Surat Mantan Terakhir

Langit menggantungkan bulan di luar jendela. Terlihat dari dalam oleh sepasang mata yang kuat. Dengan selang infus yang menancap di pembuluh darahnya, ia berusaha tetap sadar, duduk dan menulis beberapa surat. Mungkin ini surat terakhirnya.

Aliran_Seni_Lukis_Romantisme

“Aku ingin berterus terang. Bagiku, dunia ini tidak lain adalah neraka yang takdir baiknya hanya dititipkan kepada orang beruang. Mereka bisa bersekolah. Membeli buku apapun yang bisa meningkatkan derajat. Makan haruslah teratur tiga kali sehari dengan kadar kandungan yang kaya protein dan vitamin agar kekokohan tulang bisa bertahan lama dan tak mudah lapuk tergerus usia. Jika boleh hidup ini aku memilih, aku ingin tidak hidup dalam keadaan yang buruk. Paling buruk sekalipun.”

Matanya memejamkan beberapa waktu sebelum ia menguatkan jemarinya menulis tulisan lebih panjang.

“Tuhan tak limpahkan aku harta kecuali sedikit rupa yang menarik perhatian para gadis yang kutemui. Sudah genap usia ini enam puluh tiga tahun, mengikuti sunah nabi. Tak terhitung berapa gadis yang sudah mencium bau dadaku. Tak terbayang berapa wanita yang telah menjalin kasih denganku di kamar kecil kumuh 3 x 4 hanya untuk bertukar bibir sampai subuh.”

“Renika. Mantan pertamaku. Seorang yang mengajari aku melihat dunia dari sebuah sudut pandang positif. Dia tidak perawan sejak umur 10 tahun karena dapati pelecehan seksual dari guru sekolahnya. Nyatanya gurunya punya kelainan; exhibitionist. Dia memutuskan lepas dari keluarga karena tak kuat dengan penghakiman tetangga. Di sekolah dia tak ada tempat aman. Setiap hari yang ia dengar hanya hujatan bahwa masa depannya hanya akan ditampung dunia hitam karena tak perawan. Dia temukan aku dalam keadaan hampir mati di dekat toko kelontong karena kercacunan sisa makanan yang kuambil dari tong sampah. Dia memacari aku. Dia bilang, hidup ini sudah menyusahkan. Jika diri belum berani untuk menatap mati, bertahanlah sedikit lebih lama dengan cara manusia. Dia jadi pelacur pada umur dua puluh tahun. Selama berpacaran denganku, aku jadi tukang ojek sekaligus body guardnya. Dia mengajari aku bagaimana menaklukkan laki-laki dengan monopoli bahasa. Waktu itu, aku masih depalan belas tahun.”

images

“Setelah putus dari Renika karena dia akhirnya bertaubat setelah terjangkit raja singa, aku diumpankan pada Malika. Seorang anak politikus yang terjerumus lingkaran mafia. Ketika kali bertemu denganku, ia katakan wajahku mirip kekasihnya yang mati tertembak saat transaksi narkoba. Aku akhirnya berpacaran dengannya selama 2 tahun. Selama itu, dia ajari aku bagaimana menjalin sebuah kelompok yang militan. Bagaimana melihat kelicikan politik ayahnya. Meskipun dia begitu kaya, dia bilang dia penganut sosialisme. Dia bahkan bilang tak pernah sekalipun membenci rakyat miskin. Dia benci orang kaya yang kerjanya memeras rakyat kecil. Kupikir dia sangat gila, 26 tahun dan memiliki hampir seratus anak buah.”

“Hubunganku setelah dengan Malika. Aku mulai mencari pasangan yang sesuai dengan kebutuhanku. Banyak hal-hal yang bisa aku jadikan pelajaran dari orang-orang ini. Persetan dengan cinta. Perempuan yang aku tiduri semua adalah sekolah. Mereka begitu jujur dan memberikan aku segalanya. Ilmu dan pengalaman. Mulai dari seorang dokter, seorang mahasiswi filsafat, aktifis feminisme, semua telah masuk ke dalam diriku hingga akhirnya terbangunlah aliansi para preman arus bawah ini. Kelompok yang aku buat untuk melindungi para wanita dari kejahatan seksual dan kebejatan nafsu.”

Rangga berhenti menulis. Diambilnya segelas air putih di dekatnya untuk menghilangkan perkabungan dari semua mantan pacarnya yang sudah mati. Air yang mengalir lewat tenggorokannya seolah memberikan penghidupan bagi dia. Sebuah tenaga baru.

Baru dia hendak lanjutkan suratnya, seorang dokter datang dari balik pintu untuk memeriksa kondisi darahnya. Rangga sudah lima tahun mengalami cuci darah. Untung sekali mantan pacarnya semua bersatu mendirikan sebuah yayasan sebagai donatur kesehatan para gelandangan. Jadi, Rangga merasakan obat yang ia telan setiap hari serasa cinta yang hangat dan menguatkan.

“Bapak harus tidur. Besok bisa bapak lanjutkan lagi.” Saran Dokter Susan.

Dengan dengusan napas, ia baringkan diri dengan bantuan dokter Susan. Diraihnya selimut untuk segara pergi tidur. Apalah daya beberapa surat yang tak rampung menahan matanya. Jangan tidur dulu, pikirnya.

Ia berdiri dan kembali membuka buku catatan. Masih ada satu halaman tersisa. Dia habiskan malam itu juga.

“Biar aku lanjutkan. Entah kenapa kata-kata pada lembar terakhir ini begitu tak sabar ingin segera ditulis. Jadi kita mulai saja. Semua mantan yang sudah menjadi pengalaman dan bagian dari perjalanan berdarah ini tidak akan pernah aku lupakan. Mereka yang membuka mata pada diriku bahwa hidup ini harus dihadapi. Mau bagaimanapun pedihnya. Kita akan menjadi buah dari masa mendatang. Kita akan mati dan berinkarnasi menjadi ingatan. Jika aku tak bertemu mereka, aku tak akan sampai pada titik ini. Jadi, jikalau kalian nanti baca suratku ini. Aku ingin kalian berbaiklah pada keluarga kalian. Jangan tunjukkan kebengisan kalian di mata anak kalian yang lugu. Berikan perhatian lebih. Didik mereka sampai mengerti keadilan. Dan,,,”

Belum sampai pada akhir tulisan semua jadi begitu hitam. Rangga tak lihat apa-apa lagi kecuali cahaya putih yang mulai membesar. Seolah-olah  cahaya itu menjelma tangga yang bisa saja mengantarkan dia ke arah berantah.

***

Kerumunan berjaket lengkap dengan senjata di tangan sudah memenuhi seluruh sudut rumah megah itu. Rumah miliki seorang ketua mafia yang sudah berpuluh tahun tak bisa diendus keberadaannya. Setelah berjalan pengintaian dan persiapan penyerangan, seorang polisi berhasil masuk dan menembak mati kepala mafia itu. Tubuhnya roboh kelantai dengan ciprtana darah di mejanya, tak sedikit membasahi kertas-kertas yang seperti tintanya masih baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s