Apa Salah Saya?

Kemarin sore saya hendak pulang dari Semarang ke Salatiga. Saya menunggu bus yang keluar dari terminal di kawasan Kaligawe. Jalanan padat oleh para pengendara yang malang-melintang selepas kerja. Suasana agak macet karena beberapa mobil menyalakan sen ke kiri atas instruksi polisi lalu lintas. Ada pengecekan kelengkapan kendaraan.

Entah mengapa, sore itu memang sangat bagus cuacanya. Langit merona cerah, orang lalu-lalang, penjual, pekerja, bahkan beberapa mahasiswa dari kampus setempat yang hilir-mudik membuat saya ingin mengambil gambar.

Hampir seperempat jam saya di sana dengan kumpulan hampir 5 foto terbaik menurut saya. Dari simpang badan jalan, bus Safari keluar dari terminal. Saya sudah beranjak berdiri, melangkah ke tengah jalan untuk mencegah bus, naik. Tiba-tiba suara meneriaki saya, seorang polisi memanggil saya. Bus Safari terlewatkan. Saya pun menghampiri polisi tersebut.

“Ada apa, Pak? ” Tanya saya.

” Lihat HP nya, Mas! ” Pinta petugas.

Saya pun memberikan HP saya.

” Ini saya hapus, Mas. ”

Saya terheran. Ini kenapa foto saya dihapus. Saya kira tidak ada masalah dengan foto saya.

” Loh, kenapa pak? Ini kan saya hanya memotret jalanan saja. Apa salahnya? ”

” Pokoknya tidak boleh, Mas. Atau jenengan mau saya laporkan ke komandan? ”

Karena saya tidak mau memperpanjang urusan, akhirnya saya hapus foto tersebut. Kemudian saya menyingkir dari lokasi. Saya merapat ke area ojek pengkolan.

” Mau kemana, Mas? ” Tanya segerombolan ojek.

” Mau ke Salatiga, Pak. ” saya menambahkan, ” Tadi kenapa saya foto area ini diminta menghapus, Pak?” Tanya saya sok polos.

“Ya begitu itu, Mas. Operasi kok hampir tiap hari. Bisa kali 3 kali sehari. Dah kayak minum obat aja. ” Seorang pengojek sewot.

Saya mengerti. Ada yang aneh dalam pikiran saya. Saya memang tidak berniat menulis ini. Tapi, karena ada upaya dari pihak tertentu meminta menghapus foto, membuat saya geram juga.

Ada beberapa pertanyaan, kenapa tindakan penertiban berkas kendaraan tidak boleh terpublikasikan? Kedua, kenapa seolah tindakan ini adalah tindakan yang menimbulkan kekhawatiran bila tersorot. Bukankah bagus jika orang tahu agar surat dilengkapi.

Adanya tindakan penertiban boleh dilakukan dengan formalitas yang valid. Jika memang itu sudah menjadi tanggungjawab, kenapa pula harus was-was ada yang melihat? Saya pun memaklumi setiap tindakan penertiban. Tapi, dengan cara merampas hak saya dalam berekspresi lewat foto. Saya tidak bisa memaklumi. Ini bukan apa-apa. Ini adalah wujud sederhana dari sebuah rasa menghargai.

Saya tidak akan mempermasalahkan kasus ini. Saya hanya mempermasalahkan hak saya. Kenapa? Sila pembaca beri komentar.

Iklan

Jangan Larang Wanita Berdandan!

“Cowok yang hanya menyukai cewek yang natural tanpa make up sama sekali itu gak ada.” Itulah kiranya yang dikatakan salah seorang kawan saya, cewek. Lalu ada kawan saya, cowok, berkata, “Cewek yang tanpa make up itu kelihatan lebih cantik.” Keduanya berdebat dan saya cukup berpikir dan memerhatikan.

(Foto diambil dari profil bisnis MUA)

Beberapa lelaki memang tidak suka wanita yang berias terlalu mencolok. Alasannya bisa sangat beragam. Dari sini muncul ketidaknyamanan lelaki kalau bersama dengan wanita yang berias wajah. Beberapa indikasi mengatakan bahwa lelaki memang tidak memiliki basis untuk berdandan di bagian wajah, sehingga tidak heran mereka mengalami keheranan yang cukup terhadapa pemandangan wajah berdandan.

Wanita sendiri juga mengatakan bahwa mana ada wanita dewasa yang tidak kenal make up jaman sekarang. mereka mengatakan bahwa mereka perlu juga untuk berpenampilan menarik. Hal tersebut merupakan cara juga untuk menghargai penampilan.

Dari kedua persepsi di atas memang perlu adanya garis pembenah antara lelaki dan perempuan. Hal yang perlu kita luruskan adalah pemahaman ‘berdandan’ dan jenis-jenis make up. Dengan begini, semoga ada kesadaran yang timbul bagi laki-laki dalam menilai wanita, dan wanita bisa menempatkan diri di hadapan lelaki.

Dandan secara istilah memiliki makna menjadi baik dalam ruang lingkup penampilan. Cakupannya tidak hanya tertuju pada baju, tubuh, bahkan wajah juga. Budaya kita, terutama bagi laki-laki, mendengarkan kata ‘dandan’ ini bersifat accidental. Biasanya kata ini didengar ketika kita berada forum acara seperti pernikahan, kantor, bahkan dalam kehidupan lain seperti artis dan model.

Perwujudan kata dandan sesempit itu yang nampak sehingga menampilkan suatu ruang sempit terhadap pandangan dandan. Beberapa lelaki yang tidak terbiasa berada dalam ruang lingkup seperti itu akan merasa skeptis pada penggunaan kata dandan.

Padahal, bila kita tinjau lebih waras lagi, dandan juga dilakukan oleh lelaki dan perempuan. Dandan pada tubuh akan menggunakan pakaian. Lelaki manapun yang sudah paham akan arti penampilan akan memerhatikan pakaian apa yang pantas digunakan. Tidak akan cocok apabila seorang lelaki menggunakan jaket tebal seperti di Korea atau Jepang di daerah panas seperti Jakarta atau Semarang pada siang hari. kita bisa persempit kembali, kita tidak bisa melepaskan diri dari namanya berdandan. Bila mengetahui dampak daripada bau mulut akan mengakibatkan ketidakpercayaandiri, maka kita akan memikirkan bagaimana sikat gigi itu perlu.Kita mandi menggunakan sabun saja itu bisa kita sebut dandan. Itu adalah natural pikiran manusia dalam memerhatikan dan menghargai diri.

