Nasehat Kecil untuk Tidak Merendahkan Orang Lain

Saya sering mendapat gunjingan atas segala keburukan dalam diri saya. Kadang cibiran lalu-lalang seperti pemudik di negara berkembang. Bertambah dan terus bertambah. Awalnya saya sangat tidak suka dengan cibiran tersebut. Namun tetap saja saya tidak bisa mengatasi keburukan saya sendiri. Di lain hal, seorang kawan saya sangat merasa bahwa dia tahu segalanya. Dia kadang mengatakan apa yang tidak saya tanyakan. Di setiap perjumpaan, dia selalu mengkritik siapapun yang tidak mengenakkan pandangannya. Saya pikir dia orang yang sempurna.

_107090686_amienraisdua

Setiap orang berhak menilai orang lain. Terutama di dunia baru yang tak perlu melihat wajah. Jari lebih peka bersuara daripada logika. Di sosial media kita berhak mengatakan apa-apa. Mungkin ini yang disebut kebebasan berpendapat. “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.” (UUD 19945 pasal 28E ayat 3). Hanya saja, cara berpendapat kita akhir-akhir ini melewati batas kewajaran.

Seorang anak kehilangan gairah belajarnya karena lantas dikatakan bodoh oleh gurunya. Tidak ada yang tahu bagaimana anak berupaya sekuat tenaga mengerjakan tugas yang diberikan. Tidak ada yang tahu bagaimana si anak harus membagi waktu belajar dan membantu orang tua yang berkeringat membiayai tagihan bulanan pendidikan yang kian hari makin membengkak. Sebaliknya, seorang guru dipukul oleh wali murid. Kasus yang sering muncul ke permukaan adalah guru melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Sebagai orang yang membayar, tentulah layanan pendidikan harus sesuai dengan ongkos yang dikeluarkan. Tidak ada yang tahu bagaimana si murid mengejek si guru ketika di kelas. Tidak ada yang tahu bagaimana guru sudah memperingatkan berulang kali agar memerhatikan unsur-unsur kesopanan. Sekali lagi, fakta adalah aib yang abu-abu.

Bulan lalu marak lewat sosial media dalam kaitannya pawai kampanye calon presiden. Sosial media jadi jalan pintas menaklukkan lawan dengan mempermainkan opini publik. Caranya jelas, memberikan isu-isu yang belum tentu benar. Sebenarnya, bagi pembaca yang budiman, mereka sangat tidak suka dengan cara kekanak-kanakan isu tersebut. Kita jadi seolah pribadi yang pantas mengatakan orang lain buruk. Hal tersebut bahkan menyinggung sendi-sendi personal. Agama, suku, ras, kekelaman masa lalu, bahkan sampai status hak sipil.

Kebabasan berpendapat, HAM, dan hukum menjadi senjata untuk menjatuhkan orang lain. Lebih mendalam, kita mulai membandingkan posisi kita lebih baik di mata tuhan. Kita berlomba untuk menarik simpati Tuhan bahwa kita adalah orang yang mulia dengan cara hidup kita. Orang yang belajar ilmu yang tak menyentuh realita kemanusiaan. Orang yang dipengaruhi jaminan kebahagiaan hakiki atas nama agama. Orang yang merasa hebat karena lingkaran kasta dan kekuasaannya. Semua itu lantas menjadi satu kelebihan kita yang terus kita banggakan.

Dengan kecenderungan mencari kelemahan orang lain, akan terus menyombongkan diri kita. Narsisme yang berlebihan. Panjat sosial yang kelewatan. Akankah masa depan lantas akan damai? Bisakah kita hidup nanti dengan sederhana. Menikmati sore hari dengan meminum teh bersama kekasih di kebun belakang rumah. Keluar malam dan pulang pagi tanpa ada yang menjelekkan pekerjaan kita?

Saya jadi ingat dengan Jostein Gaarder yang menceritakan Frank dan Vera yang berbagi ramuan keabadian. Apakah yang akan mereka cari dari keabadian itu. Berapa banyak masa lalu yang akan mereka tinggalkan di jalan-jalan. Semakin lama hidup kita, akan semakin banyak urusan yang perlu kita selesaikan.

Saya akan memberikan satu saran yang dikutip dari Syeh Abdul Qadir Jailani yang mungkin relevan untuk kita saat ini. Pesan yang belia sampaikan termaktub dalam kitab nashaih al-ibad.

  • Jika kita bertemu dengan orang lain

Tanamkan pada diri kita bahwa orang lain itu memiliki pribadi yang baik. Banyak kebaikan yang ia sembunyikan dari mata kita. Ia pasti lebih baik dari kita di mata manusia dan Tuhannya.

  • Jika kita bertemu dengan anak kecil

Anak kecil selalu kita anggap remeh. Anak kecil memang tidak akan melampaui kita dalam kaitan keilmuan atau rasionalitas berpikir. Tapi, anak kecil punya kemungkinan dalam melakukan kejelekan lebih sedikit dari pada kita yang hidup lebih lama. Ia pasti lebih baik derajatnya.

  • Jika kita bertemu dengan orang tua

Orang tua lebih punya banyak waktu untuk menghadiahkan banyak kebaikan di hidupnya. Kebaikan yang ia lakukan sebelum kita. Tentulah ia hidup dengan limpahan kemuliaan atas apa yang ia lakukan selama di dunia. Soal derajat, ia pasti lebih tinggi dari kita yang baru hidup beberapa waktu.

  • Jika kita bertemu dengan orang berilmu

Orang berilmu adalah orang yang memegan sendi hakikat kebaikan dunia dan fana. Tentulah orang yang berilmu banyak menyebar manfaat kepada orang lain. Lantas bagaimana mungkin kita bandingkan dengan orang-orang macam kita yang malas belajar. Kita dididik kemalasan dan kepongahan. Tentulah orang yang berilmu lebih baik dari kita.

  • Jika kita bertemu dengan orang tidak tahu

Orang yang bodoh adalah orang yang tidak tahu. Tuhan tidak menghitung dosa bagi orang yang tidak tahu. Bagaimana dengan kita yang tahu dan melanggar aturan-Nya? Berapa banyak kita menipu Tuhan untuk melanggar aturannya sedangkan kita sendiri paham bahwa yang kita lakukan adalah salah?

  • Jika kita bertemu dengan orang yang beragama lain

Kita tidak pernah tahu akhir masa dari manusia. Bagaimana keadaannya. Bisa jadi orang yang kita temui akan berakhir dengan iman yang sama dengan kita. Bisa jadi kita menjadi orang yang meninggalkan iman di akhir usia. Kita tidak tahu.

Kita adalah gumpalan daging yang berpikir. Kita menggenggam hakikat hidup yang sama. Apakah lantas kita selalu lebih baik dari orang lain? Kita hanya perlu terus berkata dan berlaku baik. Itu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s