Hikmah Adanya Pelakor

Pelakor secara akronim bermula dari frasa Perebut Laki (suami) Orang. Dikatakan merebut sebab perempuan ini bertindak sebagai pihak ketiga dari rumah tangga seseorang. Beberapa kali sempat viral kasus soal ‘orang ketiga’, kata pelakor melambung ke permukaan dan dianggap sebagai sebutan bagi siapapun perempuan yang terlibat dalam rumah tangga orang lain.

Terang saja, perselingkuhan tidaklah kesepakatan yang diambil sepihak. Tidaklah mungkin perselingkuhan terjadi sebab perempuan menggoda lalu lelaki tidak sengaja tergoda. Faktanya, perselingkuhan bisa menjadi nyata perselingkuhan bila keputusan diambil oleh lelaki. Lelaki yang tergoda atau sengaja selingkuh harusnya dimasukkan ke dalam objek konflik. Anehnya, justru perempuan yang dijadikan objek tunggal pelaku menyimpang ini. Kasus Nisa Sabyan adalah contoh paling hangat akhir-akhir ini.

Perselingkuhan adalah skema tindakan yang tidak sederhana. Setidaknya ada tiga kemungkinan pelaku dalam skema ini berdasarkan motif paikologinya. Pertama dari lelaki. Si lelaki mungkin tidak puas dengan isteri. Lelaki mungkin bisa jadi memang dasarnya genit. Kedua dari pihak ketiga. Perempuan ini bisa saja digoda si lelaki. Perempuan ini bisa jadi penggoda sebenarnya. Ketiga dari si isteri. Isteri bisa saja tidak bisa maksimal membahagiakan suami. Semua motif selalu didasari oleh sebab. Jadi, skema ini menempatkan setiap orang dengan persentasi ‘faktor penyebab’ yang sama.

Sampai saat ini, pelakor selalu jadi sebutan yang menyapu bersih seluruh motif. Ia menempatkan orang ketiga sebagai satu-satunya penyebab kerusakan rumah tangga. Seharusnya, masyarakat lebih jernih melihat budaya verbal ini. Jika ada pelakor, pastikan lelaki dalam keadaan tidak tergoda. Jika lelaki tergoda, harusnya ia mendapatkan julukan juga. Bagaimanapun, kata merebut adalah memaksa mengambil. Apalagi yang katanya diperebutkan adalah orang yang punya kehendak. Bukan bola di lapangan yang pasrah diperebutkan. Jadi, penggunaan kata merebut pun masih meragukan.

Dengan hal-hal yang diuraikan diatas, akan menjadi lebih baik menjaga hubungan dengan saling memberikan pertanyaan, “apa yang kamu inginkan?” Dengan begitu kita bisa tahu apa keinginan pasangan kita dan bisa mengupayakan cara-cara membuatnya bahagia. Mereka yang berbahagia akan selalu menetap.

Pelakor hari ini semestinya diartikan mereka yang gagal merebut lelaki orang lain. Dengan adanya pelakor, isteri tahu bagaimana kesetiaan suami. Dan kepada lelaki, seharusnya mereka punya istilah yang sama juga demi menjaga keseimbangan hak. Sebab pelakor, kita pahami arti setia.

Mempertanyakan Wajah Toleransi Kota Salatiga

Bicara tentang toleransi seperti tak pernah ada habisnya sebab dinamika sosial terus berubah dari waktu ke waktu. Mengikuti temuan  indeks kota toleransi 2020 oleh SETARA Institute, membuat saya tertarik bertanya. Wajah toleransi seperti apa yang sebenarnya saya kenal hari ini?  Maka saya mencoba menulis dengan menggunakan pendekatan lexeme.

Kata toleransi yang kita pakai  sering sekali dimaknai sebagai “sikap menerima dan menghargai bentuk-bentuk perbedaan”.  Kata ini diserap dari bahasa Inggris tolerate. Ada sedikit perbedaan arti. Tolerate secara bahasa diartikan “to allow somebody to do something you don’t agree with or like”. Proporsi yang muncul seolah kita mengijinkan seseorang yang sebenarnya tidak kita suka dan setujui. Proporsi ini memiliki implikasi yang negatif. Bila diruntut muasal kata tolerate, kata ini diambil dari bahasa Latin tolerare yang berarti ‘menahan diri’.  Maka, cukup jadi menarik jika bahasa Indonesia menyerap kata ini dengan mengikuti makna lexeme asalnya.

Apakah toleransi yang kita kenal hari ini mengarah pada etimologi asalnya atau mengikuti budaya mayoritas? Toleransi yang menganut arti muasalnya bisa jadi memiliki tiga jenis masyarakat. Fanatik-normal-permisif. Hal ini kemudian masuk  kedalam segala bentuk kebijakan administratif di hampir seluruh sektor. Perbedaan memang diterima, namun bisa berimplikasi pada rasa menahan diri atau perlindungan.

