Mahar Ciuman untuk Sukesi

Perempuan itu masih menundukkan kepalanya. Pikirannya berputar-putar pada kenyataan yang selalu ia paksa maklumi. Ia harus kesekian kalinya menerima bahwa semua lelaki yang pernah mendekatinya hanya serigala. Bibir mereka keluar liur yang mematikan. Baunya menusuk hidung. Ia sadar, bukan suatu pilihan menjadi perempuan dalam pengecualian. Siapa pula yang ingin menjadi wanita kaya dan cantik seperti kata orang-orang itu. Matanya basah, tapi kepongahan sisi kewanitaannya menahannya jatuh.

Namanya Dewi Sukesi. Nama yang mengutuk takdir. Sebuah nama yang dititiskan untuk mengantarnya menjalani kehidupan yang gersang. Telinganya tidak akan heran mendengarkan pujian atas tubuhnya yang menggoda. Apalagi hartanya. Mereka semua hanya melihat betapa ia haus akan keperkasaan lelaki. Tubuhnya sering menggigil dan bergetar membayangkan kulit-kulitnya mendapatkan sentuhan lembut. Bahkan, saat ia duduk bersantai di depan rumah, memerhatikan para pemuda mengangkut karung beras, dadanya sering gatal. Apalagi melihat dada bidang pemuda itu, sungguh sebuah landaian yang tepat menyandarkan kesepian.

Sebenarnya tidak seburuk itu nasibnya bersama lelaki. Ia pernah sekali menaruh kepercayaan pada lelaki. Namanya Jaka. Ia seorang jagoan yang sering menghabiskan waktunya di pasar, memeras pedagang, berkelahi. Semua orang takut padanya. Sukesi pernah didekatinya dan menjalin hubungan terlarang. Jaka selalu bisa bertingkah baik di hadapan Sukesi. Ia akan mendadak bertutur ramah dengan semua orang di pasar, meskipun balasannya pandangan jengkel. Hingga pada satu malam, Jaka mendatangi Sukesi dan mengajaknya ke tepi desa. Jaka terus mengucapkan kebaikan-kebaikan yang sering ia lakukan, berapa banyak ia telah memperjuangkan hak para penjual dari kapitalis pasar, dan semua kebaikan yang tidak tampak selaras dengan perawakannya.

Jaka dan Sukesi menjadi satu. Tubuh mereka memanas, saling menggabungkan keringat satu sama lain di bawah langit yang hitam sedikit. Mereka melakukannya setiap akhir pekan. Namun, beberapa pekan Jaka tidak kelihatan. Sukesi nampak gelisah. Tubuhnya merindukan gerak-gerik keperkasaan Jaka yang tak ada tandingnya di dunia ini. Sukesi mencoba menanyakan kepada para pedagang. Dan benar, Jaka dikabarkan mati karena dipukuli para pedagang yang kehilangan kesabaran atas perilaku Jaka; merampas uang jualan. Sukesi tak terkejut, ia tahu, dari awal Jaka memang bukan orang baik-baik. Bagi Sukesi, lelaki itu otaknya binatang.

Beberapa lelaki setelah Jaka berusaha mendekati Sukesi dengan begitu banyak kebaikan yang ditawarkan. Ada Saridin yang suka menawarkan bingkisan barang-barang dari luar negeri. Sukesi tahu, Saridin hanya menggunakan harta orang tuanya untuk menarik perhatiannya. Sukesi tidak suka transaksi seperti ini. Lalu ada Juki, seorang pejabat. Juki memang tidak membawa bingkisan. Tubuhnya juga tak seperkasa Jaka. Kata orang, Juki itu impoten. Tapi mulutnya sungguh berbisa. Ia seperti peramal. Ia utarakan jaminan hidup bahagia dan segala kebutuhan yang diinginkan Sukesi. Kandas pula. Sukesi tidak suka lelaki loyo. Ia juga tak ingin anaknya kelak hanya makan janji. Perut bukan otak. Perut perlu nasi bukan janji.

