Apa Salah Saya?

Kemarin sore saya hendak pulang dari Semarang ke Salatiga. Saya menunggu bus yang keluar dari terminal di kawasan Kaligawe. Jalanan padat oleh para pengendara yang malang-melintang selepas kerja. Suasana agak macet karena beberapa mobil menyalakan sen ke kiri atas instruksi polisi lalu lintas. Ada pengecekan kelengkapan kendaraan.

Entah mengapa, sore itu memang sangat bagus cuacanya. Langit merona cerah, orang lalu-lalang, penjual, pekerja, bahkan beberapa mahasiswa dari kampus setempat yang hilir-mudik membuat saya ingin mengambil gambar.

Hampir seperempat jam saya di sana dengan kumpulan hampir 5 foto terbaik menurut saya. Dari simpang badan jalan, bus Safari keluar dari terminal. Saya sudah beranjak berdiri, melangkah ke tengah jalan untuk mencegah bus, naik. Tiba-tiba suara meneriaki saya, seorang polisi memanggil saya. Bus Safari terlewatkan. Saya pun menghampiri polisi tersebut.

“Ada apa, Pak? ” Tanya saya.

” Lihat HP nya, Mas! ” Pinta petugas.

Saya pun memberikan HP saya.

” Ini saya hapus, Mas. ”

Saya terheran. Ini kenapa foto saya dihapus. Saya kira tidak ada masalah dengan foto saya.

” Loh, kenapa pak? Ini kan saya hanya memotret jalanan saja. Apa salahnya? ”

” Pokoknya tidak boleh, Mas. Atau jenengan mau saya laporkan ke komandan? ”

Karena saya tidak mau memperpanjang urusan, akhirnya saya hapus foto tersebut. Kemudian saya menyingkir dari lokasi. Saya merapat ke area ojek pengkolan.

” Mau kemana, Mas? ” Tanya segerombolan ojek.

” Mau ke Salatiga, Pak. ” saya menambahkan, ” Tadi kenapa saya foto area ini diminta menghapus, Pak?” Tanya saya sok polos.

“Ya begitu itu, Mas. Operasi kok hampir tiap hari. Bisa kali 3 kali sehari. Dah kayak minum obat aja. ” Seorang pengojek sewot.

Saya mengerti. Ada yang aneh dalam pikiran saya. Saya memang tidak berniat menulis ini. Tapi, karena ada upaya dari pihak tertentu meminta menghapus foto, membuat saya geram juga.

Ada beberapa pertanyaan, kenapa tindakan penertiban berkas kendaraan tidak boleh terpublikasikan? Kedua, kenapa seolah tindakan ini adalah tindakan yang menimbulkan kekhawatiran bila tersorot. Bukankah bagus jika orang tahu agar surat dilengkapi.

Adanya tindakan penertiban boleh dilakukan dengan formalitas yang valid. Jika memang itu sudah menjadi tanggungjawab, kenapa pula harus was-was ada yang melihat? Saya pun memaklumi setiap tindakan penertiban. Tapi, dengan cara merampas hak saya dalam berekspresi lewat foto. Saya tidak bisa memaklumi. Ini bukan apa-apa. Ini adalah wujud sederhana dari sebuah rasa menghargai.

Saya tidak akan mempermasalahkan kasus ini. Saya hanya mempermasalahkan hak saya. Kenapa? Sila pembaca beri komentar.

Kenapa Masih Saja Debat Hukum Perayaan Tahun Baru? Cukup

Setiap waktu perlu kita syukuri. Tapi, masih saja muncul asumsi tentang perdebatan bagaimana sikap kita menyikapi tahun baru. Ada yang bilang ini dan itu. Sehingga sampai sekarang yang terjadi bukan menentramkan hati, justru memanaskan suasana. Maka tulisan saya ini hanya bentuk pemikiran dari orang yang tidak luput dari kesalahan. Mari kita bercerita dan menyikapi dengan penuh pertimbangan.

(Anda bisa tonton versi video artikel ini)

Beberapa waktu terakhir ini saya mendapati banyak sekali repetisi problematika perihal tahun baru. Setiap kita berbicara soal tahun baru, sebagai seorang Muslim, selalu saja muncul pertanyaan “apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru.” Jawaban yang muncul bernada beragam. Ada yang mengatakan bahwa Islam telah memiliki tahun baru sendiri yakni pada tanggal 1 Muharram. Ada yang mefatwakan haram sampai mubah (boleh). Dengan ekslusifitas ini, muncul persepsi tentang menanyakan status tahun baru masehi. Tahun baru masehi muncul bersamaan dengan hegemoni perayaan umat Kristen. Tapi saya tidak akan membahas mengenai hukum perayaan atas nama agama. Mari kita menyikapi dengan kepala dingin.

Tanggal 1 Januari diperingati sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih. Tahun baru dirayakan di penghujung tanggal 31 Desember menuju 1 Januari. Pendekatan ini yang akhirnya membuat seorang mulai berspekulasi tentang adanya substansi agama di dalamnya. Di sisi lain, penanggalan masehi diletakkan sebagai kalender nasional. Ini yang membuat masehi menjadi penaggalan inklusif terhadap bangsa di atas nama agama. Bila kita perhatikan, tahun baru eksklusif lainnya bisa kita dapati pada Islam, Cina, maupun Jawa. Jadi ada garis antara bentuk tahun baru yang sifatnya eksklusif dan inklusif. Hal ini perlu dilihat dari kacamata historis. Sekali lagi, tahun baru memiliki dua wajah.

