Dari Kencan, Sebuah Seni Berbicara Bermula

027657900_1446794731-blind-dateKau bisa menyebut namanya J. Lelaki yang memiliki segudang cita-cita di dalam kepalanya. Seorang yang sangat mempertimbangkan sebab-akibat dari apa yang dia lakukan. Pekerjaannya mapan. Dia bekerja di sebuah perusahaan setelah dia melepaskan keputusan berbisnisnya dari usaha UMKM. Dia pikir tidak ada salahnya mencoba bekerja korporasi sebelum menjalankan bisnis sendiri lagi. Dia tampak bahagia setiap makan siang bersama teman-temannya. Tapi, dia tidak akan menampakkan raut yang serupa saat bicara perihal asmara.

Sesungguhnya ketika aku mengangkat contoh dari J, aku telah membaca terlebih dahulu buku Oh Su Hyang “BICARA ITU ADA SENINYA”. Ada kemiripan yang Hyang paparkan terkait sebuah nyawa dalam kesan. J memiliki segalanya di pundak. Namun, tangannya dingin. Ia sendiri. Dia tidak pernah berhasil berkencan dengan wanita yang jadi incarannya. Dia seolah terkutuk.

Dulu, sebelum J masuk ke dunia bisnis dan bekerja seperti sekarang, dia adalah seorang pembicara yang baik. Kata-katanya mengandung arti positif. Dia suka membantu teman-temannya. Bahkan, ketika ada seorang yang ia kenal terkena musibah, ia akan berusaha bagaimana caranya agar bisa saling bertukar kebahagiaan. Waktu itu, dia sangat pandai merayu cewek. Dia bisa mengeluarkan segala jurus gombal yang tidak dimiliki buku panduan bercinta manapun. Dia bisa berganti pacar tiga bulan sekali atau bahkan lebih singkat. Pada akhirnya hubungan yang ia jalani berakhir dengan tidak baik-baik, setidaknya dengan satu alasan. J seorang pengangguran.

Waktu dan usia mengajari J bagaimana selantasnya ia kemudian mulai menata semuanya dari awal. Dia belajar berbisnis. Dia menyaksikan teman-teman yang lain sudah mulai berkecimpung dengan usahanya, dan J ingin mengikuti jejak mereka. Dia sebelumnya tidak memiliki pengalaman berbisnis, dagang, atau bidang yang senada. Dia hanya tersuntik doktrinasi temannya bahwa bekerja di bidang korporasi hanya jadi budak kapitalis. Itulah mula dia memulai berbisnis. Apapun bisa dijual. Demikian prinsipnya. J membuka sebuah toko yang menjual voucher perdana dan beberapa accessories gadget. Dari sana, ia mulai mengerti bahwa lelaki punya ambisi lain di luar asmara dan cinta.

J mulai terbiasa mengurusi barang masuk, pengaturan keuangan, business plan, bahkan investasi. Dari sana, dia bisa merencanakan liburan bersama keluarga, membelikan barang untuk ibu dan ayahnya, memberikan sedekah untuk kepentingan social, bahkan nongkrong bersama kolega dan teman-temannya. Hanya saja, ia merasa ada angina yang dingin, marorong dadanya. Ia butuh kekasih. Mulutnya tidak lagi tajam seperti dulu. Lidahnya kelu dan asing setiap ingin memulai pembicaraan ringan dengan perempuan.

Dari J, ada yang menarik. Ia bisa menghidupkan nyawa komunikasi ketika dia berada pada posisi yang bebas. Namun, semenjak dia mulai berpikir tentang banyak rencana lain, dia mulai kehilangan daya magis menciptakan kesan dalam kencan. Pikirannya tidak bisa keluar dari lingkaran pekerjaan. Dampaknya, ia hanya bisa menceritakan tentang pekerjaannya. Menceritakan berapa banyak omset yang bisa ia dapatkan dalam setahun, mengatakan betapa bahagianya dia menjalani bisnis tersebut, mendambakan keberaniannya dalam menjalankan bisnis secara mandiri. Nyatanya, apa yang ia katakan pada setiap perempuan dalam kencan mengenai semua pencapaian itu hanya membuat jengkel perempuan.