“Banyak tendensius toleransi kali ini dilakukan oleh mayoritas, sedikit yang menjelaskan penelitian empiris yang fokus pada orang yang diberikan toleransi. Jadi, muncul sebuh implikasi dominasi,kontrol, dan kesewenang-wenangan. (Vogt: 1997).

Kemudian saya tertarik menarik indikator lain dengan mengambil kata ‘tasamuh’ dari bahasa arab. Tasamuh sendiri dituliskan “sikap toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat”. Objektifitasnya ada pada perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat. Kata ini mencoba mencakup skala abstraksi pikiran dan kehadiran identitas sosial dalam masyarakat.

Pendekatan kata ‘tasamuh’ membikin saya ingat dengan pelajaran waktu pelajaran PPKN di sekolah dasar soal ‘tenggang rasa’. Tenggang rasa sendiri diartikan dapat (ikut) menghargai (menghormati) perasaan orang lain. Ini menarik. Objektifitas kata bertumbu pada perasaan orang lain. Munkin ini kemudian yang membuat seseorang memilki simpati dan empati. Dari kata ini, mungkin akan muncul tiga jenis manusia dalam tataran sosial. Egois-normal-paranoid.

Dengan beberapa pendekatan di atas, saya perlu melihat indikator apa saja yang dipakai oleh SETARA dalam mengukur tingkat toleransi kota.

  • Regulasi Pemerintah Kota [Indikator 1: Rencana pembangunan dalam bentuk RPJMD dan produk hukum pendukung lainnya dan indikator 2: Kebijakan diskriminatif].
  • Tindakan Pemerintah [Indikator 3: Pernyataan pejabat kunci tentang peristiwa intoleransi dan indikator 4: Tindakan nyata terkait peristiwa].
  • Regulasi Sosial [Indikator 5: Peristiwa intoleransi dan indikator 6: Dinamika masyarakat sipil terkait peristiwa intoleransi].
  • Demografi Agama [Indikator 7: Heteregonitas keagamaan penduduk dan indikator 8: Inklusi sosial keagamaan].

Dari indikator diatas mungkin tepat jika Salatiga dikatakan toleransi dari segi administrasi dan regulasi. Namun, saya perlu menekankan lagi, bertumpu pada regulasi saja tidak cukup sebab substansi kota dihuni oleh masyarakat yang memiliki nyawa, pikiran, dan perasaan. Maka, saya mencoba mengelompakkan penempatan lexeme pada struktur sosial.

  1. Toleransi masuk ranah regulasi dan perangkat sosial yang memiliki kewenangan dalam seluruh tindak administratif.
  2. Tasamuh masuk pada ranah kelompok sosial yang memiliki identitasnya masing-masing dan menempati ranah pola budaya dengan mengedapankan eksistensi kemajemukan identitas.
  3. Tenggang rasa masuk dalam sikap psikis individu terhadap individu/kelompok sosial lain dengan mengedapankan perasaan sebagai subjek sosial.

Dengan mengedapankan pendekatan substantif, wajah Salatiga merupakan perwakilan wajah kelompok di dalamnya. Lantas, kelompok sosial di Salatiga merupakan perwakilan individu di dalamnya. Dengan begitu, wajah toleransi Salatiga hari ini tidak hanya ada di permukaannya, namun sampai pada tahap esensi dan substansi yang mencakup baik toleransi, tasamuh, maupun tenggang rasa.

Ayto, John. 1990. Word Origin. London: A&C Black Publisher.

Subhan, M., and Fadeli, Soeleiman. 2007. Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah. Surabaya: Khalista.

Kamus Besar Bahasa Indonesia

Vogt, W. P.(1997). Tolerance and education: Learning to live with diversity and difference. London. England: Sage.

Ringkasan Eksekutif Kota Toleran 2020. Jakarta: SETARA Institute.

Perjalanan Kata “Bully”

Semua orang hari ini sudah tak asing dengan istilah perundungan atau “bullying”. Jika kata ini diucapkan, kita akan berasumsi menyoal kegiatan tidak baik yang dilakukan oleh seorang yang merasa ‘superior’ terhadap seorang lain yang merasa ‘inferior’. Bagaimanapun, kata ‘bully’ sebenarnya tidak sejahat itu mulanya. Ia pernah bermakna “kekasih”.

Pada abad 16 kata ‘bully’ bermakna ‘sayang/kekasih/karib’. Pernah terekam oleh John Bale (1538) dalam pikirannya ‘three laws’. ‘Though she be somewhat old, it is my own sweet bully’. Ini cukup menarik melihat seorang John Bale adalah seorang pendeta.

Perlahan-lahan mulai ada pembusukan kata ‘bully’. Mulai dari ‘kerabat karib’, ke ‘pembentak’, sampai pada penggunaannya pada ‘pengganggu orang yang ketakutan’. Lebih jauh lagi, pada abad 18 dan 19, kata ‘bully’ juga pernah berarti ‘pimp’. Dalam hal ini, dugaan sementara diambil dari modifikasi Bahasa Jerman boele yang artinya ‘pecinta’, sebagai istilah untuk menunjukkan kasih sayang seperti cara orang tua bicara dengan anak. Sayangnya, kata ‘pimp’ yang mulanya sungguh positif juga mengalami pergeseran makna untuk istilah “germo dan mucikari.”