Kesalahkaprahan dan sempitnya penggunaan kata dandan ini, akhirnya berdampak pada turunannya. Kita sebutkan make up. make up yang muncul ke permukaan masyarakat kita selalu identik dengan penampilan yang eksklusif dan mencolok. Padahal, seperti yang saya tanyakan kepada bberapa make up artist, mengatakan bahwa ada jenis-jenis make up yang lelaki kurang kenali.

Seperti yang penulis dapatkan dari bahan wawancara bahwapenggunaan make up setidaknya terbagi ke dalam tiga jenis penggunaan. Natural, soft bold, dan bold. Faktanya, sudut pandang kita cenderung pada jenis kedua dan ketiga.

Natural tetap menggunakan make up. Hanya saja kenampakan atau ketebalan pada wajah cenderung tipis. Hal ini yang sering dikeluhkan para wanita. “Bagaimanapun, cewek itu suka berdandan meskipun itu Cuma pakai pelembab dan lips gloss. Sekarang gini deh, kalau semisal aku gak pakai apa-apa alias tawar. Aku jalan sama pasanganku. Mukaku kusam, kulit kering, bibir terkesan pucat dan seperti mengelupas, emangnya ini gak jadi masalah buat dia? Tentu aja masalah.” Kata seorang kawan yang saya tanyai. Ia menambahkan, “Cewek yang mereka tonton di instagram atau TV, itu semua tetap pakai make up.” Dari sini saya ambil satu kesimpulan bahwa naturalnya penampilan wajah diukur dari samar tidaknya penggunaan make up terhadap kontras wajah.

Soft bold dan bold lebih cenderung digunakan dalam situasi yang formal, seperti dalam acara pernikahan ataupun lingkup kerja. Hal ini memang memberikan nilai tambah bagi wanita. Hal ini tidak bisa dihindari.

Lelaki perlu tahu kebutuhan perempuan, kaitannya dengan penampilan wajah. Setidaknya ada beberapa alasan kenapa wanita berdandan. Pertama, senturalnya penampilan memang perlu make up. kedua, wujud dari menghargai diri sendiri. ketiga, menghargai special moment. Keempat, penunjang karir. Kelima, membuat perbedaa. Untuk itu, jika ada lelaki yang tidak suka kekasihnya mengenakan make up, perlu sekali ditanyakan. Mungkin mereka tidak mau membelikan make up.

Di sisi lain, wanita juga harus paham benar bagaimana sudut pandang lelaki. Dalam beberapa kasus, banyak wanita yang menggunakan model soft bold atau bold dalam penampilan pada beberapa casual occasion. Tentu ini akan membuat lelaki risih. Itu sangat wajar. Jadi, perdebatan make up perlu diluruskan dari kedua belah pihak.

Sebagai penutup, buka mata kita dalam memaknai kata ‘dandan’ sesuai porsinya. Hargai penampilan dan kesempatan. Hargai kebutuhan natural kita sebagai manusia dalam bereksistensi. Perempuan juga perlu menjelaskan makna dandan kepada lelaki agar tidak ada salah paham. Jangankan kita, koruptor perlu banyak dandan agar baunya tidak tercium. So far, gunakanlah akal sehat kita untuk hubungan yang lebih erat.

Mahar Ciuman untuk Sukesi

Perempuan itu masih menundukkan kepalanya. Pikirannya berputar-putar pada kenyataan yang selalu ia paksa maklumi. Ia harus kesekian kalinya menerima bahwa semua lelaki yang pernah mendekatinya hanya serigala. Bibir mereka keluar liur yang mematikan. Baunya menusuk hidung. Ia sadar, bukan suatu pilihan menjadi perempuan dalam pengecualian. Siapa pula yang ingin menjadi wanita kaya dan cantik seperti kata orang-orang itu. Matanya basah, tapi kepongahan sisi kewanitaannya menahannya jatuh.

Namanya Dewi Sukesi. Nama yang mengutuk takdir. Sebuah nama yang dititiskan untuk mengantarnya menjalani kehidupan yang gersang. Telinganya tidak akan heran mendengarkan pujian atas tubuhnya yang menggoda. Apalagi hartanya. Mereka semua hanya melihat betapa ia haus akan keperkasaan lelaki. Tubuhnya sering menggigil dan bergetar membayangkan kulit-kulitnya mendapatkan sentuhan lembut. Bahkan, saat ia duduk bersantai di depan rumah, memerhatikan para pemuda mengangkut karung beras, dadanya sering gatal. Apalagi melihat dada bidang pemuda itu, sungguh sebuah landaian yang tepat menyandarkan kesepian.

Sebenarnya tidak seburuk itu nasibnya bersama lelaki. Ia pernah sekali menaruh kepercayaan pada lelaki. Namanya Jaka. Ia seorang jagoan yang sering menghabiskan waktunya di pasar, memeras pedagang, berkelahi. Semua orang takut padanya. Sukesi pernah didekatinya dan menjalin hubungan terlarang. Jaka selalu bisa bertingkah baik di hadapan Sukesi. Ia akan mendadak bertutur ramah dengan semua orang di pasar, meskipun balasannya pandangan jengkel. Hingga pada satu malam, Jaka mendatangi Sukesi dan mengajaknya ke tepi desa. Jaka terus mengucapkan kebaikan-kebaikan yang sering ia lakukan, berapa banyak ia telah memperjuangkan hak para penjual dari kapitalis pasar, dan semua kebaikan yang tidak tampak selaras dengan perawakannya.

Jaka dan Sukesi menjadi satu. Tubuh mereka memanas, saling menggabungkan keringat satu sama lain di bawah langit yang hitam sedikit. Mereka melakukannya setiap akhir pekan. Namun, beberapa pekan Jaka tidak kelihatan. Sukesi nampak gelisah. Tubuhnya merindukan gerak-gerik keperkasaan Jaka yang tak ada tandingnya di dunia ini. Sukesi mencoba menanyakan kepada para pedagang. Dan benar, Jaka dikabarkan mati karena dipukuli para pedagang yang kehilangan kesabaran atas perilaku Jaka; merampas uang jualan. Sukesi tak terkejut, ia tahu, dari awal Jaka memang bukan orang baik-baik. Bagi Sukesi, lelaki itu otaknya binatang.

