Tak Pernah Mudah Jadi Lucinta Luna

Lucinta Luna, di luar statusnya sebagai selebgram, terduga pelaku transgender, maupun pelaku penggunaan psikotropika, tetaplah seorang manusia. Saat ini, semua orang membicarakan kasusnya yang tertangkap menggunakan obat-obatan terlarang di sebuah apartemen. Ini penangkapan yang wajar. Sangat wajar.

Beberapa hari setelah penangkapan, di berbagai timeline muncul headline judul dengan narasi perbedaan antara KTP dan paspor, polisi kebingungan hendak memasukkannya ke sel mana; laki-laki atau perempuan, atau alasan penggunaan obat karena sebuah masalah. Sayangnya, isi dari semua narasi hampir sama. Baik, kita berhak mengekspos pelaku. Tapi, ada satu berita yang cukup menarik (saya lupa oleh media mana) bahwa dikatakan Lucinta Luna tidak akan mendapat fasilitas istimewa (lalu kemudian muncul indikasi bahwa berarti ada yang mendapatkan fasilitas spesial)

Kita pembaca dan penilai yang merdeka. Siapapun yang menyimpang dari kebiasaan akan menjadi sorotan. Mungkin, Lucinta Luna merupakan public figure pertama yang melakukan transgender (masih dugaan). Sehingga, masyarakat heboh lalu menjadikannya bahan penilaian. Sebuah lelucon sarkastik tentang dia. Di luar sana, mungkin bukan public figure, ada seorang yang melakukan hal serupa. Namun, ia tidak mendapatkan respon masyarakat seramai Lucinta Luna.

Ada sebuah analogi menarik dalam memertahankan prejudice publik. Seorang A mengatakan dirinya kelahiran tahun sekian yang mana tahun itu lebih muda dari tahun sebenarnya. Hal ini merupakan kebohongan kecil yang sebenarnya tidak ingin ia ungkapkan. Lantas, ada seorang B yang tanya ia lahir tahun berapa. A tetap kekeh pada jawaban bohongnya. B lalu mengatakan fakta A pada teman-temannya. Naasnya, suatu waktu ketika A dan B beserta teman-temannya ingin ke luar negeri, diperlihatkan KTP atau visa ternyata A lebih tua dari apa yang ia bilang. A menjadi bahan cemoohan. Bertahun-tahun bertahan memendam kesalahan yang kemudian menjadi bahan gunjing di masyarakat. Mau mengatakan kejujuran, sudah terlanjur basah.

Itu hanya sebuah analogi saja. Lucinta Luna mungkin juga melakukan hal yang serupa. Bisa kita periksa dari latar belakang masalah. Kita bahkan tidak tahu masalah apa yang ia alami sehingga ia menggunakan obat terlarang demi ketenangan. Namun, sesuai madzhab cocokologi, kita mungkin akan berasumsi bahwa ia gunakan itu obat karena tak kuat menanggung respon masyarakat terkait transgender. Kita tidak pernah tahu seberapa dia menderita. Atau di luar sisi empati, mungkin memang dia terjebak dalam pergaulan yang salah.

Tidak pernah mudah menjadi Lucinta Luna. Menanggung kesalahan lalu mengerak menjadi sebuah beban tersendiri. Ia berhak diadili dengan konsekuensi yang berlaku. Bukan didramatisasi demi sebuah sensasi. Sekali lagi, kita adalah penilai yang merdeka. Lucinta Luna tetap manusia yang bisa melanggar aturan dan mungkin melenceng dari norma. Diluar sensasinya yang kadang bikin pusing kepala dan mengundang gelak tawa. Tabik!

A Man Walking around the Night

Wind’s coming into the house of ear with unspoken rythm; children yelled out, spoon chinked on breakfast table, chirping door.

Every silence truly speaks up the words hidden beyond secret

This road is the old arm embracing lost steps; like mother’s. Simple and hard to forget

But you… noir in scarying masterpiece

Mortal disaster in museum people never visit, not me…

Mouth ate enough pain in this house

Wish closed the door, stopping anybody coming inside, but not you…

Troath got moistened blood… vomid of scar

Alive pain in this house…

And I? watchman breeding the time and bearing the memory

Saksi Mata

Matanya dicongkel. Ia belum sempat melihat pembangunan desa yang dijanjikan kepala desa.