Kata ‘bully’ juga dipakai untuk ‘bully beef’ (daging kornet), dari bahasa Perancis bouili, bentuk ketiga bouilir ‘boil’. Namun, kata ‘bully’ dalam artikel ini tidak ada kaitannya dengan bully dalam istilah daging kornet.

Kata ‘bully’ juga dipakai dalam istilah ‘bully off’ dalam permulaan olahraga hockey. Istilah ini muncul dari istilah ‘scrummage’ dalam sepak bola rugby Eton (Britania Raya). Kata ‘scrummage’ sendiri ini metode dalam permainan rugby dimana pemain bereratan menunduk untuk menguasai bola. Apakah fenomena permainan ini yang membuat kata kejam “bully” bermakna seperti sekarang juga belum begitu jelas.

Bagaimana pun, ‘bully’ hari ini tidaklah seperti ‘bully’ yang dahulu. Ia berubah, dari yang begitu dekat menjadi begitu dijauhi. Dari yang begitu mesra menjadi keras. Semoga kita bisa menyegarkan kembali makna ‘lexeme’ sehingga kita lebih banyak terbuka dengan pola peradaban verbal dari masa ke masa.

Berak Sekebun

(Tulisan ini sikap setelah membaca berita KOMPAS menyoal “Literasi Digital untuk Hadang Hoaks”)

Mulanya hanya seekor anjing yang berak di ladang. Ia kencing dan memendam tahinya di pojokan. Ladang itu ceritanya lahan milik Pak Darmo. Rencananya mau ditanam garapan dengan pembagian wilayah; pisang, singkong, kapulaga, dan pohon sengon.

Anjing itu entah milik siapa. Ia suka sekali berak di ladang Pak Darmo. Pak Darmo belum menyadari. Hari ke hari hewan lainnya mulai serius menyaksikan si anjing yang nyaman betul berak disitu. Mulanya ayam, kucing, kambing, sapi, sesekali babi hutan. Ini belum saudara mereka yang relatif kecil, yang tahinya tak terendus. Alhasil tanah ladang jadi pemakaman tahi para binatang.

Pak Darmo mulai menyadari ada banyak tahi di ladangnya. Beliau senang sekali karena tentu saja tahi akan membantu pembentukan humus yang baik guna kesuburan tanah. Garapannya mulai ditanam, dan selang beberapa waktu, mulailah kelihatan pertembuhannya. Pertumbuhan yang sangat cepat.

Kawan-kawan Pak Darmo keheranan menyaksikan kualitas tanahnya. Mereka lantas datang mengunjunginya untuk mengajukan beberapa pertanyaan. “Kamu pakai pupuk apa, Mo?”

Pak Darmo sendiri tidak yakin tahi apa yang membuat tanahnya begitu subur. Terlintaslah dalam benaknya memeriksa kiranya tahi apa yang ada di ladang.

Malam itu dia menyaksikan sekawanan anjing liar berak. Paginya ia melapor ke kawannya. “Asu, Cak.” Selang beberapa minggu kawannya mengadu. “Asu gak bisa buat tahi segini banyak.” Darmo lantas memeriksa lagi malamnya. Ia menyaksikan ada sekawanan babi hutan. Paginya ia melapor. “Celeng, Cak.” Laporan itu disambar kawannya. Kawannya membuat umpan agar celeng mau ke lahan mereka. Dua minggu kemudian malah garapan mereka habis disantap babi hutan. “Mana nih yang bener, Mo?” Kawan-kawannya mulai tidak suka dengan Darmo. Mereka menganggap Darmo tidak mau memberitahukan alasan kenapa tanahnya bisa sesubur itu.

Kawan-kawannya jadi punya inisiatif. Agar tanah garapan mereka tidak banyak diserang babi hutan. Mereka membuat berita wacana kalau anjing dan babi hutan tahinya bisa dibuat humus yang mujarab. Banyak yang percaya. Namun bukan tanah yang subur malah garapan yang ludes. Mereka bertanya-tanya lalu apa yang benar bisa buat tanah subur. “Berak saja kau sekebun.”

Ini cerita singkat dari gambaran saya terkait literasi digital. Seringkali kita dengar sosialisasi literasi digital agar kita tidak termakan hoaks. Berita palsu bisa diproduksi dengan sangat gampang. Dan kebanyakan para pembuat sadar betul dampaknya. Bagaimanapun, semua demi kepentingan.

ini bukan budaya baru. Ini budaya lama. Soeharto pernah menggunakan hoaks masif untuk membangun kekuasaannya. Begitu banyak sumber bacaan yang dipelintir sebagai buku putih.