Beberapa lelaki setelah Jaka berusaha mendekati Sukesi dengan begitu banyak kebaikan yang ditawarkan. Ada Saridin yang suka menawarkan bingkisan barang-barang dari luar negeri. Sukesi tahu, Saridin hanya menggunakan harta orang tuanya untuk menarik perhatiannya. Sukesi tidak suka transaksi seperti ini. Lalu ada Juki, seorang pejabat. Juki memang tidak membawa bingkisan. Tubuhnya juga tak seperkasa Jaka. Kata orang, Juki itu impoten. Tapi mulutnya sungguh berbisa. Ia seperti peramal. Ia utarakan jaminan hidup bahagia dan segala kebutuhan yang diinginkan Sukesi. Kandas pula. Sukesi tidak suka lelaki loyo. Ia juga tak ingin anaknya kelak hanya makan janji. Perut bukan otak. Perut perlu nasi bukan janji.

****

“Siapa lelaki itu, Mar?” Sukesi bertanya pada pembantunya, Maryam.
“Dia itu Wiji, Ndoro.” Jawab Maryam lemah.
Ada yang aneh menyeruak dada Sukesi seketika ia memandang Wiji. Wiji bertubuh tegap, badannya gelap, miskin, dan tangannya kudisan. Ia datang ke rumah Sukesi sebagai pengantar uang miliki ayahnya. Seperti yang orang tahu, ayah Sukesi memiliki beberapa cabang lumbung padi di beberapa tempat. Wiji lah yang bertugas membawa uang dan melapor keuangan bulanan pada ayah Sukesi.

Siang itu Wiji mengetuk pintu rumah Sukesi. Sukesi yang mendengar ketukan pintu, mendekat dan mendapati Wiji yang kaget merundukkan kepala. Mata mereka secepat cahaya. Sukesi merasakan sebuah perasaan yang aneh. Seperti sebuah kehormatan. Mata Wiji tak beralih memandang lantai. Sampai beberapa detik, Wiji mulai menyakan ayah Sukesi.

“Bapak sedang dipanggil kepala desa. Masuklah!” Perintah Sukesi.

“Saya tidak berani, Ndoro.”

“Kenapa” Tanya Sukesi selidik.

“Tidak baik orang seperti saya masuk sebelum penghuni rumah berada di dalam.”

“Ada aku.”

“Sungguh maaf, Ndoro. Bukanlah maksud saya lancang. Tapi tidaklah baik dua orang lelaki dan perempuan dalam satu rumah tanpa hubungan apapun. Saya takut fitnah, Ndoro.”

Sukesi terkejut dengan jawaban Wiji. Pertama kali ini ia tidak diperlakukan seperti seorang perempuan dengan dada besar dan pinggul menantang. Wiji bahkan tidak memandang matanya sama sekali. Sebuah perasaan yang ganjil.

“Tapi kita tidak melakukan apa-apa. Lagi pula, siapa pula yang akan berani menuduh aku seperti itu. Lagi pula mana mungkin aku mau sama kamu.”

“Sahaya, Ndoro”

Merasa semakin tertantang, Sukesi ingin lebih lama mendengar kata-kata lelaki gelap dan buruk ini. Ia meminta Wiji duduk di teras. Sukesi terus melancarkan pertanyaan-pertanyaan.

“Wiji. Apa kau sekolah di surau?”

“Tidak, Ndoro. Saya tidak sekolah.”

“Lalu bagaimana kau bisa bekerja sebagai pengantar uang bapak dan menjadi juru hitung keuangan lumbung?”

“Maaf, Ndoro. Ibu sahaya yang mengajari sahaya.”

“Apa yang ibumu ajarkan padamu selain berhitung?”

“Ibu sahaya hanya seorang janda. Ibu bilang, saya diajari untuk mencintai yang tak nampak, Ndoro.”

“Makud kamu mencintai hal yang tak nampak?”

“Yang selalu ibu saya ajarkan, bahwa yang nampak semua ini bisa menipu. Tapi dengan belajar mencintai hal yang tak nampak, kita sedang menjalani hakikat hidup.”

“Jangan kau seolah mengguruiku.”
“Sahaya, Ndoro.”

Setelah tak ada yang perlu dipertanyakan lagi, Sukesi beranjak dan masuk kedalam. Kepalanya mendikte ucapan Wiji, mencintai yang tak nampak.

****

Setelah pertemuan yang berulang, Sukesi tidak mendapatkan adanya perubahan pada diri Wiji. Apa yang dia ucapkan tentang hal yang tak nampak mengganggu kepalanya. Ia tidak suka berpikir keras. Ia tidak suka jika ada lelaki yang mengusik tidurnya dengan cara yang tidak adil seperti ini. Lalu ia beranikan diri menanyakan pada Wiji tentang satu perkara.

“Sahaya, Ndoro. Tak ada yang mau dengan sahaya. Sungguh jika boleh ingin mencari seorang istri, sahaya ingin memperistri ibu saya.” Jawab Wiji dengan begitu datar dan lemah. Posisi duduk tidak berubah, di lantai dan Sukesi di kursi teras.

“Apakah kau gila. Menikahi ibumu sendiri sedangkan banyak wanita cantik dan menggoda di luar sana.”

“Sahaya, Ndoro. Jika hanya dosa dengan menikahi ibu sahaya, maka sahaya memilih untuk tidak menikahi siapapun.”

“apa alasannya?”Sukesi semakin tidak mengerti.

“Karena tidak ada wanita yang menyukai keburukan. Sahaya ini buruk, Ndoro. Yang sahay miliki hanya nasehat Ibu.”

“Bagaimana jika aku mencintaimu?”

Nadanya menghina tapi sangat jujur dari hati Sukesi.

“Sahaya, Ndoro. Tidaklah layak seorang perempuan menyatakan perasaannya di depan lelaki terlebih dahulu. Ndak elok”
“Persetan dengan itu. Aku ingin kamu melakukan satu hal untukku.”