Mengucapkan saja menjadi polemik, lalu bagaimana dengan perayaannya? Kenapa semua ini bisa muncul sebagai problem? Contoh kecil saja, bagaimana kita musti menyikapi bahwa kita menyukai suatu band tertentu yang diundang ke kota kecil kita. Kita sungguh ingin menontonnya. Tetapi sayangnya, band tersebut diundang dalam rangka akhir tahun/tahun baru. Akhirnya ada ketakutan di dalam pikiran apakah dengan menonton band tersebut kita seolah menjadi objek dari perdebatan. Di sisi lain, di waktu yang sama, banyak di masjid berdzikir dan doa bersama. Di gereja ada panjat doa. Berlaku juga terhadap agama lainnya yang melakukan ritual senada secara ekslusif. Lalu kita harus bagaimana?

Kembali lagi, hal ini mencakup pada orientasi waktu yang seolah-olah mistis. Kita terlalu sering dihadapkan pada situasi yang sifatnya momentum. Tidak hanya tahun baru, kita sering mengistimewakan hari seperti hari ulang tahun, perayaan wisuda, perayaan kelulusan, perayaan kenaikan jabatan. Sekali lagi, kita sering mengacu kepada orientasi momentum waktu. Kini muncul pertanyaan muncul kembali, “apakah hari lain itu tidak istimewa dan tak berhak dirayakan?”

Setiap tanggal merah menghiasi kalender, akan selalu nampak respon tidak langsung terhadap gaya perilaku kita. Malam sabtu akhirnya dikeramatkan,misalnya. Siswa sekolah menganggap ini menjadi waktu yang tepat untuk begadang. Para pekerja akan meluangkan waktu untuk menikmati waktu yang lebih senggang. Tidak heran muncul ujaran “malam minggu ngapain nih?”. Apa bedanya malam minggu dengan malam-malam yang lain? Apa keistimewaan malam minggu. Sekali lagi, ini mencakup benang merah antara eksklusifitas dan ingkluisifitas peristiwa.

Dampak dari respon gelombang kejut momentum ini akhirnya yang sekaligus menjadi polemik. Selama seorang menilik pandang hari tertentu selalu tercakup kepada teologi, selama itu akan terjadi benturan ajaran dan tata aturan. Tetapi ketika kita kembalikan lagi persepsi kepada diri kita, maka yang terjadi adalah keintiman terhadap batin. Hal ini yang kemudian memunculkan argumen soal niat. Istilahnya private purpose. Kita hanya ingin mengajak kawan-kawan keluar malam karena waktu seperti yang disebut diatas adalah alasan kita bisa berkumpul bersama. Kita merayakan keluangan ini. Kita kembalikan pada purpose kita. Semisal tahun baru diluar sana orang mulai merayakan dengan cara yang semarak, mereka berhak atas gaya perilaku yang mereka tentukan. Hal yang perlu dipertegas adalah adanya batasan-batasan aturan agama dan etika berkomunikasi sosial.

Kita perkecil lagi rentang tali konflik ini, jika makna daripada tahun baru (semua jenis tahun baru) adalah menanamkan doa-doa baik. Kenapa kita tidak melakukannya setiap waktu. Semisal setiap hari kita berdoa agar waktu yang kita dapati merupakan waktu yang perlu kita syukuri. Kebiasaan ini yang nampaknya memang belum muncul ke permukaan. Ketika kita terbiasa berdoa secara intim dan mulai merayakannya dengan hal-hal baik, kita tidak akan terkejut terhadap stigma momen perayaan. Setiap waktu memiliki wajah khusus dan umumnya. Jika masalah tahun baru dikaitkan dengan perayaan keagamaan, bagaimana jika kita tanamkan dalam diri untuk mensyukuri akhir tahun? Apakah tanggal 31 Desember merupakan hari yang sakral dari kacamata teologis? Sebagaimana mensyukuri tanggal merah panjang, kita berhak atas penentuan waktu luang ini.

Bagaimana pun, kita kembalikan kepada cara sudut pandang kita. Silakan Anda tidak setuju, tapi saya juga tidak tertarik dengan perayaan tahun baru atau akhir tahun. Saya hanya ingin menikmati waktu luang dengan cara saya. Beberapa orang tidak menumpukan gaya perilaku mereka terhadap waktu hari, mereka lebih bertumpu pada cara melakukan hal yang senangi senangi dan dapat dilakukan setiap ada waktu luang. Karena bagi beberapa orang, ekslufitas waktu itu miliki pribadi. Ingklusifitas waktu miliki bersama. Maka, alangkah lebih baik kita beri ketegasan batasan agama dan batasan bernegara. Silakan nikmati waktu luang Anda.

Kita Sering Tidak Rela Melihat Orang Lain Bahagia

Apakah Anda pernah begitu jengkel melihat kawan-kawan Anda mendapatkan kebahagiaan mereka? Mungkin dengan sederhananya Anda tidak suka jika hal-hal yang Anda cita-citakan justru didapatkan oleh orang lain yang sebenarnya tidak begitu mengharapkan hal tersebut. Apakah Anda merasa frustasi akan hal itu? Apakah Anda mulai menampilkan sikap yang berbeda terhadap mereka?