Hari ini, kita dihadapkan pada literasi digital. Mulanya, saya cukup kuatir apakah kita benar-benar mampu mengikutinya. Secara berjangka, kita sendiri masih rentan dengan kapasitas literasi convensional. Buku-buku tidak disentuh. Jurnal penelitian diabaikan. Data aktual disembunyikan. Semua demi kepentingan.

Hari ini, saban hari kita disuguhkan dengan beragam informasi yang mengacaukan. Pertanyaannya, bisakah kita mengklasifikasi kerentanan hoaks? Pada cluster apa saja hoax dibuat. Mungkin yang paling kentara adalah politik, berita aktual, sejarah, dan persepsi publik. Ini yang sering sekali menjadi ladang hoaks. Di luar itu, kita masih aman-aman saja nampaknya.

Hari ini, hoax tidak diciptakan hanya dari masyarakat. Bagi masyarakat, mungkin ada kemungkinan. Pertama, ketidaktahuan data. Kedua, kepentingan. Namun, ada juga hoax yang diproduksi oleh orang-orang yang justru terorganisir. Mereka mempelintir fakta demi keselamatan visi dan misi mereka sendiri. Ego yang menjamur dalam rumah kelompok. Lihat saja politik dan hukum di berita. Judulnya tak jarang hanya mengedepankan atensi tanpa mempertimbangkan esensi.

Maka, literasi hoax yang digaungkan hari ini juga seperti dua mata pisau. Di satu sisi kita diminta menyaring hoaks. Di sisi lain kita tahu tipikal para penyebar hoaks dan tak berdaya olehnya.

Mending kita duduk, minum kopi, dan membaca buku. Bangun dunia sendiri dengan kebenaran yang ilmiah dan sistematis. Perbanyak tanya “kok bisa, kenapa, dan bagaimana.” Kembali ke ladang Pak Darmo, sekampung mereka jadi berak di lumbung hanya karena sekawanan hewan liar yang berak sembarangan.

Saya mengutip Alfred Adler, “Para individu atau kelompok yang tidak tertarik dengan kemajuan manusia lainnya akan menimbulkan kerusakan terbesar kepada orang lain. Dari individiu semacam itulah seluruh kegagalan manusia berasal.”

Penghapal Al-qur’an di Warung Soto

Saya menengok jam tangan. Masih pukul delapan lebih lima puluh menit. Masih ada sekitar sepuluh menit untuk menghabiskan waktu membaca buku. Saya belum pindah dari tempat duduk. Masih di tempat yang sama. Semangkuk soto yang tandas juga masih di depan saya. Segelas es teh besar belum juga berhasil melarutkan gula di dasar gelas.

Foto diambil sembari antrian membayar

Perhatian aktifitas membaca saya teralihkan oleh tiga pengunjung warung baru. Mereka mengambil tempat duduk dengan meja yang sama dengan saya. Sebuah keluarga kecil. Seorang ayah, ibu, dan satu anak perempuan sekitar umur tak lebih dari tiga belas tahun.

Pesanan mereka belum datang, dan saya mendengar anak kecil itu bergumam. Jujur saja gumaman itu membuat saya terganggu. Namun, ketika saya lamati lebih serius, anak itu bergumam pada kata yang tak asing di telinga. “Wailul. Wailullikulli. Wailullikulli humazatillumazah.” Itu satu penggalan ayat suci alqur’an. Saya menutup buku dan mulai menaruh perhatian pada keluarga kecil ini.

Ayahnya diam saja. Ibunya diam juga. Selama menunggu pesanan anak itu hanya mengulang satu ayat yang sama. Tapi ini menarik. Saya pikir orang tua itu tidak peduli. Namun, ketika anak itu berhenti dan bertanya kepada ibunya, “Buk, abis itu apa?” Si ibu dengan senyum menuntun.

Saya terkejut bukan main. Sebuah gaya sarapan yang tidak biasa. Terutama saat pesanan datang, kedua orang tua itu tidak lantas memotong si anak yang sedang berupaya menghapal. Mereka makan lebih dulu.

“Bapak, aku punya teman banyak. Ada si A, B, C. Mereka baik sekali.” Selama makan, anak itu bercerita banyak mulai dari bacaannya sampai teman sekolahnya. Orang tua itu hanya diam dan menyimak. Tak memotong satu katapun. Sedikit menanggapi dengan senyum sambil menyeruput soto panas dan gorengan tempe atau mendoan.

Saya lihat jam. Gila! Sudah hampir tujuh belas menit saya memperhatikan keluarga ini. Anak itu belum juga menyentuh sotonya. Dia malah meminjam gawai ibunya. Posisi gawai miring. Aku pikir anak itu membuka permainan. Ternyata tidak. Dia membuka kamera video, “Wailullikulli humazatil lumazah. Alladzi jama’ama lawwa’addadah.”

Karena sudah kehabisan waktu, saya beranjak hendak membayar soto. Dalam pikiran saya, muncul pikiran yang tidak menentu. Cara orang tua itu melihat anak mereka sungguh menarik. Mereka tidak sepatah kata pun menyela dan melarang atau menyuruh anaknya dari aktifitas. Justru dibiarkan.