Sebelum resmi dilantik, kepala desa itu menjanjikan akan ada infrastruktur besar-besaran. Mengaspal jalan tanah, memberikan reovasi rumah bagi warga miskin, serta memertahankan hak-hak sawah yang ditarget juragan-juragan properti.

Suatu malam, sebelum mengatupkan mata untuk tidur, ia membayangkan hidupnya akan sangat makmur. Tapi, dua orang misterius merangsak masuk kamarnya lalu mencongkel matanya.

“Buang saja matanya ke kebun belakang.” Kata seorang buru-buru.

“Jangan, nanti kena visum. Coba pendam saja di tanah belakang.” Sahut lainnya.

Tanpa basa-basi keduanya memendam kedua mata Sahrir di belakang rumahnya. Sahrir yang merintih kesakitan tak bisa bersuara karena mulutnya dibekap, tangannya diikat dengan selendang bersamaan dengan kakinya.

Seminggu kejadian itu, mayat sahrir ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Kulitnya membiru. Keluar belatung dari lubang hidung, telinga, pori-pori kulit, bahkan lubang dubur. Semua orang tak kuasa melihat kondisi yang begitu rupa mengenaskan. Sahrir dikuburkan saat itu juga.

Bertahun-tahun berjalan. Kesaksian akan dibungkam dan diberikan fakta yang nyata. Kedua bola mata yang dipendam dua orang misterius itu tumbuh menjadi pohon yang rindang. Pohon yang tidak akan ditemui di dalam ensklopedi morfologi.

Kata masyarakat yang tinggal disekitar, setiap malam, pohon itu selalu mengeluarkan aroma harum. Selain itu, muncul mata air di sekitar batang pohon yang sering dipakai anak-anak dan ibu-ibu mencuci baju atau sekedar wudhu.

Maklum, keadaan masyarakat jauh dari sejahtera. Untuk air minum pun mereka harus beli di pengepul. Kadang mereka masih ditarik iuran untuk pembangunan. Jalan-jalan terbengkalai. Yang jelas nampak, ada beberapa rumah kerabat kepala desa dan kolega yang makin megah.

*

Peresmian itu berjalan lancar hanya sampai pada detik-detik pemotongan pita peresmian pohon ajaib di desa itu sebagai destinasi wisat.

Tiba-tiba, pohon itu rubuh dan menimpa kepala desa beserta jajaran koleganya. Tubuh mereka rubuh dan saat diperiksa petugas. Mata kepala desa sebagian tertusuk ranting hingga tembus tulang belakang, satunya lagi tergencet batang hingga copot keluar. Di saat semua panik, pohon itu mengeluarkan aroma harum darah.

Surat Mantan Terakhir

Langit menggantungkan bulan di luar jendela. Terlihat dari dalam oleh sepasang mata yang kuat. Dengan selang infus yang menancap di pembuluh darahnya, ia berusaha tetap sadar, duduk dan menulis beberapa surat. Mungkin ini surat terakhirnya.

Aliran_Seni_Lukis_Romantisme

“Aku ingin berterus terang. Bagiku, dunia ini tidak lain adalah neraka yang takdir baiknya hanya dititipkan kepada orang beruang. Mereka bisa bersekolah. Membeli buku apapun yang bisa meningkatkan derajat. Makan haruslah teratur tiga kali sehari dengan kadar kandungan yang kaya protein dan vitamin agar kekokohan tulang bisa bertahan lama dan tak mudah lapuk tergerus usia. Jika boleh hidup ini aku memilih, aku ingin tidak hidup dalam keadaan yang buruk. Paling buruk sekalipun.”

Matanya memejamkan beberapa waktu sebelum ia menguatkan jemarinya menulis tulisan lebih panjang.

