Kenapa Perempuan Jarang Bertanya “Apakah Kamu Selingkuh, Sayang?”

VIOLENCE GRAPHIQUE
source: pinterest

Ada dua sepasang kekasih yang telah berenggang jarak beberapa waktu dengan rentang jarak yang tak dikatakan  dekat. Mungkin tidak perlu dikatakan seperti beberapa kasus LDR.  Hanya kesibukan yang tak saling menemukan kecocokan saja bisa masuk dalam pembahasan saya kali ini.

Si perempuan, ceritanya, sangat ketakutan dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya selama berada jauh nan disana. Pernahkah Anda jua merasakan ketakutan sangat ini? Apakah tubuh Anda sering menggigil di kamar mandi, lidah kelu, kaki lunglai, atau kondisi kesehatan psikis yang tidak menentu. Selama bergumul dengan pertanyaan itu, perempuan ini katanya sering mengurung diri, menanyai dirinya sendiri dengan perbandingan; aku terus menjaga kesetian, bagaimana dengannya?

Lalu perempuan ini sadar betul kehadirannya di dunia ini sering dijadikan hiasan perasaan jalang lelaki. Maka, ketika melihat ada perempuan murung, akan muncul kucing jantan dari segala arah dengan eongan paling menggairahkan. Godaan apa ini, Tuhan, batin perempuan ini. Mulut lelaki mana mungkin bisa dipegang. Banyak terjadi permasalahan di luar sana yang jelas-jelas memerlihatkan kebengisan lelaki. Mereka diam. Mereka pandai menyembunyikan bangkai. Apa salahnya jika aku pun menyimpan bangkai, niatnya.

Api yang perempuan ini pegang erat-erat kelamaan menyengat. Apakah aku sudah bertingkah salah? Tapi aku pun tak pernah bisa memastikan kesaksian kekasihku perihal kesetiaannya. Dalam waktu ini, perempuan mulai merasa bersalah dengan susulan sanggahan yang seolah tetap membela egonya. Hingga pada akhirnya sebuah pesan dari kekasihnya sampai di ponsel. “Besok aku akan terbang ke kotamu.”

Kekasihku akan mulai memberedel kesalahanku satu demi satu. Ia akan menanyai semua yang biasa perempuan kesepian lakukan saat kekasihnya jauh. Ia akan menyalahkanku di mata hakim budaya dan berlagak menjadi seorang raja. Istri raja harus menceburkan diri ke laut api untuk membuktikan kesuciannya. Apakah aku juga harus demikian rupa, pikirnya. Kecamuk itu sampai pada hadapan kekasihnya. Dia sudah siap atas semua peluru yang akan menembus kepalanya.

Lelaki itu angkat bicara, “Terima kasih atas semua setia yang kau tujukan padaku selama ini. Aku menyadari hal demikian. Demi bunga janji kita, aku pun tak pernah menyentuh perempuan lain barang sehelai rambut pun ketika aku jauh darimu.” Pernyataan ini lebih mematikan dari semua tembakan peluru pertanyaan yang sudah perempuan ini kira-kirakan. Sungguh mati ia menahan titik air mata yang tak kuasa berderai. Ia sesenggukan, mengutuk dirinya sendiri, mengutuk pikirannya sendiri.

Saya tidak tahu apakah memang perempuan sangat suka menyimpan prasangka kepada kekasihnya tanpa sedikitpun berupaya terus terang. Sepengalaman saya bersama dengan mantan-mantan kekasih saya, mereka jarang berterus terang dan menginterogasi saya. Mereka lebih suka menunjukkan kecamuk duga dengan sikap dan verbal yang marah. Jadi, yang terjadi bukan sebuah diskusi empat mata dengan melempar pertanyaan, tapi saling menuduh dan merengek seperti anak-anak.

Lantas mau sampai kapan klise ini dipelihara. Ditambah, sekarang praduga makin liar karena sosial media. Apa yang menjadi status kekasihnya tentang quote atau bagian kecil hidupnya dianggap sebagai keganjalan hubungan. Tuduhan mengucur deras seperti hujan badai. Tapi petir itu menyambar ke segala arah tak tertuju.

Maka, ini merupakan awal dari sebuah upaya sikap dewasa untuk hubungan dewasa. Apapun yang menjadi sebuah kecurigaan dalam hubungan, bertanyalah. Jangan terlampau termakan pada klise yang diciptakan fantasi. Kenyataan tak selurus itu. Bertanya adalah cara ilmiah guna mendapatkan pertanyaan mendasar apa, siapa, kenapa, dan bagaimana. Berhentilah membandingkan kemungkinan terburuk untuk dijadikan alasan kita melakukan hal buruk yang dianggap baik versi kita. Ingat, membandingkan keburukan bukanlah bagian dari hubungan yang sehat. Berhentilah berpura-pura. Tak semua orang memahami yang tak terkatakan. Maka, lebih baik dimulai dari sekarang, berlakulah apa adanya karena semua tak harus sama dengan fantasi dan cerita cinta linimasa. Kedewasaan itu menggenggam erat realitas dan kebaikan doa. Maka, mari kita bina pikiran untuk tetap positif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s