Tidak bisa dipungkiri, nyawa dalam sebuah komunikasi adalah menghidupkan kesan pertama. Bahkan jika ada keputusan untuk mengadakan kembali kesempatan kedua, kesempatan itu tidak akan selebar kesempatan pertama. Seperti J, cara dia menceritakan kiprahnya tidak begitu tepat untuk menarik hati perempuan yang ia taksir. Perempuan tidak mau tahu dengan semua kiprah itu jikalau yang mereka cari adalah pasangan hati. Kita jauhkan konteks ini dari mata  materiil. Perempuan akan sangat menyukai lelaki dengan penuh perhatian. Perempuan suka diperhatikan, dipuji, dan dianggap ada dalam setiap percakapan.

J memiliki perawakan yang tampan, suara yang bagus, juga karir yang cemerlang. Namun, kandungan kata-kata yang meluncur dari mulutnya tidak mengenakkan hati  pendengarnya. Maka ia gagal dalam seni berbicara. Berbicara adalah bagaimana kita bisa menggetarkan hati pendengar, melayani psikologi dan emosi mereka, serta menjamah ruang terdalam di dalam dirinya. J terlampau egois untuk menggambarkan dirinya di mata orang lain. Itulah kenapa tidak ada yang mau dengannya.

Dari berbicara bisa menjamin nasib kehidupan kita ke depan. Sesuai sebuah penelitian, nasib seorang pelamar kerja yang diwawancarai berada pada menit ke 2-5 dari mula ucapannya. Banyak orang yang memiliki soft skill yang mumpuni untuk bidang kerja yang dicari, namun gagal seiring dengan ketidakcakapan berkomunikasi. Seorang kyai, ulama, pastur, atau biksu sekalipun senantiasa diliputi dengan gaya bicara yang santun dan baik. Itulah kenapa perkataan mereka selalu diminati jamaah. Berbicara tidak soal suara yang bagus, tidak soal mimik wajah yang cerah, ya walaupun tetap penting keduanya, namun isi dalam ucapan tersebut yang perlu untuk dikembangkan.

Beberapa cara baik yang bisa kita mulai dari berbicara. Pertama, perhatikan lawan bicara kita. Penyesuaian subjek-objek komunikasi sangat penting. Kedua, perhatikan latar belakang pendengar kita. Kita harus pahami satu hal, pendengar yang setia adalah pendengar yang merasakan dirinya sedang dibicarakan. Betapa banyak peserta seminar merasa tergugah hatinya hanya karena ucapan pembicara yang membabat habis kegelisahan yang meranggas di kehidupan peserta seminar. Ketiga, ajukan pertanyaan. Pendengar yang baik ingin dilibatkan dalam penyampaian gagasan. Siapa juga yang mau mendengarkan orang berbicara melantur. Seperti mendengar radio saja. Kamu bisa lihat bagaimana pembawa acara stasiun radio sangat sering menggunakan pertanyaan untuk menyapa pendengarnya? Walaupun kita tahu, pendengar tidak akan langsung memberikan tanggapan. Namun, setidaknya mereka merasa dilibatkan. Keempat, berikan kata-kata yang tidak mengandung makna negatif dan kasar. Sarkasme memang perlu dalam sebuah seni berbicara, namun alangkah baik disampaikan dengan pemilihan kata yang tepat. Gunakan analogi untuk menyederhanakan pikiran kita yang rumit. Jangan menuduh lawan bicara. Itulah hal yang bisa kita lakukan mula-mula dalam mengarungi dunia yang bergantung dari gaya bicara.

Semoga kita adalah orang yang senantiasa dalam kebaikan kata-kata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s