Kita Sering Tidak Rela Melihat Orang Lain Bahagia

Apakah Anda pernah begitu jengkel melihat kawan-kawan Anda mendapatkan kebahagiaan mereka? Mungkin dengan sederhananya Anda tidak suka jika hal-hal yang Anda cita-citakan justru didapatkan oleh orang lain yang sebenarnya tidak begitu mengharapkan hal tersebut. Apakah Anda merasa frustasi akan hal itu? Apakah Anda mulai menampilkan sikap yang berbeda terhadap mereka?

Saya punya seorang kawan. Ia sangat suka sekali menceritakan impiannya kepada kawan-kawan ketika kita sedang berkumpul. Ia bercerita ingin sekali menginjakkan kaki ke luar negeri. Ia ingin sekali mempunyai suatu bisnis yang membanggakan. Ia ingin orang lain melihatnya dengan selalu menampilkan tampang terkesima. Ia percaya sekali itu tanpa pernah mendengarkan menanyakan kepada kita hal apa yang kita juga inginkan.
Suatu waktu kawan saya yang lain memberikan kabar bahwa ia mendirikan sebuah kedai kecil di sekitar rumahnya.

Teman lainnya berkabar dengan mengirimkan gambar dirinya sedang berada di suatu negara tertentu untuk urusan pendidikannya. Anehnya, kawan saya yang tidak pernah bercerita apapun soal ambisinya seolah benar-benar mendapatkan apa yang diucapkan teman saya yang pertama. Apakah ada masalah mendasar?

Mula-mula memang tidak ada yang berubah. Kita masih sering berkumpul. Lalu kemudian muncul perbedaan dari gaya komunikasi kita. Kawan saya, yang awalnya suka bercerita, mendadak diam seribu bahasa. Ia kehilangan gairah untuk membuka obrolan. Kali ini berlainan, kawan saya yang lain mulai mengangkat kata tentang pengalaman pencapaian yang baru saja mereka dapati. Ada yang aneh dalam komunikasi ini.

Sejak itu, kawan saya yang pertama tidak lagi semenyenangkan dulu ketika kita masih belum menapaki kehidupanm diluar perkawanan itu. Saya mulai berpikir dari sini. Lalu saya tanyakan, apakah ia masih memiliki semangat atas cita-citanya terlebih dahulu? Ia jawab dengan nada pesimis. Ia mulai berpikir bahwa takdir tidak mendukung dirinya. Ia mulai frustasi. Ia kehilangan kendali. Ia mulai tidak menyukai lingkungan kita.

Ada permasalah mendasar yang saya ingin katakan. Pertama, verbal over optimism. Kedua, self-defence. Dan ketiga, thought management. Baik kita akan bahas mengenai dasar yang pertama. Saya jadi ingat suatu pesan dari seorang seminaris yang mengatakan bahwa “Jangan pernah berhenti bermimpi.” Atau kalimat lain yang bagus sekaligus mematikan “Suarakan mimpimu agar semua orang mengakui itu.” Memang tidak ada yang salah terhadap kalimat tersebut. Hanya saja, cara orang memaknai kalimat tersebut sangat menentukan langkah ia kedepan.

Kawan saya terlalu optimis dengan cita-citanya sekaligus menceritakan semuanya sebelum ia melakukan apa-apa. Ia hanya memandang suatu hasil tanpa melihat substansi kecil pendukung. Semisal contoh ingin memulai bisnis. Bisnis bukan tidak serta merta dilakukan dengan cara yang “waw”. Bisnis selalu didukung hal-hal lain yang sifatnya mendukung. Entah itu business plan, mengikuti seminar kewirausahaan, belajar pengaturan waktu, bahkan prinsip dalam berpikir seperti seorang entrepeneur. kecenderungan kita justru hanya berfokus pada keberhasilannya saja. Bukan prosesnya. Inilah kelemahan dari verbal optimism. Kita bertanggung jawab atas apa yang kita ucapkan. Kita bisa saja semakin bersemangat untuk mencapai tujuan tersebut, tapi di sisi lain kita sendiri mengatur pikiran kita untuk menjadi terdepan di mata orang lain.

Orang yang menghindari verbal optimism mungkin berpikir bahwa buat apa menceritakan hal-hal yang belum juga nyata. Alangkah lebih baik jika diatur untuk diri sendiri. Mungkin ini yang terjadi kepada kawan-kawan saya yang sudah mendapatkan satu demi satu buah dari usahanya. Di sisi lain, kawan saya pertama termakan untuk terus bersikap idealis tanpa usaha yang tepat dan mengantisipasi kegagalan. Semua harus berhasil sempurna. Dampak dari optimisme verbal adalah kita menambah beban tanggung jawab moral terhadap kita dihadapan orang lain.

Permasalahan kedua adalah self defence. Ini merupakan anak yang lahir dari rahim komunikasi. Kawan saya menjadi begitu pesimis terhadap keinginannya yang sudah dicapai kawan lain. Pesimisme yang timbul justru mencari kejelekan dan kelemahan perihal yang kita inginkan agar kita merasa nyaman. Setidaknya ada pikiran “tujuan itu ternyata gak memuaskan”. Berapa kali kita harus berpura-pura terhadap kelemahan kita sendiri. Kita mulai menyalahkan orang lain. Kita mulai tidak suka berurusan yang berkaitan dengan kegagalan kita. Semua ini terjadi karena beban moral yang kita produksi sendiri di awal. Saya juga pernah merasakan hal serupa. Dengan kegagalan saya dan keberhasilan orang lain terlebih dahulu, saya mulai menaruh skeptisitas yang tinggi. Saya menentramkan diri saya sendiri dengan mengupas pesimisme terhadap orang lain.

Permasalahan ketiga, kita terlalu terpancing untuk memikirkan perihal yang memuaskan diri. Ini lumrahnya manusia. Setiap dari kita lebih suka berada pada zona nyaman daripada harus terus susah payah. Kita musti sadar satu hal. Setiap hal memiliki antonim. Kita jarang memikirkan kemungkinan terburuk dalam menetapkan suatu keinginan. Ini mengakibatkan gelombang kejutan pada psikologis kita ketika tujuan kita memang belum sepenuhnya sempurna. Padahal, idealisme tujuan tidak pernah akan berhenti pada satu titik. Selalu ada tujuan-tujuann yang lain. Karena idealisme ini, akhirnya membuat kita depresi dan mengutuk diri karena kita tidak bisa memaafkan keadaan. Kita tidak menemukan jalan kreatif dalam berpikir karena kita tidak terbiasa berpikir sehat dalam keadaan genting.

Dari apa yang menjadi pengalaman, sikap menerima itu penting. Ditambah, kita perlu mengakui bahwa setiap orang memiliki tujuan yang tak senantiasa perlu kita ketahui. Kita perlu membangun gambaran-gambaran realistis dari bangun abstraksi keinginan kita. Dengan cara ini, kita akan bisa menerima orang lain. Semua bukan soal orang lain, tetapi bagaimana cara kita menyikapi keadaan orang lain dan keadaan diri sendiri. Semoga kita menjadi orang yang lebih berpikir bijak dalam situasi apapun. Semoga apa yang kita cita-citakan bisa terwujud dengan penyikapan yang tepat. Tidak ada alasan untuk merasa tidak berguna. KITA MEMILIKI KEISTIMEWAAN SENDIRI-SENDIRI.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s