan pandangannya. Saya pikir dia orang yang sempurna.

_107090686_amienraisdua

Setiap orang berhak menilai orang lain. Terutama di dunia baru yang tak perlu melihat wajah. Jari lebih peka bersuara daripada logika. Di sosial media kita berhak mengatakan apa-apa. Mungkin ini yang disebut kebebasan berpendapat. “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” (UUD 19945 pasal 28E ayat 3). Hanya saja, cara berpendapat kita akhir-akhir ini melewati batas kewajaran.

Seorang anak kehilangan gairah belajarnya karena lantas dikatakan bodoh oleh gurunya. Tidak ada yang tahu bagaimana anak berupaya sekuat tenaga mengerjakan tugas yang diberikan. Tidak ada yang tahu bagaimana si anak harus membagi waktu belajar dan membantu orang tua yang berkeringat membiayai tagihan bulanan pendidikan yang kian hari makin membengkak. Sebaliknya, seorang guru dipukul oleh wali murid. Kasus yang sering muncul ke permukaan adalah guru melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Sebagai orang yang membayar, tentulah layanan pendidikan harus sesuai dengan ongkos yang dikeluarkan. Tidak ada yang tahu bagaimana si murid mengejek si guru ketika di kelas. Tidak ada yang tahu bagaimana guru sudah memperingatkan berulang kali agar memerhatikan unsur-unsur kesopanan. Sekali lagi, fakta adalah aib yang abu-abu.

Bulan lalu marak lewat sosial media dalam kaitannya pawai kampanye calon presiden. Sosial media jadi jalan pintas menaklukkan lawan dengan mempermainkan opini publik. Caranya jelas, memberikan isu-isu yang belum tentu benar. Sebenarnya, bagi pembaca yang budiman, mereka sangat tidak suka dengan cara kekanak-kanakan isu tersebut. Kita jadi seolah pribadi yang pantas mengatakan orang lain buruk. Hal tersebut bahkan menyinggung sendi-sendi personal. Agama, suku, ras, kekelaman masa lalu, bahkan sampai status hak sipil.

Kebabasan berpendapat, HAM, dan hukum menjadi senjata untuk menjatuhkan orang lain. Lebih mendalam, kita mulai membandingkan posisi kita lebih baik di mata tuhan. Kita berlomba untuk menarik simpati Tuhan bahwa kita adalah orang yang mulia dengan cara hidup kita. Orang yang belajar ilmu yang tak menyentuh realita kemanusiaan. Orang yang dipengaruhi jaminan kebahagiaan hakiki atas nama agama. Orang yang merasa hebat karena lingkaran kasta dan kekuasaannya. Semua itu lantas menjadi satu kelebihan kita yang terus kita banggakan.

Dengan kecenderungan mencari kelemahan orang lain, akan terus menyombongkan diri kita. Narsisme yang berlebihan. Panjat sosial yang kelewatan. Akankah masa depan lantas akan damai? Bisakah kita hidup nanti dengan sederhana. Menikmati sore hari dengan meminum teh bersama kekasih di kebun belakang rumah. Keluar malam dan pulang pagi tanpa ada yang menjelekkan pekerjaan kita?

Saya jadi ingat dengan Jostein Gaarder yang menceritakan Frank dan Vera yang berbagi ramuan keabadian. Apakah yang akan mereka cari dari keabadian itu. Berapa banyak masa lalu yang akan mereka tinggalkan di jalan-jalan. Semakin lama hidup kita, akan semakin banyak urusan yang perlu kita selesaikan.

Saya akan memberikan satu saran yang dikutip dari Syeh Abdul Qadir Jailani yang mungkin relevan untuk kita saat ini. Pesan yang belia sampaikan termaktub dalam kitab nashaih al-ibad.