Saya punya seorang kawan. Ia sangat suka sekali menceritakan impiannya kepada kawan-kawan ketika kita sedang berkumpul. Ia bercerita ingin sekali menginjakkan kaki ke luar negeri. Ia ingin sekali mempunyai suatu bisnis yang membanggakan. Ia ingin orang lain melihatnya dengan selalu menampilkan tampang terkesima. Ia percaya sekali itu tanpa pernah mendengarkan menanyakan kepada kita hal apa yang kita juga inginkan.
Suatu waktu kawan saya yang lain memberikan kabar bahwa ia mendirikan sebuah kedai kecil di sekitar rumahnya.

Teman lainnya berkabar dengan mengirimkan gambar dirinya sedang berada di suatu negara tertentu untuk urusan pendidikannya. Anehnya, kawan saya yang tidak pernah bercerita apapun soal ambisinya seolah benar-benar mendapatkan apa yang diucapkan teman saya yang pertama. Apakah ada masalah mendasar?

Mula-mula memang tidak ada yang berubah. Kita masih sering berkumpul. Lalu kemudian muncul perbedaan dari gaya komunikasi kita. Kawan saya, yang awalnya suka bercerita, mendadak diam seribu bahasa. Ia kehilangan gairah untuk membuka obrolan. Kali ini berlainan, kawan saya yang lain mulai mengangkat kata tentang pengalaman pencapaian yang baru saja mereka dapati. Ada yang aneh dalam komunikasi ini.

Sejak itu, kawan saya yang pertama tidak lagi semenyenangkan dulu ketika kita masih belum menapaki kehidupanm diluar perkawanan itu. Saya mulai berpikir dari sini. Lalu saya tanyakan, apakah ia masih memiliki semangat atas cita-citanya terlebih dahulu? Ia jawab dengan nada pesimis. Ia mulai berpikir bahwa takdir tidak mendukung dirinya. Ia mulai frustasi. Ia kehilangan kendali. Ia mulai tidak menyukai lingkungan kita.

Ada permasalah mendasar yang saya ingin katakan. Pertama, verbal over optimism. Kedua, self-defence. Dan ketiga, thought management. Baik kita akan bahas mengenai dasar yang pertama. Saya jadi ingat suatu pesan dari seorang seminaris yang mengatakan bahwa “Jangan pernah berhenti bermimpi.” Atau kalimat lain yang bagus sekaligus mematikan “Suarakan mimpimu agar semua orang mengakui itu.” Memang tidak ada yang salah terhadap kalimat tersebut. Hanya saja, cara orang memaknai kalimat tersebut sangat menentukan langkah ia kedepan.

Kawan saya terlalu optimis dengan cita-citanya sekaligus menceritakan semuanya sebelum ia melakukan apa-apa. Ia hanya memandang suatu hasil tanpa melihat substansi kecil pendukung. Semisal contoh ingin memulai bisnis. Bisnis bukan tidak serta merta dilakukan dengan cara yang “waw”. Bisnis selalu didukung hal-hal lain yang sifatnya mendukung. Entah itu business plan, mengikuti seminar kewirausahaan, belajar pengaturan waktu, bahkan prinsip dalam berpikir seperti seorang entrepeneur. kecenderungan kita justru hanya berfokus pada keberhasilannya saja. Bukan prosesnya. Inilah kelemahan dari verbal optimism. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Kita bisa saja semakin bersemangat untuk mencapai tujuan tersebut, tapi di sisi lain kita sendiri mengatur pikiran kita untuk menjadi terdepan di mata orang lain.

Orang yang menghindari verbal optimism mungkin berpikir bahwa buat apa menceritakan hal-hal yang belum juga nyata. Alangkah lebih baik jika diatur untuk diri sendiri. Mungkin ini yang terjadi kepada kawan-kawan saya yang sudah mendapatkan satu demi satu buah dari usahanya. Di sisi lain, kawan saya pertama termakan untuk terus bersikap idealis tanpa usaha yang tepat dan mengantisipasi kegagalan. Semua harus berhasil sempurna. Dampak dari optimisme verbal adalah kita menambah beban tanggung jawab moral terhadap kita dihadapan orang lain.

Permasalahan kedua adalah self defence. Ini merupakan anak yang lahir dari rahim komunikasi. Kawan saya menjadi begitu pesimis terhadap keinginannya yang sudah dicapai kawan lain. Pesimisme yang timbul justru mencari kejelekan dan kelemahan perihal yang kita inginkan agar kita merasa nyaman. Setidaknya ada pikiran “tujuan itu ternyata gak memuaskan”. Berapa kali kita harus berpura-pura terhadap kelemahan kita sendiri. Kita mulai menyalahkan orang lain. Kita mulai tidak suka berurusan yang berkaitan dengan kegagalan kita. Semua ini terjadi karena beban moral yang kita produksi sendiri di awal. Saya juga pernah merasakan hal serupa. Dengan kegagalan saya dan keberhasilan orang lain terlebih dahulu, saya mulai menaruh skeptisitas yang tinggi. Saya menentramkan diri saya sendiri dengan mengupas pesimisme terhadap orang lain.

Permasalahan ketiga, kita terlalu terpancing untuk memikirkan perihal yang memuaskan diri. Ini lumrahnya manusia. Setiap dari kita lebih suka berada pada zona nyaman daripada harus terus susah payah. Kita musti sadar satu hal. Setiap hal memiliki antonim. Kita jarang memikirkan kemungkinan terburuk dalam menetapkan suatu keinginan. Ini mengakibatkan gelombang kejutan pada psikologis kita ketika tujuan kita memang belum sepenuhnya sempurna. Padahal, idealisme tujuan tidak pernah akan berhenti pada satu titik. Selalu ada tujuan-tujuann yang lain. Karena idealisme ini, akhirnya membuat kita depresi dan mengutuk diri karena kita tidak bisa memaafkan keadaan. Kita tidak menemukan jalan kreatif dalam berpikir karena kita tidak terbiasa berpikir sehat dalam keadaan genting.