Wiji mulai mendongakkan wajahnya. Matanya penuh tanda tanya.

“Nikahi aku!” Sukesi menutup pembicaraan dengan tegas dan senyum yang menakutkan Wiji. “Bawa Ibumu serta kau besok. Aku tunggu di sini dengan. Penghulu akan datang pada pukul sembilan pagi. Jangan telat.”
Malam hari semua orang di desa diberitahu berita mengejutkan ini. Anak perempuan seorang saudagar kaya akan menikah dengan lelaki pesuruh, bau, dan miskin. Berita cepat sekali menyebar sampai ke telinga Saridin dan Juki. Mereka kebakaran jenggot mendengar Sukesi, perempuan yang ia dambakan, akan bersanding dengan lelaki yang jauh dibawah derajat mereka.

Pagi itu, pukul delapan tiga puluh, semua orang sudah berkumpul untuk menunggu kedatangan mempelai lelaki. Semua orang terkesiap pada kecantikan yang dipancarkan Sukesi. Dengan mengenakan rambut yang disanggul, kebaya yang menyembulkan dua gunung dadanya, selendang cokelar bermotif gelatik, Sukesi berhasil menghipnotis semua orang. Juki dan Saridin juga ada di sana.

Pukul sembilan lewat tiga puluh. Wiji belum juga datang. Sukesi menunggu dengan gelisah. Di ujung jalan, seorang wanita tua bungkuk datang dengan raut wajah yang begitu mendung. Ia melewati seluruh hadirin dan mendekati Sukesi. Ia menangis sambil menyodorkan secarik kertas.

“Pagi tadi saya temukan kertas ini di atas dipan tidur anak sahaya.”

Sukesi meraih dan tak sabar membacanya.

“Apakah aku ini berhak atas perempuan yang begitu istimewa di hadapan mata seluruh pria? Aku sadar Sukesi sungguh mendebarkan hati. Tapi keputusan pernikahan ini hanya akan menjadikan bencana. Sebuah ketimpangan dari budaya. Sebuah peristiwa yang akan mengubah dunia. Sukesi adalah satunya wanita yang mampu mencintai hal yang tak nampak, seperti ibu. Tapi benar, taruhan dari perubahan ini mempertaruhkan nyawa. Nyawa yang tak berharga dibawah keangkuhan tahta. Sepulang dari rumahnya. Saridin dan Juki memainkan perannya. Aku tak ingin dunia ini celaka. Hal yang bisa dilakukan kebaikan dari yang tak nampak adalah menampakkan dalam kefanaan. Dan maaf, Sukesi. Jikalau aku memperistrimu, dunia ini tidak akan sepakat. Seperi Juki dan Saridin. Maka dari itu, aku putuskan hidup dalam ketiadaanmu, Sukesi. Maka dengan satu pinta, berikan aku ciuman yang berarti kau mencintaiku.” Sukesi menutup suratnya. Semua orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sukesi memandang sekitar dan berseru, “Dan jika hanya ada pilihan aku menikahi seorang lelaki selain Wiji, aku hanya akan menikah kepada lelaki yang buta matanya dan sering menggunakan telinganya untuk mendengarkan pesan ibunya.”

Kenapa Masih Saja Debat Hukum Perayaan Tahun Baru? Cukup

Setiap waktu perlu kita syukuri. Tapi, masih saja muncul asumsi tentang perdebatan bagaimana sikap kita menyikapi tahun baru. Ada yang bilang ini dan itu. Sehingga sampai sekarang yang terjadi bukan menentramkan hati, justru memanaskan suasana. Maka tulisan saya ini hanya bentuk pemikiran dari orang yang tidak luput dari kesalahan. Mari kita bercerita dan menyikapi dengan penuh pertimbangan.

(Anda bisa tonton versi video artikel ini)

Beberapa waktu terakhir ini saya mendapati banyak sekali repetisi problematika perihal tahun baru. Setiap kita berbicara soal tahun baru, sebagai seorang Muslim, selalu saja muncul pertanyaan “apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru.” Jawaban yang muncul bernada beragam. Ada yang mengatakan bahwa Islam telah memiliki tahun baru sendiri yakni pada tanggal 1 Muharram. Ada yang mefatwakan haram sampai mubah (boleh). Dengan ekslusifitas ini, muncul persepsi tentang menanyakan status tahun baru masehi. Tahun baru masehi muncul bersamaan dengan hegemoni perayaan umat Kristen. Tapi saya tidak akan membahas mengenai hukum perayaan atas nama agama. Mari kita menyikapi dengan kepala dingin.

Tanggal 1 Januari diperingati sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih. Tahun baru dirayakan di penghujung tanggal 31 Desember menuju 1 Januari. Pendekatan ini yang akhirnya membuat seorang mulai berspekulasi tentang adanya substansi agama di dalamnya. Di sisi lain, penanggalan masehi diletakkan sebagai kalender nasional. Ini yang membuat masehi menjadi penaggalan inklusif terhadap bangsa di atas nama agama. Bila kita perhatikan, tahun baru eksklusif lainnya bisa kita dapati pada Islam, Cina, maupun Jawa. Jadi ada garis antara bentuk tahun baru yang sifatnya eksklusif dan inklusif. Hal ini perlu dilihat dari kacamata historis. Sekali lagi, tahun baru memiliki dua wajah.

Mengucapkan saja menjadi polemik, lalu bagaimana dengan perayaannya? Kenapa semua ini bisa muncul sebagai problem? Contoh kecil saja, bagaimana kita musti menyikapi bahwa kita menyukai suatu band tertentu yang diundang ke kota kecil kita. Kita sungguh ingin menontonnya. Tetapi sayangnya, band tersebut diundang dalam rangka akhir tahun/tahun baru. Akhirnya ada ketakutan di dalam pikiran apakah dengan menonton band tersebut kita seolah menjadi objek dari perdebatan. Di sisi lain, di waktu yang sama, banyak di masjid berdzikir dan doa bersama. Di gereja ada panjat doa. Berlaku juga terhadap agama lainnya yang melakukan ritual senada secara ekslusif. Lalu kita harus bagaimana?