****

“Siapa lelaki itu, Mar?” Sukesi bertanya pada pembantunya, Maryam.
“Dia itu Wiji, Ndoro.” Jawab Maryam lemah.
Ada yang aneh menyeruak dada Sukesi seketika ia memandang Wiji. Wiji bertubuh tegap, badannya gelap, miskin, dan tangannya kudisan. Ia datang ke rumah Sukesi sebagai pengantar uang miliki ayahnya. Seperti yang orang tahu, ayah Sukesi memiliki beberapa cabang lumbung padi di beberapa tempat. Wiji lah yang bertugas membawa uang dan melapor keuangan bulanan pada ayah Sukesi.

Siang itu Wiji mengetuk pintu rumah Sukesi. Sukesi yang mendengar ketukan pintu, mendekat dan mendapati Wiji yang kaget merundukkan kepala. Mata mereka secepat cahaya. Sukesi merasakan sebuah perasaan yang aneh. Seperti sebuah kehormatan. Mata Wiji tak beralih memandang lantai. Sampai beberapa detik, Wiji mulai menyakan ayah Sukesi.

“Bapak sedang dipanggil kepala desa. Masuklah!” Perintah Sukesi.

“Saya tidak berani, Ndoro.”

“Kenapa” Tanya Sukesi selidik.

“Tidak baik orang seperti saya masuk sebelum penghuni rumah berada di dalam.”

“Ada aku.”

“Sungguh maaf, Ndoro. Bukanlah maksud saya lancang. Tapi tidaklah baik dua orang lelaki dan perempuan dalam satu rumah tanpa hubungan apapun. Saya takut fitnah, Ndoro.”

Sukesi terkejut dengan jawaban Wiji. Pertama kali ini ia tidak diperlakukan seperti seorang perempuan dengan dada besar dan pinggul menantang. Wiji bahkan tidak memandang matanya sama sekali. Sebuah perasaan yang ganjil.

“Tapi kita tidak melakukan apa-apa. Lagi pula, siapa pula yang akan berani menuduh aku seperti itu. Lagi pula mana mungkin aku mau sama kamu.”

“Sahaya, Ndoro”

Merasa semakin tertantang, Sukesi ingin lebih lama mendengar kata-kata lelaki gelap dan buruk ini. Ia meminta Wiji duduk di teras. Sukesi terus melancarkan pertanyaan-pertanyaan.

“Wiji. Apa kau sekolah di surau?”

“Tidak, Ndoro. Saya tidak sekolah.”

“Lalu bagaimana kau bisa bekerja sebagai pengantar uang bapak dan menjadi juru hitung keuangan lumbung?”

“Maaf, Ndoro. Ibu sahaya yang mengajari sahaya.”

“Apa yang ibumu ajarkan padamu selain berhitung?”

“Ibu sahaya hanya seorang janda. Ibu bilang, saya diajari untuk mencintai yang tak nampak, Ndoro.”

“Makud kamu mencintai hal yang tak nampak?”

“Yang selalu ibu saya ajarkan, bahwa yang nampak semua ini bisa menipu. Tapi dengan belajar mencintai hal yang tak nampak, kita sedang menjalani hakikat hidup.”

“Jangan kau seolah mengguruiku.”
“Sahaya, Ndoro.”

Setelah tak ada yang perlu dipertanyakan lagi, Sukesi beranjak dan masuk kedalam. Kepalanya mendikte ucapan Wiji, mencintai yang tak nampak.

****

Setelah pertemuan yang berulang, Sukesi tidak mendapatkan adanya perubahan pada diri Wiji. Apa yang dia ucapkan tentang hal yang tak nampak mengganggu kepalanya. Ia tidak suka berpikir keras. Ia tidak suka jika ada lelaki yang mengusik tidurnya dengan cara yang tidak adil seperti ini. Lalu ia beranikan diri menanyakan pada Wiji tentang satu perkara.

“Sahaya, Ndoro. Tak ada yang mau dengan sahaya. Sungguh jika boleh ingin mencari seorang istri, sahaya ingin memperistri ibu saya.” Jawab Wiji dengan begitu datar dan lemah. Posisi duduk tidak berubah, di lantai dan Sukesi di kursi teras.