“Tuhan tak limpahkan aku harta kecuali sedikit rupa yang menarik perhatian para gadis yang kutemui. Sudah genap usia ini enam puluh tiga tahun, mengikuti sunah nabi. Tak terhitung berapa gadis yang sudah mencium bau dadaku. Tak terbayang berapa wanita yang telah menjalin kasih denganku di kamar kecil kumuh 3 x 4 hanya untuk bertukar bibir sampai subuh.”

“Renika. Mantan pertamaku. Seorang yang mengajari aku melihat dunia dari sebuah sudut pandang positif. Dia tidak perawan sejak umur 10 tahun karena dapati pelecehan seksual dari guru sekolahnya. Nyatanya gurunya punya kelainan; exhibitionist. Dia memutuskan lepas dari keluarga karena tak kuat dengan penghakiman tetangga. Di sekolah dia tak ada tempat aman. Setiap hari yang ia dengar hanya hujatan bahwa masa depannya hanya akan ditampung dunia hitam karena tak perawan. Dia temukan aku dalam keadaan hampir mati di dekat toko kelontong karena kercacunan sisa makanan yang kuambil dari tong sampah. Dia memacari aku. Dia bilang, hidup ini sudah menyusahkan. Jika diri belum berani untuk menatap mati, bertahanlah sedikit lebih lama dengan cara manusia. Dia jadi pelacur pada umur dua puluh tahun. Selama berpacaran denganku, aku jadi tukang ojek sekaligus body guardnya. Dia mengajari aku bagaimana menaklukkan laki-laki dengan monopoli bahasa. Waktu itu, aku masih depalan belas tahun.”

images

“Setelah putus dari Renika karena dia akhirnya bertaubat setelah terjangkit raja singa, aku diumpankan pada Malika. Seorang anak politikus yang terjerumus lingkaran mafia. Ketika kali bertemu denganku, ia katakan wajahku mirip kekasihnya yang mati tertembak saat transaksi narkoba. Aku akhirnya berpacaran dengannya selama 2 tahun. Selama itu, dia ajari aku bagaimana menjalin sebuah kelompok yang militan. Bagaimana melihat kelicikan politik ayahnya. Meskipun dia begitu kaya, dia bilang dia penganut sosialisme. Dia bahkan bilang tak pernah sekalipun membenci rakyat miskin. Dia benci orang kaya yang kerjanya memeras rakyat kecil. Kupikir dia sangat gila, 26 tahun dan memiliki hampir seratus anak buah.”

“Hubunganku setelah dengan Malika. Aku mulai mencari pasangan yang sesuai dengan kebutuhanku. Banyak hal-hal yang bisa aku jadikan pelajaran dari orang-orang ini. Persetan dengan cinta. Perempuan yang aku tiduri semua adalah sekolah. Mereka begitu jujur dan memberikan aku segalanya. Ilmu dan pengalaman. Mulai dari seorang dokter, seorang mahasiswi filsafat, aktifis feminisme, semua telah masuk ke dalam diriku hingga akhirnya terbangunlah aliansi para preman arus bawah ini. Kelompok yang aku buat untuk melindungi para wanita dari kejahatan seksual dan kebejatan nafsu.”

Rangga berhenti menulis. Diambilnya segelas air putih di dekatnya untuk menghilangkan perkabungan dari semua mantan pacarnya yang sudah mati. Air yang mengalir lewat tenggorokannya seolah memberikan penghidupan bagi dia. Sebuah tenaga baru.

Baru dia hendak lanjutkan suratnya, seorang dokter datang dari balik pintu untuk memeriksa kondisi darahnya. Rangga sudah lima tahun mengalami cuci darah. Untung sekali mantan pacarnya semua bersatu mendirikan sebuah yayasan sebagai donatur kesehatan para gelandangan. Jadi, Rangga merasakan obat yang ia telan setiap hari serasa cinta yang hangat dan menguatkan.

“Bapak harus tidur. Besok bisa bapak lanjutkan lagi.” Saran Dokter Susan.