Kembali lagi, hal ini mencakup pada orientasi waktu yang seolah-olah mistis. Kita terlalu sering dihadapkan pada situasi yang sifatnya momentum. Tidak hanya tahun baru, kita sering mengistimewakan hari seperti hari ulang tahun, perayaan wisuda, perayaan kelulusan, perayaan kenaikan jabatan. Sekali lagi, kita sering mengacu kepada orientasi momentum waktu. Kini muncul pertanyaan muncul kembali, “apakah hari lain itu tidak istimewa dan tak berhak dirayakan?”

Setiap tanggal merah menghiasi kalender, akan selalu nampak respon tidak langsung terhadap gaya perilaku kita. Malam sabtu akhirnya dikeramatkan,misalnya. Siswa sekolah menganggap ini menjadi waktu yang tepat untuk begadang. Para pekerja akan meluangkan waktu untuk menikmati waktu yang lebih senggang. Tidak heran muncul ujaran “malam minggu ngapain nih?”. Apa bedanya malam minggu dengan malam-malam yang lain? Apa keistimewaan malam minggu. Sekali lagi, ini mencakup benang merah antara eksklusifitas dan ingkluisifitas peristiwa.

Dampak dari respon gelombang kejut momentum ini akhirnya yang sekaligus menjadi polemik. Selama seorang menilik pandang hari tertentu selalu tercakup kepada teologi, selama itu akan terjadi benturan ajaran dan tata aturan. Tetapi ketika kita kembalikan lagi persepsi kepada diri kita, maka yang terjadi adalah keintiman terhadap batin. Hal ini yang kemudian memunculkan argumen soal niat. Istilahnya private purpose. Kita hanya ingin mengajak kawan-kawan keluar malam karena waktu seperti yang disebut diatas adalah alasan kita bisa berkumpul bersama. Kita merayakan keluangan ini. Kita kembalikan pada purpose kita. Semisal tahun baru diluar sana orang mulai merayakan dengan cara yang semarak, mereka berhak atas gaya perilaku yang mereka tentukan. Hal yang perlu dipertegas adalah adanya batasan-batasan aturan agama dan etika berkomunikasi sosial.

Kita perkecil lagi rentang tali konflik ini, jika makna daripada tahun baru (semua jenis tahun baru) adalah menanamkan doa-doa baik. Kenapa kita tidak melakukannya setiap waktu. Semisal setiap hari kita berdoa agar waktu yang kita dapati merupakan waktu yang perlu kita syukuri. Kebiasaan ini yang nampaknya memang belum muncul ke permukaan. Ketika kita terbiasa berdoa secara intim dan mulai merayakannya dengan hal-hal baik, kita tidak akan terkejut terhadap stigma momen perayaan. Setiap waktu memiliki wajah khusus dan umumnya. Jika masalah tahun baru dikaitkan dengan perayaan keagamaan, bagaimana jika kita tanamkan dalam diri untuk mensyukuri akhir tahun? Apakah tanggal 31 Desember merupakan hari yang sakral dari kacamata teologis? Sebagaimana mensyukuri tanggal merah panjang, kita berhak atas penentuan waktu luang ini.

Bagaimana pun, kita kembalikan kepada cara sudut pandang kita. Silakan Anda tidak setuju, tapi saya juga tidak tertarik dengan perayaan tahun baru atau akhir tahun. Saya hanya ingin menikmati waktu luang dengan cara saya. Beberapa orang tidak menumpukan gaya perilaku mereka terhadap waktu hari, mereka lebih bertumpu pada cara melakukan hal yang senangi senangi dan dapat dilakukan setiap ada waktu luang. Karena bagi beberapa orang, ekslufitas waktu itu miliki pribadi. Ingklusifitas waktu miliki bersama. Maka, alangkah lebih baik kita beri ketegasan batasan agama dan batasan bernegara. Silakan nikmati waktu luang Anda.

Kita Sering Tidak Rela Melihat Orang Lain Bahagia

Apakah Anda pernah begitu jengkel melihat kawan-kawan Anda mendapatkan kebahagiaan mereka? Mungkin dengan sederhananya Anda tidak suka jika hal-hal yang Anda cita-citakan justru didapatkan oleh orang lain yang sebenarnya tidak begitu mengharapkan hal tersebut. Apakah Anda merasa frustasi akan hal itu? Apakah Anda mulai menampilkan sikap yang berbeda terhadap mereka?

Saya punya seorang kawan. Ia sangat suka sekali menceritakan impiannya kepada kawan-kawan ketika kita sedang berkumpul. Ia bercerita ingin sekali menginjakkan kaki ke luar negeri. Ia ingin sekali mempunyai suatu bisnis yang membanggakan. Ia ingin orang lain melihatnya dengan selalu menampilkan tampang terkesima. Ia percaya sekali itu tanpa pernah mendengarkan menanyakan kepada kita hal apa yang kita juga inginkan.
Suatu waktu kawan saya yang lain memberikan kabar bahwa ia mendirikan sebuah kedai kecil di sekitar rumahnya.

Teman lainnya berkabar dengan mengirimkan gambar dirinya sedang berada di suatu negara tertentu untuk urusan pendidikannya. Anehnya, kawan saya yang tidak pernah bercerita apapun soal ambisinya seolah benar-benar mendapatkan apa yang diucapkan teman saya yang pertama. Apakah ada masalah mendasar?

Mula-mula memang tidak ada yang berubah. Kita masih sering berkumpul. Lalu kemudian muncul perbedaan dari gaya komunikasi kita. Kawan saya, yang awalnya suka bercerita, mendadak diam seribu bahasa. Ia kehilangan gairah untuk membuka obrolan. Kali ini berlainan, kawan saya yang lain mulai mengangkat kata tentang pengalaman pencapaian yang baru saja mereka dapati. Ada yang aneh dalam komunikasi ini.

Sejak itu, kawan saya yang pertama tidak lagi semenyenangkan dulu ketika kita masih belum menapaki kehidupanm diluar perkawanan itu. Saya mulai berpikir dari sini. Lalu saya tanyakan, apakah ia masih memiliki semangat atas cita-citanya terlebih dahulu? Ia jawab dengan nada pesimis. Ia mulai berpikir bahwa takdir tidak mendukung dirinya. Ia mulai frustasi. Ia kehilangan kendali. Ia mulai tidak menyukai lingkungan kita.