  • Jika kita bertemu dengan orang lain

Tanamkan pada diri kita bahwa orang lain itu memiliki pribadi yang baik. Banyak kebaikan yang ia sembunyikan dari mata kita. Ia pasti lebih baik dari kita di mata manusia dan Tuhannya.

  • Jika kita bertemu dengan anak kecil

Anak kecil selalu kita anggap remeh. Anak kecil memang tidak akan melampaui kita dalam kaitan keilmuan atau rasionalitas berpikir. Tapi, anak kecil punya kemungkinan dalam melakukan kejelekan lebih sedikit dari pada kita yang hidup lebih lama. Ia pasti lebih baik derajatnya.

  • Jika kita bertemu dengan orang tua

Orang tua lebih punya banyak waktu untuk menghadiahkan banyak kebaikan di hidupnya. Kebaikan yang ia lakukan sebelum kita. Tentulah ia hidup dengan limpahan kemuliaan atas apa yang ia lakukan selama di dunia. Soal derajat, ia pasti lebih tinggi dari kita yang baru hidup beberapa waktu.

  • Jika kita bertemu dengan orang berilmu

Orang berilmu adalah orang yang memegan sendi hakikat kebaikan dunia dan fana. Tentulah orang yang berilmu banyak menyebar manfaat kepada orang lain. Lantas bagaimana mungkin kita bandingkan dengan orang-orang macam kita yang malas belajar. Kita dididik kemalasan dan kepongahan. Tentulah orang yang berilmu lebih baik dari kita.

  • Jika kita bertemu dengan orang tidak tahu

Orang yang bodoh adalah orang yang tidak tahu. Tuhan tidak menghitung dosa bagi orang yang tidak tahu. Bagaimana dengan kita yang tahu dan melanggar aturan-Nya? Berapa banyak kita menipu Tuhan untuk melanggar aturannya sedangkan kita sendiri paham bahwa yang kita lakukan adalah salah?

  • Jika kita bertemu dengan orang yang beragama lain

Kita tidak pernah tahu akhir masa dari manusia. Bagaimana keadaannya. Bisa jadi orang yang kita temui akan berakhir dengan iman yang sama dengan kita. Bisa jadi kita menjadi orang yang meninggalkan iman di akhir usia. Kita tidak tahu.

Kita adalah gumpalan daging yang berpikir. Kita menggenggam hakikat hidup yang sama. Apakah lantas kita selalu lebih baik dari orang lain? Kita hanya perlu terus berkata dan berlaku baik. Itu saja.

Apa Salahnya Pura-pura Bahagia

Sebelum Anda baca tulisan ini sampai kata terakhir, tanyakan satu pertanyaan kepada diri Anda sendiri “Apakah aku pernah benar-benar merasa bahagia dengan tulus?”

a075bffe0c83199e

Mungkin agak terkesan pesimis jika membaca judul tulisan ini. Benar adanya. Saya ingin mengajak Anda mengenal kepura-puraan Anda yang sesungguhnya. Bagaimana Anda mengartikan makna dari kata ‘bahagia’ dengan cara yang tulus. Mengenal dengan baik bahwa wajah kebahagiaan kita sering sekali berpura-pura. Kepura-puraan yang kita bagikan pada dunia.

Suatu hari seorang ibu keluar rumah. Kakinya melangkah kearah pasar untuk membelikan anaknya baju baru untuk lebaran. Sebelumnya, sudah dikatakan jikalau tahun ini hasil dari penjualan warteg ibunya tidak begitu laku. Sang anak sudah tidak sabar mengenakan baju merek terbaru, seperti milik teman-temannya. Sehingga nanti jika waktu sholar Idul Fitri tiba, si anak tidak merasa berbeda dengan teman-temannya. Si ibu coba mengatur ulang pengaturan keuangan supaya uang jatah bulanan bisa untuk membelikan makanan lebaran sekaligus baju bagi anaknya.