Dengan dengusan napas, ia baringkan diri dengan bantuan dokter Susan. Diraihnya selimut untuk segara pergi tidur. Apalah daya beberapa surat yang tak rampung menahan matanya. Jangan tidur dulu, pikirnya.

Ia berdiri dan kembali membuka buku catatan. Masih ada satu halaman tersisa. Dia habiskan malam itu juga.

“Biar aku lanjutkan. Entah kenapa kata-kata pada lembar terakhir ini begitu tak sabar ingin segera ditulis. Jadi kita mulai saja. Semua mantan yang sudah menjadi pengalaman dan bagian dari perjalanan berdarah ini tidak akan pernah aku lupakan. Mereka yang membuka mata pada diriku bahwa hidup ini harus dihadapi. Mau bagaimanapun pedihnya. Kita akan menjadi buah dari masa mendatang. Kita akan mati dan berinkarnasi menjadi ingatan. Jika aku tak bertemu mereka, aku tak akan sampai pada titik ini. Jadi, jikalau kalian nanti baca suratku ini. Aku ingin kalian berbaiklah pada keluarga kalian. Jangan tunjukkan kebengisan kalian di mata anak kalian yang lugu. Berikan perhatian lebih. Didik mereka sampai mengerti keadilan. Dan,,,”

Belum sampai pada akhir tulisan semua jadi begitu hitam. Rangga tak lihat apa-apa lagi kecuali cahaya putih yang mulai membesar. Seolah-olah  cahaya itu menjelma tangga yang bisa saja mengantarkan dia ke arah berantah.

***

Kerumunan berjaket lengkap dengan senjata di tangan sudah memenuhi seluruh sudut rumah megah itu. Rumah miliki seorang ketua mafia yang sudah berpuluh tahun tak bisa diendus keberadaannya. Setelah berjalan pengintaian dan persiapan penyerangan, seorang polisi berhasil masuk dan menembak mati kepala mafia itu. Tubuhnya roboh kelantai dengan ciprtana darah di mejanya, tak sedikit membasahi kertas-kertas yang seperti tintanya masih baru.

Era Digital dan Menurunnya Fungsi Otak

Kamu bisa lihat setiap hari di twitter. lihat kolom trending. Tagar apa yang sedang naik? Perhatikan dengan seksama apakah kamu akan ikut menuliskan tagar tersebut demi mencari perhatian follower atau memang topik tersebut menarik perhatianmu untuk terlibat didalamnya. Atau kamu mau lihat YouTube dengan pesona trending yang bisa mengganggu selera makanmu di atas meja karena yang berada di posisi atas berisi konten ‘prank’ yang kaukira sampah. ladolcevita_mayo1

Semua informasi di dalam internet kini menjelma ombak tak tenang. Setiap sapuannya mengantarkan berbagai macam topik yang tak terhitung jumlah. Beberapa isu mungkin sangat menarik untuk disimak, sedangkan yang lain seperti sampah. Titik fokus pada tulisan ini sebenarnya bertumpu pada kekacauan kita memproses seluruh informasi yang ada sehingga berpengaruh pada cara berpikir kita.

Kita tidak pernah mengharapkan untuk memikirkan apa yang dibuat orang di dunia maya sebagai trending topik. Namun, dengan dukungan segala elemen media yang bisa menjadi wartawan saat ini, satu isu saja bisa sangat begitu menyesatkan. Mulai dari kopi sachet yang memercikkan api saat terkontaminasi dengan api, maka kemudian orang beranggapan bahwa kopi tersebut berbahaya. Kita tidak sempat berpikir untuk melihat kandungan apa saja yang ada dalam kopi yang memang bisa bereaksi pada api. Informasi dibuat seabu-abu mungkin, penuh gimik, dan topik yang kontroversial agar mendapatkan traffic pengunjung.

Bisakah kita sekarang hidup tenang dengan perenungan sendiri? Sudikah kita bercerita pada sanak teman atau keluarga untuk masalah pribadi? Kita lebih memercayai mediasi virtual daripada verbal. Seolah cara ini merupakan bentuk dari depression healing. Sebuah ruang dengan skala tutur yang sempit. Kenapa kita bisa begitu nyaman dengan itu? Karena kita terbiasa mendapatkan informasi sepotong demi sepotong. Tidak menyeluruh. Inilah yang akhirnya membuat kita tidak bisa merenungkan sebuah isu dari berbagai macam pertimbangan.