Ada permasalah mendasar yang saya ingin katakan. Pertama, verbal over optimism. Kedua, self-defence. Dan ketiga, thought management. Baik kita akan bahas mengenai dasar yang pertama. Saya jadi ingat suatu pesan dari seorang seminaris yang mengatakan bahwa “Jangan pernah berhenti bermimpi.” Atau kalimat lain yang bagus sekaligus mematikan “Suarakan mimpimu agar semua orang mengakui itu.” Memang tidak ada yang salah terhadap kalimat tersebut. Hanya saja, cara orang memaknai kalimat tersebut sangat menentukan langkah ia kedepan.

Kawan saya terlalu optimis dengan cita-citanya sekaligus menceritakan semuanya sebelum ia melakukan apa-apa. Ia hanya memandang suatu hasil tanpa melihat substansi kecil pendukung. Semisal contoh ingin memulai bisnis. Bisnis bukan tidak serta merta dilakukan dengan cara yang “waw”. Bisnis selalu didukung hal-hal lain yang sifatnya mendukung. Entah itu business plan, mengikuti seminar kewirausahaan, belajar pengaturan waktu, bahkan prinsip dalam berpikir seperti seorang entrepeneur. kecenderungan kita justru hanya berfokus pada keberhasilannya saja. Bukan prosesnya. Inilah kelemahan dari verbal optimism. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Kita bisa saja semakin bersemangat untuk mencapai tujuan tersebut, tapi di sisi lain kita sendiri mengatur pikiran kita untuk menjadi terdepan di mata orang lain.

Orang yang menghindari verbal optimism mungkin berpikir bahwa buat apa menceritakan hal-hal yang belum juga nyata. Alangkah lebih baik jika diatur untuk diri sendiri. Mungkin ini yang terjadi kepada kawan-kawan saya yang sudah mendapatkan satu demi satu buah dari usahanya. Di sisi lain, kawan saya pertama termakan untuk terus bersikap idealis tanpa usaha yang tepat dan mengantisipasi kegagalan. Semua harus berhasil sempurna. Dampak dari optimisme verbal adalah kita menambah beban tanggung jawab moral terhadap kita dihadapan orang lain.

Permasalahan kedua adalah self defence. Ini merupakan anak yang lahir dari rahim komunikasi. Kawan saya menjadi begitu pesimis terhadap keinginannya yang sudah dicapai kawan lain. Pesimisme yang timbul justru mencari kejelekan dan kelemahan perihal yang kita inginkan agar kita merasa nyaman. Setidaknya ada pikiran “tujuan itu ternyata gak memuaskan”. Berapa kali kita harus berpura-pura terhadap kelemahan kita sendiri. Kita mulai menyalahkan orang lain. Kita mulai tidak suka berurusan yang berkaitan dengan kegagalan kita. Semua ini terjadi karena beban moral yang kita produksi sendiri di awal. Saya juga pernah merasakan hal serupa. Dengan kegagalan saya dan keberhasilan orang lain terlebih dahulu, saya mulai menaruh skeptisitas yang tinggi. Saya menentramkan diri saya sendiri dengan mengupas pesimisme terhadap orang lain.

Permasalahan ketiga, kita terlalu terpancing untuk memikirkan perihal yang memuaskan diri. Ini lumrahnya manusia. Setiap dari kita lebih suka berada pada zona nyaman daripada harus terus susah payah. Kita musti sadar satu hal. Setiap hal memiliki antonim. Kita jarang memikirkan kemungkinan terburuk dalam menetapkan suatu keinginan. Ini mengakibatkan gelombang kejutan pada psikologis kita ketika tujuan kita memang belum sepenuhnya sempurna. Padahal, idealisme tujuan tidak pernah akan berhenti pada satu titik. Selalu ada tujuan-tujuann yang lain. Karena idealisme ini, akhirnya membuat kita depresi dan mengutuk diri karena kita tidak bisa memaafkan keadaan. Kita tidak menemukan jalan kreatif dalam berpikir karena kita tidak terbiasa berpikir sehat dalam keadaan genting.

Dari apa yang menjadi pengalaman, sikap menerima itu penting. Ditambah, kita perlu mengakui bahwa setiap orang memiliki tujuan yang tak senantiasa perlu kita ketahui. Kita perlu membangun gambaran-gambaran realistis dari bangun abstraksi keinginan kita. Dengan cara ini, kita akan bisa menerima orang lain. Semua bukan soal orang lain, tetapi bagaimana cara kita menyikapi keadaan orang lain dan keadaan diri sendiri. Semoga kita menjadi orang yang lebih berpikir bijak dalam situasi apapun. Semoga apa yang kita cita-citakan bisa terwujud dengan penyikapan yang tepat. Tidak ada alasan untuk merasa tidak berguna. KITA MEMILIKI KEISTIMEWAAN SENDIRI-SENDIRI.

Orang Gila dan Kegilaan

Pengemis itu tak perlu lagi menyumbat telinganya dari desas-desus harta tanah dan sawahnya di kampung. Ia lebih suka parkir di emper toko dengan botol plastik penadah uang. Buat apa menghanguskan kulit kalau cuma beli baju yang berganti-ganti model tak tentu waktu. Buat apa kredit mobil kalau jalanan saja sudah makin sempit begini. Orang kita itu sudah gak mau mikir jalan keluar. Sukanya jajan masalah. Gak tahu diri. Setidaknya itu yang ia katakan untuk menarik perhatian pejalan yang lewat.

Orang pasar memanggilnya Prapto. Sebenarnya, nama itu merupakan nama asli sebelum ia menjadi gila. Sekarang orang lebih akrab memanggilnya Pesing. Tak lain karena ia suka pipis sembarang tempat tanpa mengindahkan siapapun melihatnya.

Sudah tiga bulan ini ia mengemis di depan toko koh Yance. Sungguh mengherankan. Koh Yance senang sekali berbicara dengannya dan soal menikmati segala bualan gila Pesing. Umur mereka terpaut jauh. Pesing sudah hampir 60 tahun sedang Koh Yance masih umur 30an. Tapi pemandangan ganjil ini membuat orang lain garuk-garuk kepala sendiri.