Dari apa yang menjadi pengalaman, sikap menerima itu penting. Ditambah, kita perlu mengakui bahwa setiap orang memiliki tujuan yang tak senantiasa perlu kita ketahui. Kita perlu membangun gambaran-gambaran realistis dari bangun abstraksi keinginan kita. Dengan cara ini, kita akan bisa menerima orang lain. Semua bukan soal orang lain, tetapi bagaimana cara kita menyikapi keadaan orang lain dan keadaan diri sendiri. Semoga kita menjadi orang yang lebih berpikir bijak dalam situasi apapun. Semoga apa yang kita cita-citakan bisa terwujud dengan penyikapan yang tepat. Tidak ada alasan untuk merasa tidak berguna. KITA MEMILIKI KEISTIMEWAAN SENDIRI-SENDIRI.

Puncak Pacaran Adalah Putus

Tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak yang memiliki pasangan (ketawa nyengir). Pacaran tidak lagi menjadi perihal yang tabu. Saya akan membahas masalah ini sesuai dengan yang marak terjadi di lingkungan terdekat kita. Betapa banyak sekali kawan saya berubah menjadi orang lain karena terserang asmara. Banyak kolega saya yang mulanya tidak memerhatikan penampilan berubah menjadi seorang yang sangat hati-hati.

Sekarang, mari kita tarik ulur dasar pembahasan kita. Mulai dari pengertiannya, kita ambil dari menilik pada kenyataan sosial yang ada. Pacaran adalah lambang sebab dari persamaan perasaan dua orang yang telah saling menyatakan. Jadi, pacaran tidak akan tercipta jika beberapa syarat ini tidak terpenuhi. Pertama, adanya ungkapan perasaan secara verbal. Kedua, adanya penerimaan dan timbal baliknya. Ketiga, dua orang yang saling berkomunikasi.

Beberapa waktu lalu, kawan saya sungguh sangat bahagia karena ia tertarik dengan seorang perempuan. Mereka bertemu dalam kondisi yang tidak diceritakan. Tiba-tiba saja kawan saya mulai menanyai saya apa saja yang bisa menarik simpati perempuan. Setiap kita bertemu, ia semangat sekali bercerita perihal perempuan tersebut. Ia gambarkan mulai dari hal-hal umum hingga yang paling rinci. Bagaimana ia bicara, bagaimana perempuan itu tersenyum, perbedaannya dengan perempuan yang lainnya. Saya sadar, kawan saya ini tengah tak sadar.

Tidak butuh waktu lama. Ia kisahkan cukup waktu tiga bulan untuk PDKT. Ia ceritakan bagaimana proses ia nyatakan cintanya. Sungguh romantis, batinku. Kawan saya menembak saat mereka makan malam di tempat yang sudah disewa kawan saya untuk momen spesial itu.

Dua bulan pertama kawan saya tidak menghubungi saya sama sekali. Bulan ketiga ia mulai menanyakan kabar saya. Ia mulai mengajak bertemu. Ia katakan pada saya hal-hal yang kontradiktif tentang pacarnya. Pacarnya ternyata tidak seperti yang ia kenal dulu. Sekarang sifatnya berubah. Pacarnya posesif. Setiap pacarnya memerlukan perhatian, kawan saya harus senantiasa ada untuknya. Pacarnya juga meminta hal-hal aneh seperti meminta kawan saya memasang foto profilnya dengan wajah pacarnya.

“Aku pengen putus aja.” katanya.

Apakah Anda juga termasuk orang yang demikian? Apa guna pacaran bagi Anda kalau bukan untuk putus? Itulah garis akhir dari sebuah ukuran hubungan.

Saya akan beri analogi sederhana. Anda ingin mengajak kawan Anda mendaki gunung. Anda akan mengalami sebuah proses pendakian yang panjang hingga sampai pada puncak. Apa yang akan Anda lakukan setelah sampai sana kalau tidak menengok kebelakang dan kembali lagi ke titik awal?

Banyak yang tidak sadar dengan gejala ini. Pacaran memiliki fase yang sama dengan mendaki gunung. Masa pendekatan Anda adalah proses pendakian Anda yang menguras tenaga dan biaya. Semua harus Anda lalui demi sampai di puncak tujuan. Dalam hal ini adalah kata “sepakat” dalam hubungan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang putus karena hal-hal sepele. Mungkin hanya karena perdebatan kecil, mungkin kecemburuan abu-abu, atau mungkin ketidaksamaan persepsi. Semua ini sebenanrnya wajar.

Jatuh cinta adalah gejala emosional yang wajar yang diwujudkan dengan adanya tindakan-tindakan pendukung. Setelah emosi ini mencapai titik klimaks, ia akan cenderung ke kondisi semula. Ini yang terjadi lewat adanya permasalahan-permasalahan tidak perlu. Permasalahan yang kita wujudkan sendiri. Bahkan ada yang sengaja mencari masalah agar punya topik. Secara emosinal, ini adalah tindakan pemancing agar emosional itu tumbuh.

Putus adalah hal wajar. Jadi, untuk apa Anda menangis jika putus? Kenapa Anda rela berencana bunuh diri setelah putus? Kenapa Anda mulai membenci orang lain atas kesalahan Anda sendiri? Putus adalah gejala yang lumrah.

