Apakah Aku Hidup Untuk Dilupakan?

Tulisan ini ditulis pada hari – 30 Ramadhan 1440 H/ 2019. Tulisan ini juga tidak akan menyinggung anjuran agama. Tulisan ini mengajak Anda sedikit menengok kejadian masa lalu tentang dunia dan kejadiannya.

Bisakah Anda memprediksi berita atau topik apa yang akan lahir sampai akhir Desember nanti? Biar saya ajak Anda mengingat. Perayaan lebaran, isu tentang peresmian presiden. Hukum mengucapkan Hari Natal bagi Muslim atau hukum merayakan Tahun Baru. Semua itu adalah prediksi yang dihitung dari ukuran periode.

Maksud saya begini, banyak dari kita yang hidup pada zaman milenial mengalami kemunduran dalam mengamati dunia. Dunia yang ada dalam diri kita. Kita seolah lebih mengenal orang lain daripada diri kita sendiri hanya dari omongan media yang mengambil data dari ‘menurut’.

Mundur ke belakang, saya tertarik mengutip salah satu esensi cerita dari Frank kelada Vera dalam “Dunia Maya” yang dikisahkan Jostein Gaarder. Ia menyebutkan “Kita bisa hidup lebih lama untuk mengingat masa lalu. Tapi kita tak pernah bisa hidup di masa depan.”

Kita melihat, alam dunia ini terus memberikan masa demi masa. Manusia pertama dihidupkan dan jatuh ke bumi bersama kekasihnya. Peradaban dimulai dari waktu ke waktu. Nama-nama dan bahasa kemudian disepakati untuk menghayati dunia. Mungkinkah mereka memikirkan kita yang hidup jauh sebelum mereka? Adakah mereka pernah membicarakan pakaian seperti apa yang akan kita kenakan ini?

Tidak jauh sebelum zaman milenial, sebelum kita mengenal antena televisi yang menjamur di atap rumah, kita adalah orang yang suka bercerita dengan tetangga. Kisah verbal dari mulut ke mulut untuk menghidupkan kisah yang sudah mati. Mungkin tentang Adam atau Hawa. Kita bahkan dibodohi otoriterian presiden kita untuk waktu yang lama. Apakah orang tua kita lantas protes dan seolah terganggu hidupnya? Mereka hanya akan mengeluh pada tetangga. Kuncinya ada pada arus informasi.

Kebudayaan kita adalah budaya tutur. Ini sudah dijelaskan dalam kesustraan Jawa tentang Walisongo yang dakwah dengan pendekatan kultural. Ceramah pastur. Banyak dari kita telah mati setelah teknologi lahir. Kemudahan ini membuat kita menjadi aladin atau doreamon, bisa jadi Jin zaman Sulaiman. Kita mendapat informasi yang terus menerus berubah dalam waktu yang singkat dan cepat. Kita terpaksa mengikuti itu semua.

Akhirnya, kita banyak menghabiskan waktu untuk mengenal kehidupan luar. Jauh itu, kita mulai tidak mengenal sebenarnya hakikat kita. Ramadhan ini akan diganti topik THR. Lantas masihkah kita akan menjaga kebudayaan temporal selama 30 hari ini?

Kita bisa belajar dari kitab suci. Kitab suci memberikan peluang bagi kita untuk mengenal dunia sebelum kita. Menjaga kematian dan kisahnya. Menjaga kebaikan dan keburukannya. Ini menjadi refleksi kita agar kita bisa mengetahui latar belakang diri kita. Perayaan periodek telah menjadi makanan kita sehari-hari. Kita dididik dunia untuk memikirkan hari ini dan esok. Kita tidak diajarkan untuk menentukan alasan apakah hari ini dan esok dibentuk dari kemarin.

Pada akhirnya, kita yang hidup tidak akan menjadi cerita apapun. Kita tidak akan diberkahi cerita apapun. Kita akan mati menjadi hantu. Tidak menjadi cerita. Tidak menjadi mitos. Kita menjadi butir pasir peradaban yang ditinggalkan. Mari kita kenali keluarga kita. Kita bangun hidup kita dengan versi kita. Kita adalah buah yang matang dari tangkai yang mengeluarkan buah matang sebelum kita.

Ditulis: Muhsin Ibnu Zuhri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s