“Orang sekarang isinya cuma nambah masalah aja. Sukanya fitnah. Aku pengemis begini dibilang kaya. Mereka sinting. Mereka tidak bisa lihat mana yang kaya beneran sama yang tidak. Sinting”

Koh Yance memerhatikan setiap kata-kata Pesing dengan seksama. Garis dahinya mengerut seolah menyerap kata demi kata yang keluar dari mulut Pesing yang bau.

“Kita itu hanya mencintai yang nampak baik. Yang baik dan buruk udah gak kelihatan lagi garisnya” Pesing meludah. Tangannya meraih botol minuman dari Yance.

“Kok bisa begitu, To? ” Koh Yance memerlakukan pesing seperti orang waras. Ia menyelidik mau sampai mana arah pembicaraan Pesing.

” Kau ingat pak Soekarno? Aku tahu dia. Kok ya ada orang sesinting dia. Membela rakyat yang gak tahu diri ini.”

Koh Yance mendelik Pesing mengucapkan kata Presiden negara pertama itu.

“Kau harus paham, Yan. Si Soekarno itu. Gak mudeng aku jalan pikirannya. Mulanya saja ia sadar kalau setelah kemerdekaan negara bakal semakin diuji. Akhirnya dia sendiri yang memenggal leher kehormatannya. Gara-gara serangan setelah kemerdekaan, Soekarno minta bantuan sama negara blok sosialis. ”

” kenapa begitu, To? ” Selidik Yance.

” Karena gak mungkin dong Soekarno minta bantuan sama Belanda yang udah tiga setengah abad ini membodohi orang kayak kamu dan aku, ” Pesing tertawa” akhirnya pilihannya ya komunis itu.”

“Bantuan dari blok Komunis digunakan untuk menanggulangi serangan-serangan dari luar. Terutama militer dan senjata. Wajar gak kalau Soekarno itu balas budi? ”

Yanco diam.

” Ya jelas, goblok. Satria itu ya tahu hutang budi. Emang kamu, tahunya jasa diri sendiri. Gara-gara utang budi ini akhirnya Soekarno memberi keleluasaan PKI untuk bertingkah sekarepe udele dewe. ”

” Jangan keras-keras bilang PKI, To. Bisa dipecah kepalamu kalau ada yang tahu. ”

” Memangnya kenapa? Orang gila gak punya penyesalan. ” Pesing tertawa. ” Itulah kenapa banyak yang menyesalkan keberpihakan Soekarno pada PKI. Gak ada yang tahu. Hatta pun akhirnya mengundurkan diri di tahun 1965.”

Seseorang melempar uang receh ke Pesing. Pesing nyengir.

“Kulanjutkan. Soekarno berada di posisi sulit. Di satu sisi ia musti membela keamanan negara dengan meminjam bantuan blok komunis. Sisi lain ia musti membela Pancasila dari PKI yang bladus itu. Kalau kamu jadi Karno, Yan. Mau apa kamu? ”

” Gak mau lah.” Yance menggeleng.

“Soekarno akhirnya punya langkah sendiri agar rencananya mengamankan Pancasila terwujud. Ia gunakan kekuatan PKI untuk menggempur Belanda yang mau mengambil Irian Barat. Soekarno hanya punya dua musuh. Menghapus Belanda dan menumpas PKI tanpa menyinggung rasa utang budi sama Blok Uni Soviet. Dia mainkan perannya bagus sekali. Belanda gugur. Musuh tinggal PKI. ”

Pesing menengadahkan wajahnya menatap Yance. ” Soekarno ingin menumpas PKI tanpa kelihatan ia menghantam. Padahal, pendukung Soekarno mengira Soekarno membelot jadi PKI. Dasar memang. Soekarno itu hebat. Ia kasih kesempatan untuk Soeharto memainkan peran. Dengan mengelu-ngelu PKI, membuat PKI makin semangat berusaha menguasai. ”

” Soekarno sadar, kekuatan kelompok Pancasila lebih kuat. Itu yang ia lakukan. Ia membuat drama. Ketika PKI mulai melakukan kudeta. Ia pancing amarah pula kelompok pancasila. Dengan begini, kedua kubu akan saling beradu dengan pemenang yang jelas. Di sisi lain, soekarno tidak mengkhianati kebaikan budi dari Uni Soviet. Dengan suasana itu, Soekarno akhirnya menyerahkan tapuk kekuasaan ke Soeharto. Ditumpaslah PKI. ”

” Gak mudeng” Yance berkata.

“Itulah kita, Yan. Sukanya mengira tanpa mau membaca sejarah. Ngertine Soekarno mati dalam hujatan yang sangat. Tapi mereka gak melihat jalam politik serta rahasia dibalik itu. Persis seperti cerita Basukarna. Jadi, secara gak langsung Soekarno menumbalkan dirinya demi kita. Kita, Yan. Ngerti gak, kowe?” Mata Pesing menyala-nyala.

Seseorang dari belakang melangkah mendekati Yance dan Pesing. Tubuhnya padat seksi dengan kebaya hijau serta bakul jamu digendongan. Namanya Martonah. Istri Pesing “Pesing, tanda tangani ini surat tanah agar bisa selesai urusan.”

Pesing tertawa terpingkal-pingkal. “Asu pancen. Aku kaya dideketin. Aku gila pun masih kau usik urusan tanah. Pulang. Cih.”

Martonah melotot dan memalingkan muka ke Yance. “Rayulah si Sinting ini, Yan.” yance tidak menampakkan respon apapun. Itu bukan urusannya, pikirnya. Sekejap, Martonah berdiri dan melangkah pergi. Wajahnya merah padam.

“Mau sampai kapan kau berlagak gila? ” Tanya Yance.

” Sampai semua orang tahu balas budi. Aku gila siapa peduli? Aku kaya banyak yang menyanjungku. kita emang begitu. Menghadapi orang gila harus dengan cara gila” Pesing berseru keras sambil mengumpat lagi, menengadahkan botol plastiknya.