Hal yang perlu kita perhatikan adalah kesadaran itu. Selama putus adalah final dari pacaran, maka selesai. Tetapi, jika kita mengalami proses pacaran dengan memperhatikan langkah setelahnya (menikah), ini akan berbeda lagi urusan. Tetapi pada garis besarnya adalah Anda tetap memutuskan pacaran dengan mencari sensasi emosional yang lain, yakni jenjang pernikahan.

Logika kewajaran putus yang lain adalah seorang suami yang ditinggal istrinya. Mereka pacaran selama 10 tahun dan menikah selama hampir 40 tahun. Lalu apakah putus masih dianggap wajar? Jelas. Dengan kematian istrinya, ia memiliki dilema atas keputusan yang musti ia ambil. Pertama, apakah ia mencari pengganti. Kedua, apakah ia musti setia sampai ia menyusul istrinya di sana.

Jadi, pada intinya adalah sebuah hubungan pasti akan mencapai titik final. Jika kita tidak merencanakan tujuan-tujuan lain diantara final-final kecil, maka selama itu pula kita akan terjebak pada kesalahan yang sama. Jadi, semoga dengan kesadaran ini kita punya dua sisi positif. Pertama, memberikan penyadaran bagi mereka untuk mewajarkan gejala putus hingga menimbulkan depresi (atau hal tak diinginkan lainnya). Kedua, memberikan pelajaran agar kita lebih siap dalam merancang tujuan-tujuan yang sifatnya emosional. Akan ada apa setelah ini. Karena semua yang diawali akan berakhir juga. Tetapi, kita bisa menanggulanginya dengan memulai hal baru yang mana merupakan proses lanjutan yang lebih baik. Hargai pasangan Anda. Kepastian itu penting. Jangan takut putus. Putuslah untuk awal yang lebih baik lagi.

Kesalahan Saya adalah Menerbitkan Buku ke Penerbit ‘itu’

Opini- Di dalam benak beberapa penulis, menyaksikan tulisannya di rak toko buku adalah salah satu yang menyenyakkan tidur. Apalagi buku-buku tersebut tertata rapi di daftar ‘best seller’. Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang penulis di saat seperti itu. Setidaknya, saya pernah punya

firasat seperti itu.

Saya sadari betul saya bukan tergolong penulis yang baik. Menulis bagi saya tidak lebih cara terbaik merelaksasikan syaraf otak yang sering ribut akan berbagai hal. Suatu waktu benar saya membayangkan tulisan saya akan dicetak dan dibaca orang lain. Rasa itu mencuat ketika beberapa orang mulai memberikan tanggapan positif pada status-status yang saya tulis. Baiklah, beberapa sanjungan cukup untuk memupuk kepercayaan diri.

Sekali lagi, saya bukan penulis yang baik. Saya layangkan pikiran saya pada satu kesimpulan untuk membuat satu buku. Buku sekumpulan puisi. Selama proses pembuatan puisi, saya rasakan berbagai macam emosi yang bergumul menjadi satu. Tak jarang saya membatalkan janji bertemu dengan kawan saya hanya untuk merampungkan naskah puisi saya yang, dalam benak saya, akan meledak.

Saya mulai memakan banyak bahan referensi. Mulai dari cara penyampaian, gaya puisi, konten isi puisi, kritik puisi, sampai beberapa teori puisi yang tak sungkan membuat kepala senut-senut. Sekali lagi, saya hanya berpikir tulisan ini akan tembus penerbit.

Cukup lama proses penulisan puisi ini. Waktu demi waktu terlewati begitu saja. Berbagai sumber inspirasi saya pungut satu demi satu untuk menghasilkan riset yang relevan. Semua demi sebuah buku dan harga diri (ego sentris kupikir di sini).

Akhirnya satu naskah menghela napas jedanya. Proses pertama selesai. Kali ini saya perlu berpikir untuk mulai memilah dan memilih penerbit mana yang cocok untuk saya sodorkan naskah. Mulai dari penerbit mayor sampai penerbit indie. Semua saya baca aturan pengiriman naskahnya.

Selama proses pencarian informasi, mulai terbayang bagaimana nanti saya akan melihat buku itu digenggam orang-orang, dibaca di pojok taman, di sudut perpustakaan, di samping kopi panas, atau sebagai media pengungkapan perasaan para introvert. Entahlah, semua begitu kentara di pikiran itu.

Akhirnya saya memilih untuk menerbitkan indie. Alasan kenapa saya memilih proses itu tak lain tak perlu waktu lama untuk proses cetak. Ditambah lagi, ada sedikit kepastian bahwa naskah itu akan masuk cetak. Bagaimana pun, saya bukan penulis yang tenar, cukup sulit menembus penerbit mayor (kesalahan persepsi saya).

Sekarang masuk ke tahap saya memilih penerbit indie yang pas. Saya coba googling di beberapa website, dan akhirnya saya menemukan satu penerbit yang lumayan meyakinkan dari segi manajemen prosesnya. “Baiklah, aku pilih,” kata saya. Mulai saya hubungi pihak penerbit.

Benar tidak waktu lama, buku saya direspon dan akan masuk cetak. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan saya kala itu. Semuanya seperti tertebus segala waktu yang saya curahkan untuk satu buku itu. Bayangan imajiner saya mulai bermain lagi di kepala saya. Lagi-lagi sisi narsisme yang tak terkendalikan.

Selama proses cetak saya sudah membaca peraturan yang tertera. Semua saya baca sedemikian detail. Buku saya dicetak sepuluh eksemplar sebagai sample. Baiklah, saya sangat senang sekali. Dari sana, muncul pikiran untuk memasarkan buku saya.