Si ibu itu kemudian keluar masuk beberapa toko untuk melihat jenis pakaian paling terbaru. Dia tidak berencana membeli barang satupun. Ia berpikir, ia akan membeli kain dengan warna nada serupa dan menjahitnya sendiri di rumah. Untung, di rumah masih ada mesin jahit yang bisa digunakan. Setidaknya, bisa menghemat pengeluaran. Si ibu mencoba menyembunyikan tindakan ini dari anaknya.

Waktunya tiba, anak menagih. Ibu sudah bisa memberikan baju tersebut. Dua potong baju. Satu baju taqwa dengan motif bunga bordir, dan satunya lagi kemeja dengan warna navy dengan motif emblem. Mulanya, si anak sangat bahagia. Dia tidak menyangka yang tadinya hanya meminta satu potong baju saja, akan tetapi ibunya membelikannya dua potong sekaligus. Waktu lebaran tiba, si anak keluar bersama teman-temannya, main petasan, dan menghabiskan uang amplop dari tetangga untuk membeli mainan yang sudah parker di pertigaan gang.

Di satu siang yang terik, Ibu meminta si anak lekas pulang. Ditanyanya ia apakah ia suka dengan model bajunya. Si anak hanya menganggukkan kepalanya. Si ibu lantas manarik senyum lega. Lebaran kala itu terlewati dengan sempurna.

Waktu berjalan, si anak mulai dewasa. Ia sudah 21 tahun. Ibunya sudah 65 tahun. Ibu sudah tidak bekerja. Dia lebih suka duduk di kursi goyang menghadap jendela sambil merajut kain untuk dijadikan sapu tangan atau hiasan saja. Si anak sudah bekerja dengan tingkat kesibukan yang bisa dibilang tinggi. Intensitas pertemuan keduanya kali ini sangat sedikit. Si anak harus pulang-pergi keluar kota mengirim barang. Si ibu di rumah sendiri dengan bayangan masa anak-anaknya.

Suatu ketika saat anak pulang kerja, dan ibu sedang tak kuasa menahan rindu, ibu bertanya pada si anak. “Kamu lebaran nanti mau dibelikan baju?” kata ibu. Si anak mendehem bernada menolak. “Sudah, Bu. Tidak usah. Nanti aku bisa beli baju sendiri. Kalau mau, Ibu nanti aku belikan gamis baru.” Jawab si anak dengan senyum teduh. Mendengar perkataan itu, ibu mengarahkan wajah ke sudut lain. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Yasudahlah.” Sudah sejak anaknya mandiri, dia lebih suka menikmati kehidupan di luar rumah. Beberapa kebutuhan memang terpenuhi, tapi tidak sepenuhnya terpenuhi.

Di sore yang meremang. Si ibu naik angkutan umum ke pasar. Ia menghampiri salah satu toko milik tetangganya yang menjual baju. Di tangannya ada beberapa potong baju yang sudah ia jahit untuk dijadikannya baju lebaran anaknya. Tapi, nampaknya si anak lebih suka baju keluaran pabrik. Dia menjualnya. “kau bisa jual dengan harga teserah kau. Bisa juga kau ganti pakai label jualanmu tak masalah.”

Lebaran kembali menghampiri, dan si anak membuat ibu benar-benar tersenyum. “Bajumu bagus.” Si anak menjawab dengan ramah, “Iya beli dari Wak Narman. Halus. Jahitannya juga rapi.”

“Kau tampan. Simpan baik-baik baju itu. Jangan sampai rusak. Sudah dibeli dengan mahal-mahal.”

Akhirnya, setiap lebaran si anak tak lagi membeli baju baru karena dia sudah cukup mengerti pengelolaan uang. Dan di setiap lebaran sejak itu, si anak selalu mengenakan baju yang ia beli dari tetangganya.