Dalam bayangan saya, mungkin setelah orang tua selesai makan, barulah anak itu sadar kalau ia ditinggal makan. Mungkin tidak begitu penting, tapi cara anak ini berani membawa aktifitas hapalannya sampai di warung menunjukkan dirinya sangat menikmati. Tentu saja ini tak lepas dari peran orang tua.

Saya pulang. Selama di perjalanan menuju rumah, saya teringat beberapa ucapan Dale Carnegie. Bicaralah sesuatu yang menyenangkan pendengarmu. Ia akan menghormatimu dengan cara yang berbeda. Timbal balik yang tak langsung. Percayalah, orang lebih banyak ingin didengarkan, itu saja.

Kenapa Perempuan Jarang Bertanya “Apakah Kamu Selingkuh, Sayang?”

VIOLENCE GRAPHIQUE
source: pinterest

Ada dua sepasang kekasih yang telah berenggang jarak beberapa waktu dengan rentang jarak yang tak dikatakan  dekat. Mungkin tidak perlu dikatakan seperti beberapa kasus LDR.  Hanya kesibukan yang tak saling menemukan kecocokan saja bisa masuk dalam pembahasan saya kali ini.

Si perempuan, ceritanya, sangat ketakutan dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya selama berada jauh nan disana. Pernahkah Anda jua merasakan ketakutan sangat ini? Apakah tubuh Anda sering menggigil di kamar mandi, lidah kelu, kaki lunglai, atau kondisi kesehatan psikis yang tidak menentu. Selama bergumul dengan pertanyaan itu, perempuan ini katanya sering mengurung diri, menanyai dirinya sendiri dengan perbandingan; aku terus menjaga kesetian, bagaimana dengannya?

Lalu perempuan ini sadar betul kehadirannya di dunia ini sering dijadikan hiasan perasaan jalang lelaki. Maka, ketika melihat ada perempuan murung, akan muncul kucing jantan dari segala arah dengan eongan paling menggairahkan. Godaan apa ini, Tuhan, batin perempuan ini. Mulut lelaki mana mungkin bisa dipegang. Banyak terjadi permasalahan di luar sana yang jelas-jelas memerlihatkan kebengisan lelaki. Mereka diam. Mereka pandai menyembunyikan bangkai. Apa salahnya jika aku pun menyimpan bangkai, niatnya.

Api yang perempuan ini pegang erat-erat kelamaan menyengat. Apakah aku sudah bertingkah salah? Tapi aku pun tak pernah bisa memastikan kesaksian kekasihku perihal kesetiaannya. Dalam waktu ini, perempuan mulai merasa bersalah dengan susulan sanggahan yang seolah tetap membela egonya. Hingga pada akhirnya sebuah pesan dari kekasihnya sampai di ponsel. “Besok aku akan terbang ke kotamu.”

Kekasihku akan mulai memberedel kesalahanku satu demi satu. Ia akan menanyai semua yang biasa perempuan kesepian lakukan saat kekasihnya jauh. Ia akan menyalahkanku di mata hakim budaya dan berlagak menjadi seorang raja. Istri raja harus menceburkan diri ke laut api untuk membuktikan kesuciannya. Apakah aku juga harus demikian rupa, pikirnya. Kecamuk itu sampai pada hadapan kekasihnya. Dia sudah siap atas semua peluru yang akan menembus kepalanya.

Lelaki itu angkat bicara, “Terima kasih atas semua setia yang kau tujukan padaku selama ini. Aku menyadari hal demikian. Demi bunga janji kita, aku pun tak pernah menyentuh perempuan lain barang sehelai rambut pun ketika aku jauh darimu.” Pernyataan ini lebih mematikan dari semua tembakan peluru pertanyaan yang sudah perempuan ini kira-kirakan. Sungguh mati ia menahan titik air mata yang tak kuasa berderai. Ia sesenggukan, mengutuk dirinya sendiri, mengutuk pikirannya sendiri.

Saya tidak tahu apakah memang perempuan sangat suka menyimpan prasangka kepada kekasihnya tanpa sedikitpun berupaya terus terang. Sepengalaman saya bersama dengan mantan-mantan kekasih saya, mereka jarang berterus terang dan menginterogasi saya. Mereka lebih suka menunjukkan kecamuk duga dengan sikap dan verbal yang marah. Jadi, yang terjadi bukan sebuah diskusi empat mata dengan melempar pertanyaan, tapi saling menuduh dan merengek seperti anak-anak.

Lantas mau sampai kapan klise ini dipelihara. Ditambah, sekarang praduga makin liar karena sosial media. Apa yang menjadi status kekasihnya tentang quote atau bagian kecil hidupnya dianggap sebagai keganjalan hubungan. Tuduhan mengucur deras seperti hujan badai. Tapi petir itu menyambar ke segala arah tak tertuju.

