Apa Salah Saya?

Kemarin sore saya hendak pulang dari Semarang ke Salatiga. Saya menunggu bus yang keluar dari terminal di kawasan Kaligawe. Jalanan padat oleh para pengendara yang malang-melintang selepas kerja. Suasana agak macet karena beberapa mobil menyalakan sen ke kiri atas instruksi polisi lalu lintas. Ada pengecekan kelengkapan kendaraan.

Entah mengapa, sore itu memang sangat bagus cuacanya. Langit merona cerah, orang lalu-lalang, penjual, pekerja, bahkan beberapa mahasiswa dari kampus setempat yang hilir-mudik membuat saya ingin mengambil gambar.

Hampir seperempat jam saya di sana dengan kumpulan hampir 5 foto terbaik menurut saya. Dari simpang badan jalan, bus Safari keluar dari terminal. Saya sudah beranjak berdiri, melangkah ke tengah jalan untuk mencegah bus, naik. Tiba-tiba suara meneriaki saya, seorang polisi memanggil saya. Bus Safari terlewatkan. Saya pun menghampiri polisi tersebut.

“Ada apa, Pak? ” Tanya saya.

” Lihat HP nya, Mas! ” Pinta petugas.

Saya pun memberikan HP saya.

” Ini saya hapus, Mas. ”

Saya terheran. Ini kenapa foto saya dihapus. Saya kira tidak ada masalah dengan foto saya.

” Loh, kenapa pak? Ini kan saya hanya memotret jalanan saja. Apa salahnya? ”

” Pokoknya tidak boleh, Mas. Atau jenengan mau saya laporkan ke komandan? ”

Karena saya tidak mau memperpanjang urusan, akhirnya saya hapus foto tersebut. Kemudian saya menyingkir dari lokasi. Saya merapat ke area ojek pengkolan.

” Mau kemana, Mas? ” Tanya segerombolan ojek.

” Mau ke Salatiga, Pak. ” saya menambahkan, ” Tadi kenapa saya foto area ini diminta menghapus, Pak?” Tanya saya sok polos.

“Ya begitu itu, Mas. Operasi kok hampir tiap hari. Bisa kali 3 kali sehari. Dah kayak minum obat aja. ” Seorang pengojek sewot.

Saya mengerti. Ada yang aneh dalam pikiran saya. Saya memang tidak berniat menulis ini. Tapi, karena ada upaya dari pihak tertentu meminta menghapus foto, membuat saya geram juga.

Ada beberapa pertanyaan, kenapa tindakan penertiban berkas kendaraan tidak boleh terpublikasikan? Kedua, kenapa seolah tindakan ini adalah tindakan yang menimbulkan kekhawatiran bila tersorot. Bukankah bagus jika orang tahu agar surat dilengkapi.

Adanya tindakan penertiban boleh dilakukan dengan formalitas yang valid. Jika memang itu sudah menjadi tanggungjawab, kenapa pula harus was-was ada yang melihat? Saya pun memaklumi setiap tindakan penertiban. Tapi, dengan cara merampas hak saya dalam berekspresi lewat foto. Saya tidak bisa memaklumi. Ini bukan apa-apa. Ini adalah wujud sederhana dari sebuah rasa menghargai.

Saya tidak akan mempermasalahkan kasus ini. Saya hanya mempermasalahkan hak saya. Kenapa? Sila pembaca beri komentar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s