Ini cerita yang sangat sederhana. Tapi, bisa kita bayangkan bagaimana lantas si ibu berulah seperti kebahagiaan dirinya teramat tulus? Mungkin kata ‘tulus’ mampu lahir bila saja si anak tahu bahwa baju itu milik ibunya untuknya. Tapi, bukankah si ibu tetap berbahagia? Meski tidak sepenuhnya.

Bahagia adalah entitas yang tak terindera. Terkadang, kita bisa bilang satu waktu itu kita teramat sangat bahagia. Seiring waktu, kita jadi tidak berbahagia lagi. Bahagia adalah keadaan yang sangat temporal dan tidak tetap. Inilah yang disebut sebagai kebahagiaan.

Sekarang, banyak pembicara mengatakan jalani hidup ini dengan bahagia. Mungkin lagi, bisa kita ambil pelajaran baik dari kata bijak, hadapi semua dengan senyuman. Secara simbolis, senyum adalah lambang kebahagiaan. Tapi, seseorang sebenarnya sulit benar-benar mengukur keaslian dari bahagia. Bayangkan, semakin dewasa kita dihimpit kebutuhan dan tanggung jawab. Dua hal itu sebenarnya adalah wujud yang tidak ingin kita tanggung sepanjang waktu. Ini adalah takdir. Ini adalah gejala semesta. Dan kita hanya bisa menerimanya. Lantas bagaimana cara kita bisa mengenal bahagia yang tulus. Sebuah rumus terminologi yang rumit untuk diurai.

Mungkin, kita tidak bisa selalu dalam keadaan bahagia. Kita akan dihadapkan pada situasi yang sering membuat kita merasa terpojok dan terpuruk. Lantas apa yang perlu kita lakukan? Menolaknya? Tidak mungkin. Terima kesedihan itu dengan lapang dada. Seperti Svend Brinkmann, seorang psikolog, mengatakan orientasi pada kebahagiaan yang berlebih hanya akan membuat emosi kita kecil. Hanya saja, saya tidak begitu tertarik dengan kecenderungan merasa terus bahaya. Saya lebih suka menerima bahaya tersebut untuk diri sendiri. Namun, di mata dunia, kita harus memberikan apa yang sepantasnya diterima dengan baik, yaitu kebahagiaan.

Kita hanya perlu mencari jalan kecil yang lain yang lebih mudah. Kebutuhan adalah misi yang perlu kita penuhi. Kita perlu mencari cara yang sesuai dengan diri kita agar kita tidak tertekan secara berlebihan.

Meminjam cara hidup orang lain tidak bisa kita jadikan sebagai ukuran. Berapa banyak orang kehilangan kebahagiaannya karena sering menyelami dunia maya. Wadah yang menghujam ketidakmampuan kita. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk bertanya pada diri sendiri. “Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku lakukan dengan mudah? Apa yang bisa aku ambil dari apa yang bisa aku lakukan dengan mudah? Bagaimana aku bisa mendapatkan apa yang manjadi tujuanku mengambil sesuatu dari apa yang bisa aku lakukan dengan mudah?” pertanyaan ini akan sedikit membantu kita mengenal diri kita. Mengenal diri kita tentang kemampuan luar biasa yang kita miliki. Ketidakmampuan kita adalah kemampuan milik orang lain. Mari keluar rumah. Sapa orang-orang yang kita kenal. Mulai hidup dengan pura-pura yang tulus.

Berpura-pura bahagia lebih baik daripada kita mengeluh sepanjang waktu, seolah kita lemah dan tidak berkembang. Bahagia bersifat sementara. Jika kita melewatkan satu kesempatan dengan bahagia, itu tidak akan bertahan lama. Masih ada kesempatan yang menawarkan kita kebahagiaan lain. Dengan cara lain, dengan orang lain, dengan kisah lain, dengan hasil yang lain, dan itulah kiranya ketulusan semesta memberikan kamu kebahagiaan yang pura-pura. Tidak ada salahnya berpura-pura bahagia.