Kita juga tidak terbiasa berpikir untuk mencari sebab-musabab dari sebuah isu. Kita hanya tahu ‘copy paste’. Kita lelah  memikirkan sesuatu yang terlalu rumit. Kita terbiasa pada kemudahan. Maka, inilah yang sebenarnya mereduksi ‘logical reasing’ kita. Jarang kita tanyakan kenapa kita bisa begitu jenuh hari ini. Kenapa kita tidak begitu puas meski sudah mendapatkan gaji tinggi. Kenapa kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik pada keluarga di rumah. Bagaimana agar aku bisa bahagia. Bagaimana cara agar aku bisa kerja sesuai passion. Semua pertanyaan ini adalah hal mendasar yang seharusnya kita pikirkan. Atau kamu mungkin memiliki masalah lain yang sekarang kamu hindari karena tak kuat memikirkannya?

tumblr_m5vmuwVyRg1ry8a3ro1_500-3590

logical reasoning berangkat dari kebiasaan dalam berdialektik. Seseorang yang tidak terbiasa untuk bermusyawarah, tidak terbiasa berkomunikasi interpersonal, dan mungkin hanya berlaku sebagai pasif komunikan akan depresi untuk mencari tahu jawaban dari persoalan diri. Pelarian dari ketidakmampuan ini akhirnya lari pada topik yang dibangun orang lain. Sehingga, habis waktu kita untuk memikirkan sesuatu yang tidak pernah menjawab pertanyaan alamiah kita sendiri.

Beristirahatlah. Temui keluarga dan teman. Kenali apa masalah kita. Ceritakan. Kenapa bisa terjadi dan bagaimana menyelesaikannya. Kita perlu waktu untuk merenung. Karena merenung memberikan ruang bagi kita agar mengenal diri sendiri yang tidak akan diwakili oleh platform manapun.

Rumah Bagi Setia

Aku hapal kedua bola mata itu. Geraknya yang terlatih perlahan. Menguliti pandangan mata siapapun yang menghadapinya. Matanya tidak beralih dari tempat dimana aku sekarang berdiri. Ia duduk dengan kedua tangan ditopang lengan kursi. Raut wajahnya seperti biasa, sedikit basah dan dingin. Kita berdua terjebak di satu ruangan yang terkesan asing namun juga terasa sangat hangat. Di luar sana tidak terdengar apa-apa kecuali riuh cuit burung yang bersuara tak seperti biasa. Seperti mantra.

Untitled

“Sudah kubilang, jatuh cinta dan setia itu berbeda.” Kalimatnya memecah keheningan yang dari tadi menyelimuti kami. “Seharusnya dia tahu bahwa aku mungkin tidak pernah mencintainya.”

Sebelum ia meneruskan, kuberanikan diri memotong kalimatnya. Kutanyakan apa yang membebani kakinya hingga tak beranjak dari ia duduk. Sudah hampir setahun. Dan pagi tadi, ia juga sudah tidak menyiapkan kudapan untuk tamu undangan. Ia hanya duduk. Mengunci diriku dengan dua kosakata antara cinta dan setia.

“Yang dilempar ke dunia ini hanyalah cinta. Ia tumbuh meranggas seperti rumput yang tak pernah kau harapkan. Kata itu telah membatukan manusia menjadi parasit pohon-pohon di sekitar.” Tidak bisa kupahami benar apa yang dikatakannya. Raut wajahnya tak berubah sama sekali. “Sedangkan  setia berbeda. Ia tumbuh di tempat lain. Mungkin di jurang yang menciutkan nyalimu. Bisa jadi di atap gedung yang tak sampai ditangkap matamu.”

Kurasa rangkaian kalimatnya terlalu mengandung pertanyaan. Ia tak biasanya berkata dengan pilihan kata seperti itu. Apakah ia tengah mengigau, aku tak tahu. Biar saja aku dengar sampai mana ia akan mengakhiri kalimatnya.

