Tak Pernah Mudah Jadi Lucinta Luna

Lucinta Luna, di luar statusnya sebagai selebgram, terduga pelaku transgender, maupun pelaku penggunaan psikotropika, tetaplah seorang manusia. Saat ini, semua orang membicarakan kasusnya yang tertangkap menggunakan obat-obatan terlarang di sebuah apartemen. Ini penangkapan yang wajar. Sangat wajar.

Beberapa hari setelah penangkapan, di berbagai timeline muncul headline judul dengan narasi perbedaan antara KTP dan paspor, polisi kebingungan hendak memasukkannya ke sel mana; laki-laki atau perempuan, atau alasan penggunaan obat karena sebuah masalah. Sayangnya, isi dari semua narasi hampir sama. Baik, kita berhak mengekspos pelaku. Tapi, ada satu berita yang cukup menarik (saya lupa oleh media mana) bahwa dikatakan Lucinta Luna tidak akan mendapat fasilitas istimewa (lalu kemudian muncul indikasi bahwa berarti ada yang mendapatkan fasilitas spesial)

Kita pembaca dan penilai yang merdeka. Siapapun yang menyimpang dari kebiasaan akan menjadi sorotan. Mungkin, Lucinta Luna merupakan public figure pertama yang melakukan transgender (masih dugaan). Sehingga, masyarakat heboh lalu menjadikannya bahan penilaian. Sebuah lelucon sarkastik tentang dia. Di luar sana, mungkin bukan public figure, ada seorang yang melakukan hal serupa. Namun, ia tidak mendapatkan respon masyarakat seramai Lucinta Luna.

Ada sebuah analogi menarik dalam memertahankan prejudice publik. Seorang A mengatakan dirinya kelahiran tahun sekian yang mana tahun itu lebih muda dari tahun sebenarnya. Hal ini merupakan kebohongan kecil yang sebenarnya tidak ingin ia ungkapkan. Lantas, ada seorang B yang tanya ia lahir tahun berapa. A tetap kekeh pada jawaban bohongnya. B lalu mengatakan fakta A pada teman-temannya. Naasnya, suatu waktu ketika A dan B beserta teman-temannya ingin ke luar negeri, diperlihatkan KTP atau visa ternyata A lebih tua dari apa yang ia bilang. A menjadi bahan cemoohan. Bertahun-tahun bertahan memendam kesalahan yang kemudian menjadi bahan gunjing di masyarakat. Mau mengatakan kejujuran, sudah terlanjur basah.

Itu hanya sebuah analogi saja. Lucinta Luna mungkin juga melakukan hal yang serupa. Bisa kita periksa dari latar belakang masalah. Kita bahkan tidak tahu masalah apa yang ia alami sehingga ia menggunakan obat terlarang demi ketenangan. Namun, sesuai madzhab cocokologi, kita mungkin akan berasumsi bahwa ia gunakan itu obat karena tak kuat menanggung respon masyarakat terkait transgender. Kita tidak pernah tahu seberapa dia menderita. Atau di luar sisi empati, mungkin memang dia terjebak dalam pergaulan yang salah.

Tidak pernah mudah menjadi Lucinta Luna. Menanggung kesalahan lalu mengerak menjadi sebuah beban tersendiri. Ia berhak diadili dengan konsekuensi yang berlaku. Bukan didramatisasi demi sebuah sensasi. Sekali lagi, kita adalah penilai yang merdeka. Lucinta Luna tetap manusia yang bisa melanggar aturan dan mungkin melenceng dari norma. Diluar sensasinya yang kadang bikin pusing kepala dan mengundang gelak tawa. Tabik!

5 tanggapan untuk “Tak Pernah Mudah Jadi Lucinta Luna

  1. Hidup memang kerapkali kental dengan komentar dan sorotan karena itu adalah feedback dari apa yang kita lakukan, apalagi di era-degradasi seperti ini. Feedback sangat disayangkan lebih condong bukan untuk mengkritik namun sekedar pemuas dahaga si komentator. Viral seolah menjadi Tuhan virtual. Yah, mau bagaimana lagi! Semoga saja cibiran-cibiran itu bisa meringankan langkah yang dicibir.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih atas tukar-pendapat ini. Berangkat dari semua yang sudah kita lakukan. Kita bahkan tak pernah sadar pada bagian kata kita yang mana sebenarnya membuat orang jatuh dan enggan menatap optimisme. Kita hanya perlu banyak waktu sendiri, berpikir, dan membayangkan jikalau seandainya kita ditakdirkan sebagai objek perbincangan.

      Tabik… ๐Ÿ™‚

      Suka

  2. Saya suka sekali dengan judul tulisan ini, dan saya pun setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa tidak mudah untuk menjadi seorang Lucinta Luna. Tidak mudah juga menjadi seorang public figure, apalagi di tengah masyarakat kita yang sangat dinamis ini.
    Saya rasa, kebenaran mengenai Lucinta Luna yang merupakan seorang trangender sudah dikonformasi, tapi yang kadang sangat saya sesalkan adalah reaksi dari kita yang terlalu bagaimana begitu dengan status trangender milk Lucinta. Saya melihat bahwa kita sangat tidak bisa mentoleransi hal ‘beda’ dari kebanyakan dari kita. Lalu, mengenai kasus kepemilikan dan status pengguna aktif obat-obat terlarang, saya sendiri tidak heran. Banyak kasus-kasus serupa yang ditemukan di kalangan selebriti/public figure di negara kita terjadi karena alasan supaya bisa lebih ‘berani’ menghadapi kenyataan hidup sebagai public figure, dan masih banyak lagi. Jika melihat aktivitas yang lalu Lucinta di media sosial, saya rasa bukan hal yang mengagetkan kalau ternyata ia kedapatan mengonsumsi narkoba. Tekanan hidupnya terlalu besar. Tapi, iya itu dia, saya sangat menyesalkan pilihan yang harus ia ambil untuk meringankan beban hidupnya. Saya prihatin.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Terima kasih untuk tukar-pendapat ini. Seperti kita semua seolah lupa menaruh diri dimana kita duduk. Saking nyaman berada pada posisi penonton, hingga kita amati semua yang ada dalam layar adalah tontonan yang berhak kita nilai. Tapi, sekali lagi. Kita lebih suka memandangnya pada tingkat subjektifitas yang terlampau tinggi. Meninggalkan empati dan simpati serta lebih suka mencari impul-impul sensasi agar kita terlibat dengan topik yang dibincangkan banyak orang. Kuantitas personal yang akhirnya membuat statement pertama menjadu truth.

      Kita perlu lagi mengingat petuah tua, jika aku begini, bagaimana jika seolah aku jadi dia…

      Tabik ๐Ÿ˜‰

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ia, saya setuju sekali dengan pendapat ini. Kita memiliki kecenderungan untuk melihat jarum di mata orang lain, tapi balok di mata sendiri tidak kelihatan. Bagaimana kita bisa berkata ada jarum di mata saudara kita kalau balok di mata kita sendiri tidak kita singkirkan ?

        Semoga kita bisa selalu bijak memberikan pendapat ya.

        Tabik.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s