Apa Salahnya Pura-pura Bahagia

Sebelum Anda baca tulisan ini sampai kata terakhir, tanyakan satu pertanyaan kepada diri Anda sendiri “Apakah aku pernah benar-benar merasa bahagia dengan tulus?”

a075bffe0c83199e

Mungkin agak terkesan pesimis jika membaca judul tulisan ini. Benar adanya. Saya ingin mengajak Anda mengenal kepura-puraan Anda yang sesungguhnya. Bagaimana Anda mengartikan makna dari kata ‘bahagia’ dengan cara yang tulus. Mengenal dengan baik bahwa wajah kebahagiaan kita sering sekali berpura-pura. Kepura-puraan yang kita bagikan pada dunia.

Suatu hari seorang ibu keluar rumah. Kakinya melangkah kearah pasar untuk membelikan anaknya baju baru untuk lebaran. Sebelumnya, sudah dikatakan jikalau tahun ini hasil dari penjualan warteg ibunya tidak begitu laku. Sang anak sudah tidak sabar mengenakan baju merek terbaru, seperti milik teman-temannya. Sehingga nanti jika waktu sholar Idul Fitri tiba, si anak tidak merasa berbeda dengan teman-temannya. Si ibu coba mengatur ulang pengaturan keuangan supaya uang jatah bulanan bisa untuk membelikan makanan lebaran sekaligus baju bagi anaknya.

Si ibu itu kemudian keluar masuk beberapa toko untuk melihat jenis pakaian paling terbaru. Dia tidak berencana membeli barang satupun. Ia berpikir, ia akan membeli kain dengan warna nada serupa dan menjahitnya sendiri di rumah. Untung, di rumah masih ada mesin jahit yang bisa digunakan. Setidaknya, bisa menghemat pengeluaran. Si ibu mencoba menyembunyikan tindakan ini dari anaknya.

Waktunya tiba, anak menagih. Ibu sudah bisa memberikan baju tersebut. Dua potong baju. Satu baju taqwa dengan motif bunga bordir, dan satunya lagi kemeja dengan warna navy dengan motif emblem. Mulanya, si anak sangat bahagia. Dia tidak menyangka yang tadinya hanya meminta satu potong baju saja, akan tetapi ibunya membelikannya dua potong sekaligus. Waktu lebaran tiba, si anak keluar bersama teman-temannya, main petasan, dan menghabiskan uang amplop dari tetangga untuk membeli mainan yang sudah parker di pertigaan gang.

Di satu siang yang terik, Ibu meminta si anak lekas pulang. Ditanyanya ia apakah ia suka dengan model bajunya. Si anak hanya menganggukkan kepalanya. Si ibu lantas manarik senyum lega. Lebaran kala itu terlewati dengan sempurna.

Waktu berjalan, si anak mulai dewasa. Ia sudah 21 tahun. Ibunya sudah 65 tahun. Ibu sudah tidak bekerja. Dia lebih suka duduk di kursi goyang menghadap jendela sambil merajut kain untuk dijadikan sapu tangan atau hiasan saja. Si anak sudah bekerja dengan tingkat kesibukan yang bisa dibilang tinggi. Intensitas pertemuan keduanya kali ini sangat sedikit. Si anak harus pulang-pergi keluar kota mengirim barang. Si ibu di rumah sendiri dengan bayangan masa anak-anaknya.

Suatu ketika saat anak pulang kerja, dan ibu sedang tak kuasa menahan rindu, ibu bertanya pada si anak. “Kamu lebaran nanti mau dibelikan baju?” kata ibu. Si anak mendehem bernada menolak. “Sudah, Bu. Tidak usah. Nanti aku bisa beli baju sendiri. Kalau mau, Ibu nanti aku belikan gamis baru.” Jawab si anak dengan senyum teduh. Mendengar perkataan itu, ibu mengarahkan wajah ke sudut lain. Dia tersenyum sambil mengangguk. “Yasudahlah.” Sudah sejak anaknya mandiri, dia lebih suka menikmati kehidupan di luar rumah. Beberapa kebutuhan memang terpenuhi, tapi tidak sepenuhnya terpenuhi.

Di sore yang meremang. Si ibu naik angkutan umum ke pasar. Ia menghampiri salah satu toko milik tetangganya yang menjual baju. Di tangannya ada beberapa potong baju yang sudah ia jahit untuk dijadikannya baju lebaran anaknya. Tapi, nampaknya si anak lebih suka baju keluaran pabrik. Dia menjualnya. “kau bisa jual dengan harga teserah kau. Bisa juga kau ganti pakai label jualanmu tak masalah.”

Lebaran kembali menghampiri, dan si anak membuat ibu benar-benar tersenyum. “Bajumu bagus.” Si anak menjawab dengan ramah, “Iya beli dari Wak Narman. Halus. Jahitannya juga rapi.”