Maka, ini merupakan awal dari sebuah upaya sikap dewasa untuk hubungan dewasa. Apapun yang menjadi sebuah kecurigaan dalam hubungan, bertanyalah. Jangan terlampau termakan pada klise yang diciptakan fantasi. Kenyataan tak selurus itu. Bertanya adalah cara ilmiah guna mendapatkan pertanyaan mendasar apa, siapa, kenapa, dan bagaimana. Berhentilah membandingkan kemungkinan terburuk untuk dijadikan alasan kita melakukan hal buruk yang dianggap baik versi kita. Ingat, membandingkan keburukan bukanlah bagian dari hubungan yang sehat. Berhentilah berpura-pura. Tak semua orang memahami yang tak terkatakan. Maka, lebih baik dimulai dari sekarang, berlakulah apa adanya karena semua tak harus sama dengan fantasi dan cerita cinta linimasa. Kedewasaan itu menggenggam erat realitas dan kebaikan doa. Maka, mari kita bina pikiran untuk tetap positif.

Tak Pernah Mudah Jadi Lucinta Luna

Lucinta Luna, di luar statusnya sebagai selebgram, terduga pelaku transgender, maupun pelaku penggunaan psikotropika, tetaplah seorang manusia. Saat ini, semua orang membicarakan kasusnya yang tertangkap menggunakan obat-obatan terlarang di sebuah apartemen. Ini penangkapan yang wajar. Sangat wajar.

Beberapa hari setelah penangkapan, di berbagai timeline muncul headline judul dengan narasi perbedaan antara KTP dan paspor, polisi kebingungan hendak memasukkannya ke sel mana; laki-laki atau perempuan, atau alasan penggunaan obat karena sebuah masalah. Sayangnya, isi dari semua narasi hampir sama. Baik, kita berhak mengekspos pelaku. Tapi, ada satu berita yang cukup menarik (saya lupa oleh media mana) bahwa dikatakan Lucinta Luna tidak akan mendapat fasilitas istimewa (lalu kemudian muncul indikasi bahwa berarti ada yang mendapatkan fasilitas spesial)

Kita pembaca dan penilai yang merdeka. Siapapun yang menyimpang dari kebiasaan akan menjadi sorotan. Mungkin, Lucinta Luna merupakan public figure pertama yang melakukan transgender (masih dugaan). Sehingga, masyarakat heboh lalu menjadikannya bahan penilaian. Sebuah lelucon sarkastik tentang dia. Di luar sana, mungkin bukan public figure, ada seorang yang melakukan hal serupa. Namun, ia tidak mendapatkan respon masyarakat seramai Lucinta Luna.

Ada sebuah analogi menarik dalam memertahankan prejudice publik. Seorang A mengatakan dirinya kelahiran tahun sekian yang mana tahun itu lebih muda dari tahun sebenarnya. Hal ini merupakan kebohongan kecil yang sebenarnya tidak ingin ia ungkapkan. Lantas, ada seorang B yang tanya ia lahir tahun berapa. A tetap kekeh pada jawaban bohongnya. B lalu mengatakan fakta A pada teman-temannya. Naasnya, suatu waktu ketika A dan B beserta teman-temannya ingin ke luar negeri, diperlihatkan KTP atau visa ternyata A lebih tua dari apa yang ia bilang. A menjadi bahan cemoohan. Bertahun-tahun bertahan memendam kesalahan yang kemudian menjadi bahan gunjing di masyarakat. Mau mengatakan kejujuran, sudah terlanjur basah.

Itu hanya sebuah analogi saja. Lucinta Luna mungkin juga melakukan hal yang serupa. Bisa kita periksa dari latar belakang masalah. Kita bahkan tidak tahu masalah apa yang ia alami sehingga ia menggunakan obat terlarang demi ketenangan. Namun, sesuai madzhab cocokologi, kita mungkin akan berasumsi bahwa ia gunakan itu obat karena tak kuat menanggung respon masyarakat terkait transgender. Kita tidak pernah tahu seberapa dia menderita. Atau di luar sisi empati, mungkin memang dia terjebak dalam pergaulan yang salah.

Tidak pernah mudah menjadi Lucinta Luna. Menanggung kesalahan lalu mengerak menjadi sebuah beban tersendiri. Ia berhak diadili dengan konsekuensi yang berlaku. Bukan didramatisasi demi sebuah sensasi. Sekali lagi, kita adalah penilai yang merdeka. Lucinta Luna tetap manusia yang bisa melanggar aturan dan mungkin melenceng dari norma. Diluar sensasinya yang kadang bikin pusing kepala dan mengundang gelak tawa. Tabik!

A Man Walking around the Night

Wind’s coming into the house of ear with unspoken rythm; children yelled out, spoon chinked on breakfast table, chirping door.

Every silence truly speaks up the words hidden beyond secret

This road is the old arm embracing lost steps; like mother’s. Simple and hard to forget

But you… noir in scarying masterpiece

Mortal disaster in museum people never visit, not me…

Mouth ate enough pain in this house

Wish closed the door, stopping anybody coming inside, but not you…

Troath got moistened blood… vomid of scar

Alive pain in this house…

And I? watchman breeding the time and bearing the memory

Saksi Mata

Matanya dicongkel. Ia belum sempat melihat pembangunan desa yang dijanjikan kepala desa.