Saya mulai membuat postingan promosi dan sebagainya. Siapa menyangka! Banyak dari beberapa teman dan kawan di sosial media menanggapi positif buku saya. Mereka ingin membeli buku saya. Saya sangat senang, meskipun tidak ada di toko buku, saya senang puisi saya dibaca orang.

Inilah kesalahan saya, setelah melihat reaksi pasar, saya menghubungi lagi pihak penerbit untuk meminta proses cetak buku sesuai pesanan. Saya ingin membuat ‘stock’ sendiri, sehingga bisa saya pasarkan. Bukankah itu hal yang bagus? Beberapa kolom chat room saya tidak mendapatkan balasan. Baiklah, mungkin pihak penerbit tengah sibuk (saya tidak begitu yakin organisasinya bisa mengabaikan chat room costumer).

Saya mulai gerah dengan dicampaknya chat saya hingga berminggu-minggu. Saya mulai jengah. Sedangkan, teman-teman saya mulai menanyakan buku saya. Saya tidak bisa menjawab banyak kecuali, “masih proses cetak.” Berapa lama lagi saya harus membuat pembaca saya, walaupun tidak seberapa, kecewa? Semua disebabkan tidak adanya balasan sekali dari pihak penerbit. Tidakkah mereka tahu usaha saya dan optimisme saya dalam menulis naskah? Apakah usaha saya cukup adil dengan tidak ditanggapinya permintaan saya mencetak buku lagi? Itulah kenapa saya mulai berpikir, kesalahan saya tidak ada pada bukunya, tapi pihak penerbit ‘itu’.

Sudahkah Kita Tersenyum untuk Orang Tersayang?

downloadAku pulang pagi lagi. Semalaman aku begadang dengan dua orang temanku; Ginanjar dan Rifqi Kaje. Mereka hari ini akan tampil di suatu acara pemerintah kota. Aku hanya menemani mereka latihan saja. Malam berangsur cepat, beberapa puluh lagu yang diputar bergilir, dua gelas kopi, sebungkus rokok, dan bualan-bualan informasi yang hinggap pergi di telinga kita. Semua tidak akan berhenti kecuali memang sudah dilantunkan adzan dari toak masjid.

Sesampai di rumah, aku sadari semua pintu terkunci. Ini wajar, mana ada rumah yang membuka pintu 24 jam tanpa henti. Aku ketuk beberapa kali, dan memang tidak ada jawaban. Rasanya ada yang mengganjal di dadaku. Ada ingatan-ingatan kecil yang merambat di impuls syaraf otak. Sebuah ingatan yang membangun fragmen wajah sendu bangun tidur dan membukakan pintu setiap aku pulang pagi. Kalimat yang selalu sama dari tahun ke tahun, “Jane ki turu nang ndi to, Le?” Dalam bahasa Indonesia artinya sebenarnya kemana saja sih kamu, Nak. Yah, itu kalimat almarhum ibuku.

Aku ingat suatu teori persinggungan. Sebenarnya kita sendiri diajari memahami setiap tanda. Dan tanda-tanda disekitar kita memberikan rekam jejak memori yang cukup lama di kepala kita selama kita memiliki repetisi di sana. Semisal, kau pasti ingat apa yang guru Bahasa Inggrismu ucapkan ketika hendak memulai kelas. Mungkin juga, kamu masih ingat bagaimana orang-orang yang pernah ada dan tiada mendadak mampir hinggap di ingatanmu seperti hantu hanya karena kamu mencium aroma parfum yang sama dengannya, menempati suatu tempat yang pernah mengesankan kalian, atau mungkin lagu yang pernah kalian dengarkan berdua. Semua itu adalah persinggungan. Dalam linguistik, kita sebut ini semiosi.

Sebagai remaja tanggung, terutama bagi seorang lelaki. Aku ingin mengutuk diri sendiri dan berkata, seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu begadang bersama ibuku. Menonton televisi berdua sambil memijat kakinya. Bisa juga mengantarnya belanja dengan niat mendapat uang jajan daripada bermain di luar sebagai seorang pejantan. Mungkin ini yang disebut ‘penyesalan selalu belakangan’. Maksudku, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin kita ingat di masa mendatang. Tidak banyak orang tua yang bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia menghabiskan masa lalunya untuk hal-hal yang ia syukuri di masa mendatang. Tidak sedikit orang yang merasa kehidupannya hambar atau hanya memiliki ingatan-ingatan penggembira sesaat dan tak berlaku lagi di masa tuanya untuk dikenang.

Dalam kasusku, aku merasa aku telah menjadi orang yang kekurangan persinggungan dengan ibuku. Siapa yang akan mengira, wanita yang murah senyum, mengiringi kita setiap waktu, menggoreng telur sarapan, bahkan mencucikan celana dalam kita, akan lebih cepat berpulang. Kita tidak pernah tahu. Bahkan jika aku boleh menghitung, di umurku yang setanggung ini, jumlah aku mengucapkan ‘selamat pagi’ dan ‘have a nice dream’ pada ibuku lebih sedikit daripada aku mengumbarkan kata-kata ‘jangan lupa makan’ pada kekasihku. Betapa kita bisa sejahat itu dengan seolah kita adalah orang yang dijauhkan dari masalah.