“Kau tahu kenapa sekarang kita berdua ada di sini? Jika saja aku tanyakan apakah kau mencintaiku, mungkin pikiranmu akan berusaha mencari alasan. Bisa jadi. Mungkin juga kau setia padaku. Aku juga tak tahu.”

Aku sudah tak sabar lagi. Kepalaku pusing menerima jejalan kalimatnya yang datang menghujam. Aku perhatikan dinding ruang itu. Tidak ada pajangan lukisan apapun. Hanya ada gambar aku di sudut dinding, dan lukisan ia di sudut yang lain. Hampir setiap perabotan di sini sangat akrab bagiku.

“Bisa kau permudah?”

“Aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Bahkan lebih dalam dari kegelapan. Aku sumpahi diriku sendiri untuk menggandeng tangannya. Menemani dia mencapai segala obsesinya. Aku adalah baju bagi dirinya. Tapi apakah kau tahu?” Dia menrubah sorot matanya. Semakin tajam.

“Aku harus berulang kali menyakiti diri sendiri. Cinta ternyata bukan jaminan. Cinta adalah rumput meranggas. Akhirnya aku berhenti mencintainya.”

Kalimat terakhirnya membuatku bingung. “Lalu bagaimana selanjutnya?”

Ia menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan. “Aku beranikan diri menaiki gedung yang tinggi sekaligus terjun ke jurang yang dalam.”

Sepertinya aku mulai mengerti kemana arah perkataannya. “Jadi kau putuskan untuk setia?” Dia mendehem, lantas mengangkat wajahnya, tersenyum. Tandanya pertanyaanku benar.

“Waktuku tidak akan banyak untuk sekedar mengajarimu apa itu setia. Kau hanya perlu tahu. Bahwa engkau hidup sebagai penggembala. Kau gembala kecil yang menggiring peliharaan pikiranmu sendiri.”

Aku rasakan angin mulai menyelimutinya. Menghembuskan kulitnya. Aneh! Aku perhatikan kulitnya mengelupas sedikit demi sedikit. Ia seperti patung yang rapuh. Baginya sendiri, ia seolah tak merasakan apa-apa.  Apakah pandanganku saja yang semakin kabur?

“Setelah kau dengar keteranganku. Kau akan sulit untuk jatuh cinta. Kau seperti kekasihku. Kau orang yang terlalu larut dalam angan-angan. Kau rakus!” suaranya merendah, membuatku harus sedikit kepayahan menangkap kata demi kata.

Tiba-tiba saja tubuhnya yang basah menjadi kering dan berdebu. Mula-mula tangannya yang ditopang kursi berhamburan menjadi serpihan tanah. Kakinya mulai ditumbuhi batangan mawar. Dan tubuhnya mulai ditumbuhi daun-daun. Lengan kursi itu menjadi sepasang nisan yang menuliskan dirinya sendiri dengan nama yang selalu memecahkan kaca di mata. Tiba-tiba saja semua menjadi putih. Beberapa waktu. Satu, dua, tiga, hingga beberapa waktu.

Di luar telingaku aku dengar orang-orang mulai melangkah menjauh dari pemakaman. Sedang kurasakan tubuhku masih terduduk melamatinya.

“Mungkin aku tahu sekarang kenapa aku masih bisa mengangkat kaki ke sini. Cinta hanya rumput ranggas. Setia sendiri jadi kegelapan yang dalam.” Kuraih ponsel di sakuku. tertulis disana seseorang mengirim pesan. “Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin.” Kujauhi tempat itu. Melihat sekeliling. Rasanya seperti di sinilah jurang bagi kehidupan dalam ruang yang berbeda. Terima kasih. Idul Fitri tahun ini kita hanya berkirim setia.

Apakah Aku Hidup Untuk Dilupakan?

Tulisan ini ditulis pada hari – 30 Ramadhan 1440 H/ 2019. Tulisan ini juga tidak akan menyinggung anjuran agama. Tulisan ini mengajak Anda sedikit menengok kejadian masa lalu tentang dunia dan kejadiannya.