“Kau tampan. Simpan baik-baik baju itu. Jangan sampai rusak. Sudah dibeli dengan mahal-mahal.”

Akhirnya, setiap lebaran si anak tak lagi membeli baju baru karena dia sudah cukup mengerti pengelolaan uang. Dan di setiap lebaran sejak itu, si anak selalu mengenakan baju yang ia beli dari tetangganya.

Ini cerita yang sangat sederhana. Tapi, bisa kita bayangkan bagaimana lantas si ibu berulah seperti kebahagiaan dirinya teramat tulus? Mungkin kata ‘tulus’ mampu lahir bila saja si anak tahu bahwa baju itu milik ibunya untuknya. Tapi, bukankah si ibu tetap berbahagia? Meski tidak sepenuhnya.

Bahagia adalah entitas yang tak terindera. Terkadang, kita bisa bilang satu waktu itu kita teramat sangat bahagia. Seiring waktu, kita jadi tidak berbahagia lagi. Bahagia adalah keadaan yang sangat temporal dan tidak tetap. Inilah yang disebut sebagai kebahagiaan.

Sekarang, banyak pembicara mengatakan jalani hidup ini dengan bahagia. Mungkin lagi, bisa kita ambil pelajaran baik dari kata bijak, hadapi semua dengan senyuman. Secara simbolis, senyum adalah lambang kebahagiaan. Tapi, seseorang sebenarnya sulit benar-benar mengukur keaslian dari bahagia. Bayangkan, semakin dewasa kita dihimpit kebutuhan dan tanggung jawab. Dua hal itu sebenarnya adalah wujud yang tidak ingin kita tanggung sepanjang waktu. Ini adalah takdir. Ini adalah gejala semesta. Dan kita hanya bisa menerimanya. Lantas bagaimana cara kita bisa mengenal bahagia yang tulus. Sebuah rumus terminologi yang rumit untuk diurai.

Mungkin, kita tidak bisa selalu dalam keadaan bahagia. Kita akan dihadapkan pada situasi yang sering membuat kita merasa terpojok dan terpuruk. Lantas apa yang perlu kita lakukan? Menolaknya? Tidak mungkin. Terima kesedihan itu dengan lapang dada. Seperti Svend Brinkmann, seorang psikolog, mengatakan orientasi pada kebahagiaan yang berlebih hanya akan membuat emosi kita kecil. Hanya saja, saya tidak begitu tertarik dengan kecenderungan merasa terus bahaya. Saya lebih suka menerima bahaya tersebut untuk diri sendiri. Namun, di mata dunia, kita harus memberikan apa yang sepantasnya diterima dengan baik, yaitu kebahagiaan.

Kita hanya perlu mencari jalan kecil yang lain yang lebih mudah. Kebutuhan adalah misi yang perlu kita penuhi. Kita perlu mencari cara yang sesuai dengan diri kita agar kita tidak tertekan secara berlebihan.

Meminjam cara hidup orang lain tidak bisa kita jadikan sebagai ukuran. Berapa banyak orang kehilangan kebahagiaannya karena sering menyelami dunia maya. Wadah yang menghujam ketidakmampuan kita. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk bertanya pada diri sendiri. “Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku lakukan dengan mudah? Apa yang bisa aku ambil dari apa yang bisa aku lakukan dengan mudah? Bagaimana aku bisa mendapatkan apa yang manjadi tujuanku mengambil sesuatu dari apa yang bisa aku lakukan dengan mudah?” pertanyaan ini akan sedikit membantu kita mengenal diri kita. Mengenal diri kita tentang kemampuan luar biasa yang kita miliki. Ketidakmampuan kita adalah kemampuan milik orang lain. Mari keluar rumah. Sapa orang-orang yang kita kenal. Mulai hidup dengan pura-pura yang tulus.

Berpura-pura bahagia lebih baik daripada kita mengeluh sepanjang waktu, seolah kita lemah dan tidak berkembang. Bahagia bersifat sementara. Jika kita melewatkan satu kesempatan dengan bahagia, itu tidak akan bertahan lama. Masih ada kesempatan yang menawarkan kita kebahagiaan lain. Dengan cara lain, dengan orang lain, dengan kisah lain, dengan hasil yang lain, dan itulah kiranya ketulusan semesta memberikan kamu kebahagiaan yang pura-pura. Tidak ada salahnya berpura-pura bahagia.

Mungkin si ibu berpura bahagia kini karena gagal mempersembahkan baju rajutannya untuk anak. Tapi, bisa jadi esok hari ibu punya cara lain untuk memberikan anaknya baju rajutan yang lain. “Nak, ibu punya baju buat kamu. Gak kalah bagus sama punya tetangga. Daripada kamu beli baju di luar, kan? Mending gratis dikasih ibu. Nanti kamu bisa beli label di pasar atau ke tukan cetak. Yang penting, kamu tetap tampan dan keren di mata ibu.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s