Ini adalah kasus sederhana. Di luar sana masih banyak orang yang kehilangan orang lain dan menyesal sejadi-jadinya karena apa yang ingin mereka rawat sebagai ingatan begitu sedikit. Banyak seorang lelaki tua menduda sampai akhir khayat. Jika kau tanyakan apakah ia masih mencintai istrinya. Maka ia akan memiliki begitu banyak persinggungan dengan istrinya yang ia hidupkan kembali dalam kepalanya. Ia tidak akan merasa sedih. Karena di masa lalu, mereka berdua telah melakukan begitu banyak persinggungan positif dan bersifat long term (jangkan panjang).

Setiap orang memiliki ruang paling rapuh di dalam dirinya. Sayangnya, betapa banyak dari kita mengelak atas kerapuhan itu. Berapa banyak dari kita mencari pelarian agar kita terus terliihat kuat dan bahagia. Aku, dalam mengingat ibu, selalu ingin menangis sejadi-jadinya. Peduli apa dengan cengeng. Aku ingin meresapi persinggungan yang sedikit jumlahnya ini. Kenali kerapuhanmu. Kenali sebagian dirimu yang lain. Perhatikan hari esok. Apa yang akan membuatmu hampa ketika persinggungan dalam dirimu saat ini di lepas. Ciptakan lebih banyak persinggungan yang bisa kita kenang dan membahagiakan bagi kita di masa mendatang. Jadikan setiap waktu kita hari ini, adalah kebaikan bagi kita di masa mendatang. Hargai orang-orang yang ditakdirkan mengenal diri kita. Karena, semakin sedikit persinggungan dalam hidup ini terhadap hal lain, semakin menyesal kita mengingat hari ini di lain hari; kecuali kehampaan dan remah-remah penyesalan. Sayangi orang terdekat kita. Hargai mereka. Jadikan mereka menjadi orang yang abadi dalam ingatan.

Bangun Pagi atau Siang?

Akhir-akhir ini aku sering tidur pagi. Jelas bisa kau bayangkan, aku mulai membuka lagi mataku dari tidur sekitar matahari sudah hampir sejarum jam 12 dengan kepala. Saat kubereskan diri, biasanya ada salah seorang yang jadi saksi mata ‘kekeblukanku’ ini; tetanggaku penjual kelontongan yang sewot karena aku tiap hari beli shampo se-sachet saja.

Sebenarnya tidak ada yang berubah, aku dulu waktu SMA sering sekali tidur pagi. Ini hanya beda masa saja. Aku Mahasiswa sekarang, tepatnya mahasiswa tingkat akhir. Ada dunia aneh yang mengelilingi sekitar. Satu, aku tidak bekerja. Kedua, orang menilai kehidupanku seperti kaum intelek. Ketiga, aku menjunjung ego tinggi bahwa masa muda harus dihabiskan dengan bahagia karena hidup hanya sekali mampir. Selesai itu, mati sudah.

Dari kebiasaan-kebiasaan ini aku seolah menentang jarum tradisi. Aku ingat waktu mengaji di surau, “Bangun pagi atau rejeki dipatok ayam.” Dan sekarang, aku merasa rejekiku sudah dipatok ayam sepenuhnya. Namun lihatlah. Tak ada satu ayam pun di

sekeliling rumahku yang membuat CV, belanja baju, beli gincu, atau sebatas ngopi di warung-warung pinggiran menggunjing pemerintahan. Tidak ada. Kemana larinya rejekiku?

Ada hal yang sedikit mengganjal di benak. Urusan pagi atau siang itu urusan waktu. Kau pasti ingat teori rotasi bumi. Bumi memiliki belahannya masing-masing untuk menatap dan memunggungi matahari. Kita bisa tidur dan merasa seolah bintang di langit menjaga mimpi-mimpi busuk kita, sedangkan di waktu yang sama ada orang lain, di belahan bumi lain, sedang menenggak es teh karena panas matahari yang makin lama gak tahu diri.

Anehnya lagi, urusan rejeki disambungkan dengan waktu. Aku ingin keluar sedikit dari dogma agama. Dalam agama apa pun, waktu itu memang secara mistis memiliki ruangan tersendiri untuk membina urusan diri dengan Pencipta. Tapi, urusan rejeki, semua kembali lagi pada urusan kita membina waktu. Bisakah jika aku keluar dari zona waktuku dan mulai mengikuti zona lain? Kau pasti tahu maksudku, internet adalah burok bagi informasi jaman sekarang. Dan informasi ini mengalir deras tanpa mengenal pagi atau siang.

Inilah yang membuat seseorang mulai menilai diri kita dari waktu yang sempit sesuai kaca matanya. Mereka melihat kita dalam batasan waktu yang menurut mereka adalah suatu keburukan. Tapi, apakah mereka pernah bertemu kita saat kita bersujud tanpa mendongak, berusaha memeras ide untuk merancang masa depan, menuangkan segelas bir atau kopi untuk menghilangkan stres tinggi, mereka tidak melihat semua itu. Mereka hanya melihat kau acak-acakan tidak mandi dan seolah kita ini manusia paling sial karena menolak rejeki.

Bangun pagi dengan segumpal rencana-rencana yang tertunda lebih buruk dari bangun siang yang lelah menelan pagi dengan kata ‘lakukan’. Jadi kupikir, dunia ini perlu lagi mengkaji waktu. Jika rejeki ditentukan batasan waktu, tidak akan ada pekerjaan yang cocok. Bisa kaubayangkan jika semua penjual makanan malam hari pindah ke pagi hari? Pelanggan akan kabur. Akhirnya, urusan hati dan Pencipta bisa kocar-kacir.