“Apakah kau gila. Menikahi ibumu sendiri sedangkan banyak wanita cantik dan menggoda di luar sana.”

“Sahaya, Ndoro. Jika hanya dosa dengan menikahi ibu sahaya, maka sahaya memilih untuk tidak menikahi siapapun.”

“apa alasannya?”Sukesi semakin tidak mengerti.

“Karena tidak ada wanita yang menyukai keburukan. Sahaya ini buruk, Ndoro. Yang sahay miliki hanya nasehat Ibu.”

“Bagaimana jika aku mencintaimu?”

Nadanya menghina tapi sangat jujur dari hati Sukesi.

“Sahaya, Ndoro. Tidaklah layak seorang perempuan menyatakan perasaannya di depan lelaki terlebih dahulu. Ndak elok”
“Persetan dengan itu. Aku ingin kamu melakukan satu hal untukku.”

Wiji mulai mendongakkan wajahnya. Matanya penuh tanda tanya.

“Nikahi aku!” Sukesi menutup pembicaraan dengan tegas dan senyum yang menakutkan Wiji. “Bawa Ibumu serta kau besok. Aku tunggu di sini dengan. Penghulu akan datang pada pukul sembilan pagi. Jangan telat.”
Malam hari semua orang di desa diberitahu berita mengejutkan ini. Anak perempuan seorang saudagar kaya akan menikah dengan lelaki pesuruh, bau, dan miskin. Berita cepat sekali menyebar sampai ke telinga Saridin dan Juki. Mereka kebakaran jenggot mendengar Sukesi, perempuan yang ia dambakan, akan bersanding dengan lelaki yang jauh dibawah derajat mereka.

Pagi itu, pukul delapan tiga puluh, semua orang sudah berkumpul untuk menunggu kedatangan mempelai lelaki. Semua orang terkesiap pada kecantikan yang dipancarkan Sukesi. Dengan mengenakan rambut yang disanggul, kebaya yang menyembulkan dua gunung dadanya, selendang cokelar bermotif gelatik, Sukesi berhasil menghipnotis semua orang. Juki dan Saridin juga ada di sana.

Pukul sembilan lewat tiga puluh. Wiji belum juga datang. Sukesi menunggu dengan gelisah. Di ujung jalan, seorang wanita tua bungkuk datang dengan raut wajah yang begitu mendung. Ia melewati seluruh hadirin dan mendekati Sukesi. Ia menangis sambil menyodorkan secarik kertas.

“Pagi tadi saya temukan kertas ini di atas dipan tidur anak sahaya.”

Sukesi meraih dan tak sabar membacanya.

“Apakah aku ini berhak atas perempuan yang begitu istimewa di hadapan mata seluruh pria? Aku sadar Sukesi sungguh mendebarkan hati. Tapi keputusan pernikahan ini hanya akan menjadikan bencana. Sebuah ketimpangan dari budaya. Sebuah peristiwa yang akan mengubah dunia. Sukesi adalah satunya wanita yang mampu mencintai hal yang tak nampak, seperti ibu. Tapi benar, taruhan dari perubahan ini mempertaruhkan nyawa. Nyawa yang tak berharga dibawah keangkuhan tahta. Sepulang dari rumahnya. Saridin dan Juki memainkan perannya. Aku tak ingin dunia ini celaka. Hal yang bisa dilakukan kebaikan dari yang tak nampak adalah menampakkan dalam kefanaan. Dan maaf, Sukesi. Jikalau aku memperistrimu, dunia ini tidak akan sepakat. Seperi Juki dan Saridin. Maka dari itu, aku putuskan hidup dalam ketiadaanmu, Sukesi. Maka dengan satu pinta, berikan aku ciuman yang berarti kau mencintaiku.” Sukesi menutup suratnya. Semua orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sukesi memandang sekitar dan berseru, “Dan jika hanya ada pilihan aku menikahi seorang lelaki selain Wiji, aku hanya akan menikah kepada lelaki yang buta matanya dan sering menggunakan telinganya untuk mendengarkan pesan ibunya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s