Mungkin si ibu berpura bahagia kini karena gagal mempersembahkan baju rajutannya untuk anak. Tapi, bisa jadi esok hari ibu punya cara lain untuk memberikan anaknya baju rajutan yang lain. “Nak, ibu punya baju buat kamu. Gak kalah bagus sama punya tetangga. Daripada kamu beli baju di luar, kan? Mending gratis dikasih ibu. Nanti kamu bisa beli label di pasar atau ke tukan cetak. Yang penting, kamu tetap tampan dan keren di mata ibu.”

Dari Kencan, Sebuah Seni Berbicara Bermula

027657900_1446794731-blind-dateKau bisa menyebut namanya J. Lelaki yang memiliki segudang cita-cita di dalam kepalanya. Seorang yang sangat mempertimbangkan sebab-akibat dari apa yang dia lakukan. Pekerjaannya mapan. Dia bekerja di sebuah perusahaan setelah dia melepaskan keputusan berbisnisnya dari usaha UMKM. Dia pikir tidak ada salahnya mencoba bekerja korporasi sebelum menjalankan bisnis sendiri lagi. Dia tampak bahagia setiap makan siang bersama teman-temannya. Tapi, dia tidak akan menampakkan raut yang serupa saat bicara perihal asmara.

Sesungguhnya ketika aku mengangkat contoh dari J, aku telah membaca terlebih dahulu buku Oh Su Hyang “BICARA ITU ADA SENINYA”. Ada kemiripan yang Hyang paparkan terkait sebuah nyawa dalam kesan. J memiliki segalanya di pundak. Namun, tangannya dingin. Ia sendiri. Dia tidak pernah berhasil berkencan dengan wanita yang jadi incarannya. Dia seolah terkutuk.

Dulu, sebelum J masuk ke dunia bisnis dan bekerja seperti sekarang, dia adalah seorang pembicara yang baik. Kata-katanya mengandung arti positif. Dia suka membantu teman-temannya. Bahkan, ketika ada seorang yang ia kenal terkena musibah, ia akan berusaha bagaimana caranya agar bisa saling bertukar kebahagiaan. Waktu itu, dia sangat pandai merayu cewek. Dia bisa mengeluarkan segala jurus gombal yang tidak dimiliki buku panduan bercinta manapun. Dia bisa berganti pacar tiga bulan sekali atau bahkan lebih singkat. Pada akhirnya hubungan yang ia jalani berakhir dengan tidak baik-baik, setidaknya dengan satu alasan. J seorang pengangguran.

Waktu dan usia mengajari J bagaimana selantasnya ia kemudian mulai menata semuanya dari awal. Dia belajar berbisnis. Dia menyaksikan teman-teman yang lain sudah mulai berkecimpung dengan usahanya, dan J ingin mengikuti jejak mereka. Dia sebelumnya tidak memiliki pengalaman berbisnis, dagang, atau bidang yang senada. Dia hanya tersuntik doktrinasi temannya bahwa bekerja di bidang korporasi hanya jadi budak kapitalis. Itulah mula dia memulai berbisnis. Apapun bisa dijual. Demikian prinsipnya. J membuka sebuah toko yang menjual voucher perdana dan beberapa accessories gadget. Dari sana, ia mulai mengerti bahwa lelaki punya ambisi lain di luar asmara dan cinta.

J mulai terbiasa mengurusi barang masuk, pengaturan keuangan, business plan, bahkan investasi. Dari sana, dia bisa merencanakan liburan bersama keluarga, membelikan barang untuk ibu dan ayahnya, memberikan sedekah untuk kepentingan social, bahkan nongkrong bersama kolega dan teman-temannya. Hanya saja, ia merasa ada angina yang dingin, marorong dadanya. Ia butuh kekasih. Mulutnya tidak lagi tajam seperti dulu. Lidahnya kelu dan asing setiap ingin memulai pembicaraan ringan dengan perempuan.