Maksudku, kenapa sekarang kita tidak berpikir lebih bijak. Lebih baik mana mencari waktu, atau menentukan waktu kita sendiri?

Percuma Saja ‘Percaya’

silence

Masih adakah yang bisa dipegang dari omongan orang lain saat ini? Kau pasti pernah begitu percaya kepada orang lain. Seolah-olah apapun yang keluar dari mulutnya memabukkan dan melegakan. Terkadang rasa curiga dan tidak percaya perlu juga ditanam sedini mungkin. Setidaknya memagari diri agar tidak tersesat ke dalam prinsip orang lain.

Ada seorang teman datang padaku. Wajahnya bisa kautebak. Sama sekali tidak enak dilihat. Ia menceritakan satu kasusnya yang tengah menghujam kepalanya. Ia mulai menceritakan sikap-sikap pacarnya yang beranjak berbeda. Setidaknya tidak sesuai dengan apa yang pacarnya tampilkan kala PDKT. Ia menceritakan kejelekan kekasihnya sangat lancar.

Aku bukan orang yang lihai perihal asmara. Apalagi memberikan solusi-solusi jitu soal mempertahankan hubungan atau memperkeruh suasana tanpa harus terlihat tetap tidak bermasalah. Yang aku tahu, aku masih punya sedikit ingatan kecil tentang beberapa adegan dalam film jika terjebak dalam situasi seperti ini. Semua mengalir begitu saja, dan kau harus lihat bagaimana raut wajahnya berubah. Ia menyimak setiap kata-kata yang aku kutip dari potongan-potongan ingatanku yang tidak utuh.

Aku bilang padanya bahwa pacarnya itu tidak pantas untuknya. Sebuah komitmen dalam hubungan emosional manusia sebenarnya hanya memenuhi kebutuhan psikologisnya saja. Jikalau memang pada masa PDKT kekasihnya sering mengucapkan selamat malam, selamat tidur, atau kata-kata aneh lainnya. atau bahkan ada kebiasaan dia yang sengaja berubah untuk mendapatkan perhatian, itu kewajaran. mungkin saja ia tengah menjajaki kepuasan emosionalnya. kupikir, puncak kepuasan emosionalnya berada pada komitmen itu mulai terbangun.

Dan kau boleh tebak yang terjadi kemudian. Ia memutuskan pacarnya. Kedatangannya kali ini sungguh berbeda. Ia datang dengan perasaan menggebu-gebu. Ia bilang perihal gadis lain yang sangat menarik perhatiannya. Sungguh banyak sekali kejadian-kejadian hebat semasa PDKT nya kali ini. Mulai dari bangun pagi dan bekerja dengan ucapan-ucapan manis dari calon kekasihnya itu. Dia sendiri sekarang sedang menjajaki kepuasan emosionalnya.

Dari kejadian yang menimpa kawanku, ada satu yang ingin aku bilang padamu. Berapa banyak orang hanya menuruti kebutuhan emosionalnya? Berapa banyak orang jatuh cinta, menggebugebu, berseteru, putus, dan menangis sejadi-jadinya? Kebutuhan emosional diciptakan tidak bertahan lama. Dan kasus kawanku, ia adalah orang yang terlalu menggunakan sisi emosionalnya sehingga hidupnya jadi penuh reka-reka. Ia mulai merasa ditikam sikap yang tajam. Logikanya memang demikian. Hubungan apa pun akan menjadi suram jikalau diawali dengan jalinan asmara yang emosional.

Aku kasih kau satu lagi contoh kenapa kita perlu berkata ‘tidak’ pada omongan orang lain. Kau pasti pernah mendambakan suatu mainan. Kau harus merengek, menabung, bahkan mengancam orang tua sekali pun untu mendapatkannya. Rasanya, kau akan dapati puncak kebahagiaan tertinggi saat engkau raih mainan itu dari tangan penjualnya. Tetapi, laun demi laun, kau tidak lagi merasa impresive pada mainan tersebut. Mulai kau acuhkan, mulai kau tinggalkan, bahkan kau mulai melirik mainan lain. Inilah sifat dasar manusia. Bila kita hadapi dengan wajar dan tingkat emosional yang sewajarnya, tidak akan ada yang merasa disakiti hanya karena perubahan sikap.

Aku bilang, mulai sekarang, berlatihlah untuk curiga. Maksudku begini, kau tingkat kesadaranmu sendiri. Kamu memiliki potongan-potongan ingatan yang sampai kapan pun akan kau bawa. Orang dahulu menamakan itu dengan ‘prinsip’. Terkadang perlu kita batasi antara kepercayaan pada diri sendiri dengan hubungan interaktif orang lain. Orang lain mungkin bisa datang dan mengomel sepuasnya. Tapi kadang kita bisa ambil sesuatu yang positif dari omelannya jika saja memang ada nilai-nilai yang sesuai dengan prinsip kita.

Kau boleh bilang ini sedikit gila. Tapi, aku hanya ingin mengajak kamu untuk percaya pada dirimu sendiri. Ambil kata-kata orang lain sebagai perbandingan terhadap apa yang kamu kira baik atau buruk. Jika semua sudah dilalui dengan proses penuh pertimbanga, maka daya emosional itu akan menuruti logika kita. Kembali ke kawanku tadi, mantannya aku tanyai perihal apa yang diceritakan kawanku. Dan ia bilang, “Kawanmu itu brengsek. Dia selingkuh.” “Aku tak percaya padanya soal hubunganmu. Aku percaya ingatanku masih berfungsi.” kataku.