Bisakah Anda memprediksi berita atau topik apa yang akan lahir sampai akhir Desember nanti? Biar saya ajak Anda mengingat. Perayaan lebaran, isu tentang peresmian presiden. Hukum mengucapkan Hari Natal bagi Muslim atau hukum merayakan Tahun Baru. Semua itu adalah prediksi yang dihitung dari ukuran periode.

Maksud saya begini, banyak dari kita yang hidup pada zaman milenial mengalami kemunduran dalam mengamati dunia. Dunia yang ada dalam diri kita. Kita seolah lebih mengenal orang lain daripada diri kita sendiri hanya dari omongan media yang mengambil data dari ‘menurut’.

Mundur ke belakang, saya tertarik mengutip salah satu esensi cerita dari Frank kelada Vera dalam “Dunia Maya” yang dikisahkan Jostein Gaarder. Ia menyebutkan “Kita bisa hidup lebih lama untuk mengingat masa lalu. Tapi kita tak pernah bisa hidup di masa depan.”

Kita melihat, alam dunia ini terus memberikan masa demi masa. Manusia pertama dihidupkan dan jatuh ke bumi bersama kekasihnya. Peradaban dimulai dari waktu ke waktu. Nama-nama dan bahasa kemudian disepakati untuk menghayati dunia. Mungkinkah mereka memikirkan kita yang hidup jauh sebelum mereka? Adakah mereka pernah membicarakan pakaian seperti apa yang akan kita kenakan ini?

Tidak jauh sebelum zaman milenial, sebelum kita mengenal antena televisi yang menjamur di atap rumah, kita adalah orang yang suka bercerita dengan tetangga. Kisah verbal dari mulut ke mulut untuk menghidupkan kisah yang sudah mati. Mungkin tentang Adam atau Hawa. Kita bahkan dibodohi otoriterian presiden kita untuk waktu yang lama. Apakah orang tua kita lantas protes dan seolah terganggu hidupnya? Mereka hanya akan mengeluh pada tetangga. Kuncinya ada pada arus informasi.

Kebudayaan kita adalah budaya tutur. Ini sudah dijelaskan dalam kesustraan Jawa tentang Walisongo yang dakwah dengan pendekatan kultural. Ceramah pastur. Banyak dari kita telah mati setelah teknologi lahir. Kemudahan ini membuat kita menjadi aladin atau doreamon, bisa jadi Jin zaman Sulaiman. Kita mendapat informasi yang terus menerus berubah dalam waktu yang singkat dan cepat. Kita terpaksa mengikuti itu semua.

Akhirnya, kita banyak menghabiskan waktu untuk mengenal kehidupan luar. Jauh itu, kita mulai tidak mengenal sebenarnya hakikat kita. Ramadhan ini akan diganti topik THR. Lantas masihkah kita akan menjaga kebudayaan temporal selama 30 hari ini?

Kita bisa belajar dari kitab suci. Kitab suci memberikan peluang bagi kita untuk mengenal dunia sebelum kita. Menjaga kematian dan kisahnya. Menjaga kebaikan dan keburukannya. Ini menjadi refleksi kita agar kita bisa mengetahui latar belakang diri kita. Perayaan periodek telah menjadi makanan kita sehari-hari. Kita dididik dunia untuk memikirkan hari ini dan esok. Kita tidak diajarkan untuk menentukan alasan apakah hari ini dan esok dibentuk dari kemarin.

Pada akhirnya, kita yang hidup tidak akan menjadi cerita apapun. Kita tidak akan diberkahi cerita apapun. Kita akan mati menjadi hantu. Tidak menjadi cerita. Tidak menjadi mitos. Kita menjadi butir pasir peradaban yang ditinggalkan. Mari kita kenali keluarga kita. Kita bangun hidup kita dengan versi kita. Kita adalah buah yang matang dari tangkai yang mengeluarkan buah matang sebelum kita.

Ditulis: Muhsin Ibnu Zuhri