Era Digital dan Menurunnya Fungsi Otak

Kamu bisa lihat setiap hari di twitter. lihat kolom trending. Tagar apa yang sedang naik? Perhatikan dengan seksama apakah kamu akan ikut menuliskan tagar tersebut demi mencari perhatian follower atau memang topik tersebut menarik perhatianmu untuk terlibat didalamnya. Atau kamu mau lihat YouTube dengan pesona trending yang bisa mengganggu selera makanmu di atas meja karena yang berada di posisi atas berisi konten ‘prank’ yang kaukira sampah. ladolcevita_mayo1

Semua informasi di dalam internet kini menjelma ombak tak tenang. Setiap sapuannya mengantarkan berbagai macam topik yang tak terhitung jumlah. Beberapa isu mungkin sangat menarik untuk disimak, sedangkan yang lain seperti sampah. Titik fokus pada tulisan ini sebenarnya bertumpu pada kekacauan kita memproses seluruh informasi yang ada sehingga berpengaruh pada cara berpikir kita.

Kita tidak pernah mengharapkan untuk memikirkan apa yang dibuat orang di dunia maya sebagai trending topik. Namun, dengan dukungan segala elemen media yang bisa menjadi wartawan saat ini, satu isu saja bisa sangat begitu menyesatkan. Mulai dari kopi sachet yang memercikkan api saat terkontaminasi dengan api, maka kemudian orang beranggapan bahwa kopi tersebut berbahaya. Kita tidak sempat berpikir untuk melihat kandungan apa saja yang ada dalam kopi yang memang bisa bereaksi pada api. Informasi dibuat seabu-abu mungkin, penuh gimik, dan topik yang kontroversial agar mendapatkan traffic pengunjung.

Bisakah kita sekarang hidup tenang dengan perenungan sendiri? Sudikah kita bercerita pada sanak teman atau keluarga untuk masalah pribadi? Kita lebih memercayai mediasi virtual daripada verbal. Seolah cara ini merupakan bentuk dari depression healing. Sebuah ruang dengan skala tutur yang sempit. Kenapa kita bisa begitu nyaman dengan itu? Karena kita terbiasa mendapatkan informasi sepotong demi sepotong. Tidak menyeluruh. Inilah yang akhirnya membuat kita tidak bisa merenungkan sebuah isu dari berbagai macam pertimbangan.

Kita juga tidak terbiasa berpikir untuk mencari sebab-musabab dari sebuah isu. Kita hanya tahu ‘copy paste’. Kita lelah  memikirkan sesuatu yang terlalu rumit. Kita terbiasa pada kemudahan. Maka, inilah yang sebenarnya mereduksi ‘logical reasing’ kita. Jarang kita tanyakan kenapa kita bisa begitu jenuh hari ini. Kenapa kita tidak begitu puas meski sudah mendapatkan gaji tinggi. Kenapa kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik pada keluarga di rumah. Bagaimana agar aku bisa bahagia. Bagaimana cara agar aku bisa kerja sesuai passion. Semua pertanyaan ini adalah hal mendasar yang seharusnya kita pikirkan. Atau kamu mungkin memiliki masalah lain yang sekarang kamu hindari karena tak kuat memikirkannya?

tumblr_m5vmuwVyRg1ry8a3ro1_500-3590

logical reasoning berangkat dari kebiasaan dalam berdialektik. Seseorang yang tidak terbiasa untuk bermusyawarah, tidak terbiasa berkomunikasi interpersonal, dan mungkin hanya berlaku sebagai pasif komunikan akan depresi untuk mencari tahu jawaban dari persoalan diri. Pelarian dari ketidakmampuan ini akhirnya lari pada topik yang dibangun orang lain. Sehingga, habis waktu kita untuk memikirkan sesuatu yang tidak pernah menjawab pertanyaan alamiah kita sendiri.

Beristirahatlah. Temui keluarga dan teman. Kenali apa masalah kita. Ceritakan. Kenapa bisa terjadi dan bagaimana menyelesaikannya. Kita perlu waktu untuk merenung. Karena merenung memberikan ruang bagi kita agar mengenal diri sendiri yang tidak akan diwakili oleh platform manapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s