Dari J, ada yang menarik. Ia bisa menghidupkan nyawa komunikasi ketika dia berada pada posisi yang bebas. Namun, semenjak dia mulai berpikir tentang banyak rencana lain, dia mulai kehilangan daya magis menciptakan kesan dalam kencan. Pikirannya tidak bisa keluar dari lingkaran pekerjaan. Dampaknya, ia hanya bisa menceritakan tentang pekerjaannya. Menceritakan berapa banyak omset yang bisa ia dapatkan dalam setahun, mengatakan betapa bahagianya dia menjalani bisnis tersebut, mendambakan keberaniannya dalam menjalankan bisnis secara mandiri. Nyatanya, apa yang ia katakan pada setiap perempuan dalam kencan mengenai semua pencapaian itu hanya membuat jengkel perempuan.

Tidak bisa dipungkiri, nyawa dalam sebuah komunikasi adalah menghidupkan kesan pertama. Bahkan jika ada keputusan untuk mengadakan kembali kesempatan kedua, kesempatan itu tidak akan selebar kesempatan pertama. Seperti J, cara dia menceritakan kiprahnya tidak begitu tepat untuk menarik hati perempuan yang ia taksir. Perempuan tidak mau tahu dengan semua kiprah itu jikalau yang mereka cari adalah pasangan hati. Kita jauhkan konteks ini dari mata  materiil. Perempuan akan sangat menyukai lelaki dengan penuh perhatian. Perempuan suka diperhatikan, dipuji, dan dianggap ada dalam setiap percakapan.

J memiliki perawakan yang tampan, suara yang bagus, juga karir yang cemerlang. Namun, kandungan kata-kata yang meluncur dari mulutnya tidak mengenakkan hati  pendengarnya. Maka ia gagal dalam seni berbicara. Berbicara adalah bagaimana kita bisa menggetarkan hati pendengar, melayani psikologi dan emosi mereka, serta menjamah ruang terdalam di dalam dirinya. J terlampau egois untuk menggambarkan dirinya di mata orang lain. Itulah kenapa tidak ada yang mau dengannya.

Dari berbicara bisa menjamin nasib kehidupan kita ke depan. Sesuai sebuah penelitian, nasib seorang pelamar kerja yang diwawancarai berada pada menit ke 2-5 dari mula ucapannya. Banyak orang yang memiliki soft skill yang mumpuni untuk bidang kerja yang dicari, namun gagal seiring dengan ketidakcakapan berkomunikasi. Seorang kyai, ulama, pastur, atau biksu sekalipun senantiasa diliputi dengan gaya bicara yang santun dan baik. Itulah kenapa perkataan mereka selalu diminati jamaah. Berbicara tidak soal suara yang bagus, tidak soal mimik wajah yang cerah, ya walaupun tetap penting keduanya, namun isi dalam ucapan tersebut yang perlu untuk dikembangkan.

Beberapa cara baik yang bisa kita mulai dari berbicara. Pertama, perhatikan lawan bicara kita. Penyesuaian subjek-objek komunikasi sangat penting. Kedua, perhatikan latar belakang pendengar kita. Kita harus pahami satu hal, pendengar yang setia adalah pendengar yang merasakan dirinya sedang dibicarakan. Betapa banyak peserta seminar merasa tergugah hatinya hanya karena ucapan pembicara yang membabat habis kegelisahan yang meranggas di kehidupan peserta seminar. Ketiga, ajukan pertanyaan. Pendengar yang baik ingin dilibatkan dalam penyampaian gagasan. Siapa juga yang mau mendengarkan orang berbicara melantur. Seperti mendengar radio saja. Kamu bisa lihat bagaimana pembawa acara stasiun radio sangat sering menggunakan pertanyaan untuk menyapa pendengarnya? Walaupun kita tahu, pendengar tidak akan langsung memberikan tanggapan. Namun, setidaknya mereka merasa dilibatkan. Keempat, berikan kata-kata yang tidak mengandung makna negatif dan kasar. Sarkasme memang perlu dalam sebuah seni berbicara, namun alangkah baik disampaikan dengan pemilihan kata yang tepat. Gunakan analogi untuk menyederhanakan pikiran kita yang rumit. Jangan menuduh lawan bicara. Itulah hal yang bisa kita lakukan mula-mula dalam mengarungi dunia yang bergantung dari gaya bicara.

