Orang Gila dan Kegilaan

Pengemis itu tak perlu lagi menyumbat telinganya dari desas-desus harta tanah dan sawahnya di kampung. Ia lebih suka parkir di emper toko dengan botol plastik penadah uang. Buat apa menghanguskan kulit kalau cuma beli baju yang berganti-ganti model tak tentu waktu. Buat apa kredit mobil kalau jalanan saja sudah makin sempit begini. Orang kita itu sudah gak mau mikir jalan keluar. Sukanya jajan masalah. Gak tahu diri. Setidaknya itu yang ia katakan untuk menarik perhatian pejalan yang lewat.

Orang pasar memanggilnya Prapto. Sebenarnya, nama itu merupakan nama asli sebelum ia menjadi gila. Sekarang orang lebih akrab memanggilnya Pesing. Tak lain karena ia suka pipis sembarang tempat tanpa mengindahkan siapapun melihatnya.

Sudah tiga bulan ini ia mengemis di depan toko koh Yance. Sungguh mengherankan. Koh Yance senang sekali berbicara dengannya dan soal menikmati segala bualan gila Pesing. Umur mereka terpaut jauh. Pesing sudah hampir 60 tahun sedang Koh Yance masih umur 30an. Tapi pemandangan ganjil ini membuat orang lain garuk-garuk kepala sendiri.

“Orang sekarang isinya cuma nambah masalah aja. Sukanya fitnah. Aku pengemis begini dibilang kaya. Mereka sinting. Mereka tidak bisa lihat mana yang kaya beneran sama yang tidak. Sinting”

Koh Yance memerhatikan setiap kata-kata Pesing dengan seksama. Garis dahinya mengerut seolah menyerap kata demi kata yang keluar dari mulut Pesing yang bau.

“Kita itu hanya mencintai yang nampak baik. Yang baik dan buruk udah gak kelihatan lagi garisnya” Pesing meludah. Tangannya meraih botol minuman dari Yance.

“Kok bisa begitu, To? ” Koh Yance memerlakukan pesing seperti orang waras. Ia menyelidik mau sampai mana arah pembicaraan Pesing.

” Kau ingat pak Soekarno? Aku tahu dia. Kok ya ada orang sesinting dia. Membela rakyat yang gak tahu diri ini.”

Koh Yance mendelik Pesing mengucapkan kata Presiden negara pertama itu.

“Kau harus paham, Yan. Si Soekarno itu. Gak mudeng aku jalan pikirannya. Mulanya saja ia sadar kalau setelah kemerdekaan negara bakal semakin diuji. Akhirnya dia sendiri yang memenggal leher kehormatannya. Gara-gara serangan setelah kemerdekaan, Soekarno minta bantuan sama negara blok sosialis. ”

” kenapa begitu, To? ” Selidik Yance.

” Karena gak mungkin dong Soekarno minta bantuan sama Belanda yang udah tiga setengah abad ini membodohi orang kayak kamu dan aku, ” Pesing tertawa” akhirnya pilihannya ya komunis itu.”

“Bantuan dari blok Komunis digunakan untuk menanggulangi serangan-serangan dari luar. Terutama militer dan senjata. Wajar gak kalau Soekarno itu balas budi? ”

Yanco diam.

” Ya jelas, goblok. Satria itu ya tahu hutang budi. Emang kamu, tahunya jasa diri sendiri. Gara-gara utang budi ini akhirnya Soekarno memberi keleluasaan PKI untuk bertingkah sekarepe udele dewe. ”

” Jangan keras-keras bilang PKI, To. Bisa dipecah kepalamu kalau ada yang tahu. ”

” Memangnya kenapa? Orang gila gak punya penyesalan. ” Pesing tertawa. ” Itulah kenapa banyak yang menyesalkan keberpihakan Soekarno pada PKI. Gak ada yang tahu. Hatta pun akhirnya mengundurkan diri di tahun 1965.”

Seseorang melempar uang receh ke Pesing. Pesing nyengir.

“Kulanjutkan. Soekarno berada di posisi sulit. Di satu sisi ia musti membela keamanan negara dengan meminjam bantuan blok komunis. Sisi lain ia musti membela Pancasila dari PKI yang bladus itu. Kalau kamu jadi Karno, Yan. Mau apa kamu? ”

” Gak mau lah.” Yance menggeleng.

“Soekarno akhirnya punya langkah sendiri agar rencananya mengamankan Pancasila terwujud. Ia gunakan kekuatan PKI untuk menggempur Belanda yang mau mengambil Irian Barat. Soekarno hanya punya dua musuh. Menghapus Belanda dan menumpas PKI tanpa menyinggung rasa utang budi sama Blok Uni Soviet. Dia mainkan perannya bagus sekali. Belanda gugur. Musuh tinggal PKI. ”

Pesing menengadahkan wajahnya menatap Yance. ” Soekarno ingin menumpas PKI tanpa kelihatan ia menghantam. Padahal, pendukung Soekarno mengira Soekarno membelot jadi PKI. Dasar memang. Soekarno itu hebat. Ia kasih kesempatan untuk Soeharto memainkan peran. Dengan mengelu-ngelu PKI, membuat PKI makin semangat berusaha menguasai. ”

” Soekarno sadar, kekuatan kelompok Pancasila lebih kuat. Itu yang ia lakukan. Ia membuat drama. Ketika PKI mulai melakukan kudeta. Ia pancing amarah pula kelompok pancasila. Dengan begini, kedua kubu akan saling beradu dengan pemenang yang jelas. Di sisi lain, soekarno tidak mengkhianati kebaikan budi dari Uni Soviet. Dengan suasana itu, Soekarno akhirnya menyerahkan tapuk kekuasaan ke Soeharto. Ditumpaslah PKI. ”

” Gak mudeng” Yance berkata.

“Itulah kita, Yan. Sukanya mengira tanpa mau membaca sejarah. Ngertine Soekarno mati dalam hujatan yang sangat. Tapi mereka gak melihat jalam politik serta rahasia dibalik itu. Persis seperti cerita Basukarna. Jadi, secara gak langsung Soekarno menumbalkan dirinya demi kita. Kita, Yan. Ngerti gak, kowe?” Mata Pesing menyala-nyala.

Seseorang dari belakang melangkah mendekati Yance dan Pesing. Tubuhnya padat seksi dengan kebaya hijau serta bakul jamu digendongan. Namanya Martonah. Istri Pesing “Pesing, tanda tangani ini surat tanah agar bisa selesai urusan.”

Pesing tertawa terpingkal-pingkal. “Asu pancen. Aku kaya dideketin. Aku gila pun masih kau usik urusan tanah. Pulang. Cih.”

Martonah melotot dan memalingkan muka ke Yance. “Rayulah si Sinting ini, Yan.” yance tidak menampakkan respon apapun. Itu bukan urusannya, pikirnya. Sekejap, Martonah berdiri dan melangkah pergi. Wajahnya merah padam.

“Mau sampai kapan kau berlagak gila? ” Tanya Yance.

” Sampai semua orang tahu balas budi. Aku gila siapa peduli? Aku kaya banyak yang menyanjungku. kita emang begitu. Menghadapi orang gila harus dengan cara gila” Pesing berseru keras sambil mengumpat lagi, menengadahkan botol plastiknya.

Sumber: (Perang Tipu Daya Soekarno dan Tokoh-Tokoh PKI: H Ahmad Muhsin)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s