Rumah Bagi Setia

Aku hapal kedua bola mata itu. Geraknya yang terlatih perlahan. Menguliti pandangan mata siapapun yang menghadapinya. Matanya tidak beralih dari tempat dimana aku sekarang berdiri. Ia duduk dengan kedua tangan ditopang lengan kursi. Raut wajahnya seperti biasa, sedikit basah dan dingin. Kita berdua terjebak di satu ruangan yang terkesan asing namun juga terasa sangat hangat. Di luar sana tidak terdengar apa-apa kecuali riuh cuit burung yang bersuara tak seperti biasa. Seperti mantra.

Untitled

“Sudah kubilang, jatuh cinta dan setia itu berbeda.” Kalimatnya memecah keheningan yang dari tadi menyelimuti kami. “Seharusnya dia tahu bahwa aku mungkin tidak pernah mencintainya.”

Sebelum ia meneruskan, kuberanikan diri memotong kalimatnya. Kutanyakan apa yang membebani kakinya hingga tak beranjak dari ia duduk. Sudah hampir setahun. Dan pagi tadi, ia juga sudah tidak menyiapkan kudapan untuk tamu undangan. Ia hanya duduk. Mengunci diriku dengan dua kosakata antara cinta dan setia.

“Yang dilempar ke dunia ini hanyalah cinta. Ia tumbuh meranggas seperti rumput yang tak pernah kau harapkan. Kata itu telah membatukan manusia menjadi parasit pohon-pohon di sekitar.” Tidak bisa kupahami benar apa yang dikatakannya. Raut wajahnya tak berubah sama sekali. “Sedangkan  setia berbeda. Ia tumbuh di tempat lain. Mungkin di jurang yang menciutkan nyalimu. Bisa jadi di atap gedung yang tak sampai ditangkap matamu.”

Kurasa rangkaian kalimatnya terlalu mengandung pertanyaan. Ia tak biasanya berkata dengan pilihan kata seperti itu. Apakah ia tengah mengigau, aku tak tahu. Biar saja aku dengar sampai mana ia akan mengakhiri kalimatnya.

“Kau tahu kenapa sekarang kita berdua ada di sini? Jika saja aku tanyakan apakah kau mencintaiku, mungkin pikiranmu akan berusaha mencari alasan. Bisa jadi. Mungkin juga kau setia padaku. Aku juga tak tahu.”

Aku sudah tak sabar lagi. Kepalaku pusing menerima jejalan kalimatnya yang datang menghujam. Aku perhatikan dinding ruang itu. Tidak ada pajangan lukisan apapun. Hanya ada gambar aku di sudut dinding, dan lukisan ia di sudut yang lain. Hampir setiap perabotan di sini sangat akrab bagiku.

“Bisa kau permudah?”

“Aku pernah mencintai seseorang begitu dalam. Bahkan lebih dalam dari kegelapan. Aku sumpahi diriku sendiri untuk menggandeng tangannya. Menemani dia mencapai segala obsesinya. Aku adalah baju bagi dirinya. Tapi apakah kau tahu?” Dia menrubah sorot matanya. Semakin tajam.

“Aku harus berulang kali menyakiti diri sendiri. Cinta ternyata bukan jaminan. Cinta adalah rumput meranggas. Akhirnya aku berhenti mencintainya.”

Kalimat terakhirnya membuatku bingung. “Lalu bagaimana selanjutnya?”

Ia menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan. “Aku beranikan diri menaiki gedung yang tinggi sekaligus terjun ke jurang yang dalam.”

Sepertinya aku mulai mengerti kemana arah perkataannya. “Jadi kau putuskan untuk setia?” Dia mendehem, lantas mengangkat wajahnya, tersenyum. Tandanya pertanyaanku benar.

“Waktuku tidak akan banyak untuk sekedar mengajarimu apa itu setia. Kau hanya perlu tahu. Bahwa engkau hidup sebagai penggembala. Kau gembala kecil yang menggiring peliharaan pikiranmu sendiri.”

Aku rasakan angin mulai menyelimutinya. Menghembuskan kulitnya. Aneh! Aku perhatikan kulitnya mengelupas sedikit demi sedikit. Ia seperti patung yang rapuh. Baginya sendiri, ia seolah tak merasakan apa-apa.  Apakah pandanganku saja yang semakin kabur?

“Setelah kau dengar keteranganku. Kau akan sulit untuk jatuh cinta. Kau seperti kekasihku. Kau orang yang terlalu larut dalam angan-angan. Kau rakus!” suaranya merendah, membuatku harus sedikit kepayahan menangkap kata demi kata.

Tiba-tiba saja tubuhnya yang basah menjadi kering dan berdebu. Mula-mula tangannya yang ditopang kursi berhamburan menjadi serpihan tanah. Kakinya mulai ditumbuhi batangan mawar. Dan tubuhnya mulai ditumbuhi daun-daun. Lengan kursi itu menjadi sepasang nisan yang menuliskan dirinya sendiri dengan nama yang selalu memecahkan kaca di mata. Tiba-tiba saja semua menjadi putih. Beberapa waktu. Satu, dua, tiga, hingga beberapa waktu.

Di luar telingaku aku dengar orang-orang mulai melangkah menjauh dari pemakaman. Sedang kurasakan tubuhku masih terduduk melamatinya.

“Mungkin aku tahu sekarang kenapa aku masih bisa mengangkat kaki ke sini. Cinta hanya rumput ranggas. Setia sendiri jadi kegelapan yang dalam.” Kuraih ponsel di sakuku. tertulis disana seseorang mengirim pesan. “Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin.” Kujauhi tempat itu. Melihat sekeliling. Rasanya seperti di sinilah jurang bagi kehidupan dalam ruang yang berbeda. Terima kasih. Idul Fitri tahun ini kita hanya berkirim setia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s