Sebelum resmi dilantik, kepala desa itu menjanjikan akan ada infrastruktur besar-besaran. Mengaspal jalan tanah, memberikan reovasi rumah bagi warga miskin, serta memertahankan hak-hak sawah yang ditarget juragan-juragan properti.

Suatu malam, sebelum mengatupkan mata untuk tidur, ia membayangkan hidupnya akan sangat makmur. Tapi, dua orang misterius merangsak masuk kamarnya lalu mencongkel matanya.

“Buang saja matanya ke kebun belakang.” Kata seorang buru-buru.

“Jangan, nanti kena visum. Coba pendam saja di tanah belakang.” Sahut lainnya.

Tanpa basa-basi keduanya memendam kedua mata Sahrir di belakang rumahnya. Sahrir yang merintih kesakitan tak bisa bersuara karena mulutnya dibekap, tangannya diikat dengan selendang bersamaan dengan kakinya.

Seminggu kejadian itu, mayat sahrir ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Kulitnya membiru. Keluar belatung dari lubang hidung, telinga, pori-pori kulit, bahkan lubang dubur. Semua orang tak kuasa melihat kondisi yang begitu rupa mengenaskan. Sahrir dikuburkan saat itu juga.

Bertahun-tahun berjalan. Kesaksian akan dibungkam dan diberikan fakta yang nyata. Kedua bola mata yang dipendam dua orang misterius itu tumbuh menjadi pohon yang rindang. Pohon yang tidak akan ditemui di dalam ensklopedi morfologi.

Kata masyarakat yang tinggal disekitar, setiap malam, pohon itu selalu mengeluarkan aroma harum. Selain itu, muncul mata air di sekitar batang pohon yang sering dipakai anak-anak dan ibu-ibu mencuci baju atau sekedar wudhu.

Maklum, keadaan masyarakat jauh dari sejahtera. Untuk air minum pun mereka harus beli di pengepul. Kadang mereka masih ditarik iuran untuk pembangunan. Jalan-jalan terbengkalai. Yang jelas nampak, ada beberapa rumah kerabat kepala desa dan kolega yang makin megah.

*

Peresmian itu berjalan lancar hanya sampai pada detik-detik pemotongan pita peresmian pohon ajaib di desa itu sebagai destinasi wisat.

Tiba-tiba, pohon itu rubuh dan menimpa kepala desa beserta jajaran koleganya. Tubuh mereka rubuh dan saat diperiksa petugas. Mata kepala desa sebagian tertusuk ranting hingga tembus tulang belakang, satunya lagi tergencet batang hingga copot keluar. Di saat semua panik, pohon itu mengeluarkan aroma harum darah.

Surat Mantan Terakhir

Langit menggantungkan bulan di luar jendela. Terlihat dari dalam oleh sepasang mata yang kuat. Dengan selang infus yang menancap di pembuluh darahnya, ia berusaha tetap sadar, duduk dan menulis beberapa surat. Mungkin ini surat terakhirnya.

Aliran_Seni_Lukis_Romantisme

“Aku ingin berterus terang. Bagiku, dunia ini tidak lain adalah neraka yang takdir baiknya hanya dititipkan kepada orang beruang. Mereka bisa bersekolah. Membeli buku apapun yang bisa meningkatkan derajat. Makan haruslah teratur tiga kali sehari dengan kadar kandungan yang kaya protein dan vitamin agar kekokohan tulang bisa bertahan lama dan tak mudah lapuk tergerus usia. Jika boleh hidup ini aku memilih, aku ingin tidak hidup dalam keadaan yang buruk. Paling buruk sekalipun.”

Matanya memejamkan beberapa waktu sebelum ia menguatkan jemarinya menulis tulisan lebih panjang.

“Tuhan tak limpahkan aku harta kecuali sedikit rupa yang menarik perhatian para gadis yang kutemui. Sudah genap usia ini enam puluh tiga tahun, mengikuti sunah nabi. Tak terhitung berapa gadis yang sudah mencium bau dadaku. Tak terbayang berapa wanita yang telah menjalin kasih denganku di kamar kecil kumuh 3 x 4 hanya untuk bertukar bibir sampai subuh.”

