Saksi Mata

Matanya dicongkel. Ia belum sempat melihat pembangunan desa yang dijanjikan kepala desa.

Sebelum resmi dilantik, kepala desa itu menjanjikan akan ada infrastruktur besar-besaran. Mengaspal jalan tanah, memberikan reovasi rumah bagi warga miskin, serta memertahankan hak-hak sawah yang ditarget juragan-juragan properti.

Suatu malam, sebelum mengatupkan mata untuk tidur, ia membayangkan hidupnya akan sangat makmur. Tapi, dua orang misterius merangsak masuk kamarnya lalu mencongkel matanya.

“Buang saja matanya ke kebun belakang.” Kata seorang buru-buru.

“Jangan, nanti kena visum. Coba pendam saja di tanah belakang.” Sahut lainnya.

Tanpa basa-basi keduanya memendam kedua mata Sahrir di belakang rumahnya. Sahrir yang merintih kesakitan tak bisa bersuara karena mulutnya dibekap, tangannya diikat dengan selendang bersamaan dengan kakinya.

Seminggu kejadian itu, mayat sahrir ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Kulitnya membiru. Keluar belatung dari lubang hidung, telinga, pori-pori kulit, bahkan lubang dubur. Semua orang tak kuasa melihat kondisi yang begitu rupa mengenaskan. Sahrir dikuburkan saat itu juga.

Bertahun-tahun berjalan. Kesaksian akan dibungkam dan diberikan fakta yang nyata. Kedua bola mata yang dipendam dua orang misterius itu tumbuh menjadi pohon yang rindang. Pohon yang tidak akan ditemui di dalam ensklopedi morfologi.

Kata masyarakat yang tinggal disekitar, setiap malam, pohon itu selalu mengeluarkan aroma harum. Selain itu, muncul mata air di sekitar batang pohon yang sering dipakai anak-anak dan ibu-ibu mencuci baju atau sekedar wudhu.

Maklum, keadaan masyarakat jauh dari sejahtera. Untuk air minum pun mereka harus beli di pengepul. Kadang mereka masih ditarik iuran untuk pembangunan. Jalan-jalan terbengkalai. Yang jelas nampak, ada beberapa rumah kerabat kepala desa dan kolega yang makin megah.

*

Peresmian itu berjalan lancar hanya sampai pada detik-detik pemotongan pita peresmian pohon ajaib di desa itu sebagai destinasi wisat.

Tiba-tiba, pohon itu rubuh dan menimpa kepala desa beserta jajaran koleganya. Tubuh mereka rubuh dan saat diperiksa petugas. Mata kepala desa sebagian tertusuk ranting hingga tembus tulang belakang, satunya lagi tergencet batang hingga copot keluar. Di saat semua panik, pohon itu mengeluarkan aroma harum darah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s