Semoga kita adalah orang yang senantiasa dalam kebaikan kata-kata.

Apa Salah Saya?

Kemarin sore saya hendak pulang dari Semarang ke Salatiga. Saya menunggu bus yang keluar dari terminal di kawasan Kaligawe. Jalanan padat oleh para pengendara yang malang-melintang selepas kerja. Suasana agak macet karena beberapa mobil menyalakan sen ke kiri atas instruksi polisi lalu lintas. Ada pengecekan kelengkapan kendaraan.

Entah mengapa, sore itu memang sangat bagus cuacanya. Langit merona cerah, orang lalu-lalang, penjual, pekerja, bahkan beberapa mahasiswa dari kampus setempat yang hilir-mudik membuat saya ingin mengambil gambar.

Hampir seperempat jam saya di sana dengan kumpulan hampir 5 foto terbaik menurut saya. Dari simpang badan jalan, bus Safari keluar dari terminal. Saya sudah beranjak berdiri, melangkah ke tengah jalan untuk mencegah bus, naik. Tiba-tiba suara meneriaki saya, seorang polisi memanggil saya. Bus Safari terlewatkan. Saya pun menghampiri polisi tersebut.

“Ada apa, Pak? ” Tanya saya.

” Lihat HP nya, Mas! ” Pinta petugas.

Saya pun memberikan HP saya.

” Ini saya hapus, Mas. ”

Saya terheran. Ini kenapa foto saya dihapus. Saya kira tidak ada masalah dengan foto saya.

” Loh, kenapa pak? Ini kan saya hanya memotret jalanan saja. Apa salahnya? ”

” Pokoknya tidak boleh, Mas. Atau jenengan mau saya laporkan ke komandan? ”

Karena saya tidak mau memperpanjang urusan, akhirnya saya hapus foto tersebut. Kemudian saya menyingkir dari lokasi. Saya merapat ke area ojek pengkolan.

” Mau kemana, Mas? ” Tanya segerombolan ojek.

” Mau ke Salatiga, Pak. ” saya menambahkan, ” Tadi kenapa saya foto area ini diminta menghapus, Pak?” Tanya saya sok polos.

“Ya begitu itu, Mas. Operasi kok hampir tiap hari. Bisa kali 3 kali sehari. Dah kayak minum obat aja. ” Seorang pengojek sewot.

Saya mengerti. Ada yang aneh dalam pikiran saya. Saya memang tidak berniat menulis ini. Tapi, karena ada upaya dari pihak tertentu meminta menghapus foto, membuat saya geram juga.

Ada beberapa pertanyaan, kenapa tindakan penertiban berkas kendaraan tidak boleh terpublikasikan? Kedua, kenapa seolah tindakan ini adalah tindakan yang menimbulkan kekhawatiran bila tersorot. Bukankah bagus jika orang tahu agar surat dilengkapi.

Adanya tindakan penertiban boleh dilakukan dengan formalitas yang valid. Jika memang itu sudah menjadi tanggungjawab, kenapa pula harus was-was ada yang melihat? Saya pun memaklumi setiap tindakan penertiban. Tapi, dengan cara merampas hak saya dalam berekspresi lewat foto. Saya tidak bisa memaklumi. Ini bukan apa-apa. Ini adalah wujud sederhana dari sebuah rasa menghargai.

Saya tidak akan mempermasalahkan kasus ini. Saya hanya mempermasalahkan hak saya. Kenapa? Sila pembaca beri komentar.