“Renika. Mantan pertamaku. Seorang yang mengajari aku melihat dunia dari sebuah sudut pandang positif. Dia tidak perawan sejak umur 10 tahun karena dapati pelecehan seksual dari guru sekolahnya. Nyatanya gurunya punya kelainan; exhibitionist. Dia memutuskan lepas dari keluarga karena tak kuat dengan penghakiman tetangga. Di sekolah dia tak ada tempat aman. Setiap hari yang ia dengar hanya hujatan bahwa masa depannya hanya akan ditampung dunia hitam karena tak perawan. Dia temukan aku dalam keadaan hampir mati di dekat toko kelontong karena kercacunan sisa makanan yang kuambil dari tong sampah. Dia memacari aku. Dia bilang, hidup ini sudah menyusahkan. Jika diri belum berani untuk menatap mati, bertahanlah sedikit lebih lama dengan cara manusia. Dia jadi pelacur pada umur dua puluh tahun. Selama berpacaran denganku, aku jadi tukang ojek sekaligus body guardnya. Dia mengajari aku bagaimana menaklukkan laki-laki dengan monopoli bahasa. Waktu itu, aku masih depalan belas tahun.”

images

“Setelah putus dari Renika karena dia akhirnya bertaubat setelah terjangkit raja singa, aku diumpankan pada Malika. Seorang anak politikus yang terjerumus lingkaran mafia. Ketika kali bertemu denganku, ia katakan wajahku mirip kekasihnya yang mati tertembak saat transaksi narkoba. Aku akhirnya berpacaran dengannya selama 2 tahun. Selama itu, dia ajari aku bagaimana menjalin sebuah kelompok yang militan. Bagaimana melihat kelicikan politik ayahnya. Meskipun dia begitu kaya, dia bilang dia penganut sosialisme. Dia bahkan bilang tak pernah sekalipun membenci rakyat miskin. Dia benci orang kaya yang kerjanya memeras rakyat kecil. Kupikir dia sangat gila, 26 tahun dan memiliki hampir seratus anak buah.”

“Hubunganku setelah dengan Malika. Aku mulai mencari pasangan yang sesuai dengan kebutuhanku. Banyak hal-hal yang bisa aku jadikan pelajaran dari orang-orang ini. Persetan dengan cinta. Perempuan yang aku tiduri semua adalah sekolah. Mereka begitu jujur dan memberikan aku segalanya. Ilmu dan pengalaman. Mulai dari seorang dokter, seorang mahasiswi filsafat, aktifis feminisme, semua telah masuk ke dalam diriku hingga akhirnya terbangunlah aliansi para preman arus bawah ini. Kelompok yang aku buat untuk melindungi para wanita dari kejahatan seksual dan kebejatan nafsu.”

Rangga berhenti menulis. Diambilnya segelas air putih di dekatnya untuk menghilangkan perkabungan dari semua mantan pacarnya yang sudah mati. Air yang mengalir lewat tenggorokannya seolah memberikan penghidupan bagi dia. Sebuah tenaga baru.

Baru dia hendak lanjutkan suratnya, seorang dokter datang dari balik pintu untuk memeriksa kondisi darahnya. Rangga sudah lima tahun mengalami cuci darah. Untung sekali mantan pacarnya semua bersatu mendirikan sebuah yayasan sebagai donatur kesehatan para gelandangan. Jadi, Rangga merasakan obat yang ia telan setiap hari serasa cinta yang hangat dan menguatkan.

“Bapak harus tidur. Besok bisa bapak lanjutkan lagi.” Saran Dokter Susan.

Dengan dengusan napas, ia baringkan diri dengan bantuan dokter Susan. Diraihnya selimut untuk segara pergi tidur. Apalah daya beberapa surat yang tak rampung menahan matanya. Jangan tidur dulu, pikirnya.

Ia berdiri dan kembali membuka buku catatan. Masih ada satu halaman tersisa. Dia habiskan malam itu juga.

“Biar aku lanjutkan. Entah kenapa kata-kata pada lembar terakhir ini begitu tak sabar ingin segera ditulis. Jadi kita mulai saja. Semua mantan yang sudah menjadi pengalaman dan bagian dari perjalanan berdarah ini tidak akan pernah aku lupakan. Mereka yang membuka mata pada diriku bahwa hidup ini harus dihadapi. Mau bagaimanapun pedihnya. Kita akan menjadi buah dari masa mendatang. Kita akan mati dan berinkarnasi menjadi ingatan. Jika aku tak bertemu mereka, aku tak akan sampai pada titik ini. Jadi, jikalau kalian nanti baca suratku ini. Aku ingin kalian berbaiklah pada keluarga kalian. Jangan tunjukkan kebengisan kalian di mata anak kalian yang lugu. Berikan perhatian lebih. Didik mereka sampai mengerti keadilan. Dan,,,”

Belum sampai pada akhir tulisan semua jadi begitu hitam. Rangga tak lihat apa-apa lagi kecuali cahaya putih yang mulai membesar. Seolah-olah  cahaya itu menjelma tangga yang bisa saja mengantarkan dia ke arah berantah.

***

Kerumunan berjaket lengkap dengan senjata di tangan sudah memenuhi seluruh sudut rumah megah itu. Rumah miliki seorang ketua mafia yang sudah berpuluh tahun tak bisa diendus keberadaannya. Setelah berjalan pengintaian dan persiapan penyerangan, seorang polisi berhasil masuk dan menembak mati kepala mafia itu. Tubuhnya roboh kelantai dengan ciprtana darah di mejanya, tak sedikit membasahi kertas-kertas yang seperti tintanya masih baru.