Sumber: (Perang Tipu Daya Soekarno dan Tokoh-Tokoh PKI: H Ahmad Muhsin)

Puncak Pacaran Adalah Putus

Tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak yang memiliki pasangan (ketawa nyengir). Pacaran tidak lagi menjadi perihal yang tabu. Saya akan membahas masalah ini sesuai dengan yang marak terjadi di lingkungan terdekat kita. Betapa banyak sekali kawan saya berubah menjadi orang lain karena terserang asmara. Banyak kolega saya yang mulanya tidak memerhatikan penampilan berubah menjadi seorang yang sangat hati-hati.

Sekarang, mari kita tarik ulur dasar pembahasan kita. Mulai dari pengertiannya, kita ambil dari menilik pada kenyataan sosial yang ada. Pacaran adalah lambang sebab dari persamaan perasaan dua orang yang telah saling menyatakan. Jadi, pacaran tidak akan tercipta jika beberapa syarat ini tidak terpenuhi. Pertama, adanya ungkapan perasaan secara verbal. Kedua, adanya penerimaan dan timbal baliknya. Ketiga, dua orang yang saling berkomunikasi.

Beberapa waktu lalu, kawan saya sungguh sangat bahagia karena ia tertarik dengan seorang perempuan. Mereka bertemu dalam kondisi yang tidak diceritakan. Tiba-tiba saja kawan saya mulai menanyai saya apa saja yang bisa menarik simpati perempuan. Setiap kita bertemu, ia semangat sekali bercerita perihal perempuan tersebut. Ia gambarkan mulai dari hal-hal umum hingga yang paling rinci. Bagaimana ia bicara, bagaimana perempuan itu tersenyum, perbedaannya dengan perempuan yang lainnya. Saya sadar, kawan saya ini tengah tak sadar.

Tidak butuh waktu lama. Ia kisahkan cukup waktu tiga bulan untuk PDKT. Ia ceritakan bagaimana proses ia nyatakan cintanya. Sungguh romantis, batinku. Kawan saya menembak saat mereka makan malam di tempat yang sudah disewa kawan saya untuk momen spesial itu.

Dua bulan pertama kawan saya tidak menghubungi saya sama sekali. Bulan ketiga ia mulai menanyakan kabar saya. Ia mulai mengajak bertemu. Ia katakan pada saya hal-hal yang kontradiktif tentang pacarnya. Pacarnya ternyata tidak seperti yang ia kenal dulu. Sekarang sifatnya berubah. Pacarnya posesif. Setiap pacarnya memerlukan perhatian, kawan saya harus senantiasa ada untuknya. Pacarnya juga meminta hal-hal aneh seperti meminta kawan saya memasang foto profilnya dengan wajah pacarnya.

“Aku pengen putus aja.” katanya.

Apakah Anda juga termasuk orang yang demikian? Apa guna pacaran bagi Anda kalau bukan untuk putus? Itulah garis akhir dari sebuah ukuran hubungan.

Saya akan beri analogi sederhana. Anda ingin mengajak kawan Anda mendaki gunung. Anda akan mengalami sebuah proses pendakian yang panjang hingga sampai pada puncak. Apa yang akan Anda lakukan setelah sampai sana kalau tidak menengok kebelakang dan kembali lagi ke titik awal?

Banyak yang tidak sadar dengan gejala ini. Pacaran memiliki fase yang sama dengan mendaki gunung. Masa pendekatan Anda adalah proses pendakian Anda yang menguras tenaga dan biaya. Semua harus Anda lalui demi sampai di puncak tujuan. Dalam hal ini adalah kata “sepakat” dalam hubungan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang putus karena hal-hal sepele. Mungkin hanya karena perdebatan kecil, mungkin kecemburuan abu-abu, atau mungkin ketidaksamaan persepsi. Semua ini sebenanrnya wajar.

Jatuh cinta adalah gejala emosional yang wajar yang diwujudkan dengan adanya tindakan-tindakan pendukung. Setelah emosi ini mencapai titik klimaks, ia akan cenderung ke kondisi semula. Ini yang terjadi lewat adanya permasalahan-permasalahan tidak perlu. Permasalahan yang kita wujudkan sendiri. Bahkan ada yang sengaja mencari masalah agar punya topik. Secara emosinal, ini adalah tindakan pemancing agar emosional itu tumbuh.

Putus adalah hal wajar. Jadi, untuk apa Anda menangis jika putus? Kenapa Anda rela berencana bunuh diri setelah putus? Kenapa Anda mulai membenci orang lain atas kesalahan Anda sendiri? Putus adalah gejala yang lumrah.

Hal yang perlu kita perhatikan adalah kesadaran itu. Selama putus adalah final dari pacaran, maka selesai. Tetapi, jika kita mengalami proses pacaran dengan memperhatikan langkah setelahnya (menikah), ini akan berbeda lagi urusan. Tetapi pada garis besarnya adalah Anda tetap memutuskan pacaran dengan mencari sensasi emosional yang lain, yakni jenjang pernikahan.

Logika kewajaran putus yang lain adalah seorang suami yang ditinggal istrinya. Mereka pacaran selama 10 tahun dan menikah selama hampir 40 tahun. Lalu apakah putus masih dianggap wajar? Jelas. Dengan kematian istrinya, ia memiliki dilema atas keputusan yang musti ia ambil. Pertama, apakah ia mencari pengganti. Kedua, apakah ia musti setia sampai ia menyusul istrinya di sana.

Jadi, pada intinya adalah sebuah hubungan pasti akan mencapai titik final. Jika kita tidak merencanakan tujuan-tujuan lain diantara final-final kecil, maka selama itu pula kita akan terjebak pada kesalahan yang sama. Jadi, semoga dengan kesadaran ini kita punya dua sisi positif. Pertama, memberikan penyadaran bagi mereka untuk mewajarkan gejala putus hingga menimbulkan depresi (atau hal tak diinginkan lainnya). Kedua, memberikan pelajaran agar kita lebih siap dalam merancang tujuan-tujuan yang sifatnya emosional. Akan ada apa setelah ini. Karena semua yang diawali akan berakhir juga. Tetapi, kita bisa menanggulanginya dengan memulai hal baru yang mana merupakan proses lanjutan yang lebih baik. Hargai pasangan Anda. Kepastian itu penting. Jangan takut putus. Putuslah untuk awal yang lebih baik lagi.