Kenapa Masih Saja Debat Hukum Perayaan Tahun Baru? Cukup

Setiap waktu perlu kita syukuri. Tapi, masih saja muncul asumsi tentang perdebatan bagaimana sikap kita menyikapi tahun baru. Ada yang bilang ini dan itu. Sehingga sampai sekarang yang terjadi bukan menentramkan hati, justru memanaskan suasana. Maka tulisan saya ini hanya bentuk pemikiran dari orang yang tidak luput dari kesalahan. Mari kita bercerita dan menyikapi dengan penuh pertimbangan.

(Anda bisa tonton versi video artikel ini)

Beberapa waktu terakhir ini saya mendapati banyak sekali repetisi problematika perihal tahun baru. Setiap kita berbicara soal tahun baru, sebagai seorang Muslim, selalu saja muncul pertanyaan “apa hukumnya mengucapkan selamat tahun baru.” Jawaban yang muncul bernada beragam. Ada yang mengatakan bahwa Islam telah memiliki tahun baru sendiri yakni pada tanggal 1 Muharram. Ada yang mefatwakan haram sampai mubah (boleh). Dengan ekslusifitas ini, muncul persepsi tentang menanyakan status tahun baru masehi. Tahun baru masehi muncul bersamaan dengan hegemoni perayaan umat Kristen. Tapi saya tidak akan membahas mengenai hukum perayaan atas nama agama. Mari kita menyikapi dengan kepala dingin.

Tanggal 1 Januari diperingati sebagai hari kelahiran Isa Al-Masih. Tahun baru dirayakan di penghujung tanggal 31 Desember menuju 1 Januari. Pendekatan ini yang akhirnya membuat seorang mulai berspekulasi tentang adanya substansi agama di dalamnya. Di sisi lain, penanggalan masehi diletakkan sebagai kalender nasional. Ini yang membuat masehi menjadi penaggalan inklusif terhadap bangsa di atas nama agama. Bila kita perhatikan, tahun baru eksklusif lainnya bisa kita dapati pada Islam, Cina, maupun Jawa. Jadi ada garis antara bentuk tahun baru yang sifatnya eksklusif dan inklusif. Hal ini perlu dilihat dari kacamata historis. Sekali lagi, tahun baru memiliki dua wajah.

Mengucapkan saja menjadi polemik, lalu bagaimana dengan perayaannya? Kenapa semua ini bisa muncul sebagai problem? Contoh kecil saja, bagaimana kita musti menyikapi bahwa kita menyukai suatu band tertentu yang diundang ke kota kecil kita. Kita sungguh ingin menontonnya. Tetapi sayangnya, band tersebut diundang dalam rangka akhir tahun/tahun baru. Akhirnya ada ketakutan di dalam pikiran apakah dengan menonton band tersebut kita seolah menjadi objek dari perdebatan. Di sisi lain, di waktu yang sama, banyak di masjid berdzikir dan doa bersama. Di gereja ada panjat doa. Berlaku juga terhadap agama lainnya yang melakukan ritual senada secara ekslusif. Lalu kita harus bagaimana?

Kembali lagi, hal ini mencakup pada orientasi waktu yang seolah-olah mistis. Kita terlalu sering dihadapkan pada situasi yang sifatnya momentum. Tidak hanya tahun baru, kita sering mengistimewakan hari seperti hari ulang tahun, perayaan wisuda, perayaan kelulusan, perayaan kenaikan jabatan. Sekali lagi, kita sering mengacu kepada orientasi momentum waktu. Kini muncul pertanyaan muncul kembali, “apakah hari lain itu tidak istimewa dan tak berhak dirayakan?”

Setiap tanggal merah menghiasi kalender, akan selalu nampak respon tidak langsung terhadap gaya perilaku kita. Malam sabtu akhirnya dikeramatkan,misalnya. Siswa sekolah menganggap ini menjadi waktu yang tepat untuk begadang. Para pekerja akan meluangkan waktu untuk menikmati waktu yang lebih senggang. Tidak heran muncul ujaran “malam minggu ngapain nih?”. Apa bedanya malam minggu dengan malam-malam yang lain? Apa keistimewaan malam minggu. Sekali lagi, ini mencakup benang merah antara eksklusifitas dan ingkluisifitas peristiwa.

Dampak dari respon gelombang kejut momentum ini akhirnya yang sekaligus menjadi polemik. Selama seorang menilik pandang hari tertentu selalu tercakup kepada teologi, selama itu akan terjadi benturan ajaran dan tata aturan. Tetapi ketika kita kembalikan lagi persepsi kepada diri kita, maka yang terjadi adalah keintiman terhadap batin. Hal ini yang kemudian memunculkan argumen soal niat. Istilahnya private purpose. Kita hanya ingin mengajak kawan-kawan keluar malam karena waktu seperti yang disebut diatas adalah alasan kita bisa berkumpul bersama. Kita merayakan keluangan ini. Kita kembalikan pada purpose kita. Semisal tahun baru diluar sana orang mulai merayakan dengan cara yang semarak, mereka berhak atas gaya perilaku yang mereka tentukan. Hal yang perlu dipertegas adalah adanya batasan-batasan aturan agama dan etika berkomunikasi sosial.

Kita perkecil lagi rentang tali konflik ini, jika makna daripada tahun baru (semua jenis tahun baru) adalah menanamkan doa-doa baik. Kenapa kita tidak melakukannya setiap waktu. Semisal setiap hari kita berdoa agar waktu yang kita dapati merupakan waktu yang perlu kita syukuri. Kebiasaan ini yang nampaknya memang belum muncul ke permukaan. Ketika kita terbiasa berdoa secara intim dan mulai merayakannya dengan hal-hal baik, kita tidak akan terkejut terhadap stigma momen perayaan. Setiap waktu memiliki wajah khusus dan umumnya. Jika masalah tahun baru dikaitkan dengan perayaan keagamaan, bagaimana jika kita tanamkan dalam diri untuk mensyukuri akhir tahun? Apakah tanggal 31 Desember merupakan hari yang sakral dari kacamata teologis? Sebagaimana mensyukuri tanggal merah panjang, kita berhak atas penentuan waktu luang ini.

Bagaimana pun, kita kembalikan kepada cara sudut pandang kita. Silakan Anda tidak setuju, tapi saya juga tidak tertarik dengan perayaan tahun baru atau akhir tahun. Saya hanya ingin menikmati waktu luang dengan cara saya. Beberapa orang tidak menumpukan gaya perilaku mereka terhadap waktu hari, mereka lebih bertumpu pada cara melakukan hal yang senangi senangi dan dapat dilakukan setiap ada waktu luang. Karena bagi beberapa orang, ekslufitas waktu itu miliki pribadi. Ingklusifitas waktu miliki bersama. Maka, alangkah lebih baik kita beri ketegasan batasan agama dan batasan bernegara. Silakan nikmati waktu luang Anda.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Kenapa Masih Saja Debat Hukum Perayaan Tahun Baru? Cukup

  1. Em, bukankah kita sebagai umat Islam berhak untuk memberi tau pada saudara kita bahwa ikut merayakan tahun baru adalah haram?
    Dan jika segala hal dikembalikan ke diri masing-masing, lalu untuk apa aturan Islam? Bukankah Allah menciptakan makhlukNya lengkap dengan aturannya, maka kita harus mengembalikan segala urusan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s