Puncak Pacaran Adalah Putus

Tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak yang memiliki pasangan (ketawa nyengir). Pacaran tidak lagi menjadi perihal yang tabu. Saya akan membahas masalah ini sesuai dengan yang marak terjadi di lingkungan terdekat kita. Betapa banyak sekali kawan saya berubah menjadi orang lain karena terserang asmara. Banyak kolega saya yang mulanya tidak memerhatikan penampilan berubah menjadi seorang yang sangat hati-hati.

Sekarang, mari kita tarik ulur dasar pembahasan kita. Mulai dari pengertiannya, kita ambil dari menilik pada kenyataan sosial yang ada. Pacaran adalah lambang sebab dari persamaan perasaan dua orang yang telah saling menyatakan. Jadi, pacaran tidak akan tercipta jika beberapa syarat ini tidak terpenuhi. Pertama, adanya ungkapan perasaan secara verbal. Kedua, adanya penerimaan dan timbal baliknya. Ketiga, dua orang yang saling berkomunikasi.

Beberapa waktu lalu, kawan saya sungguh sangat bahagia karena ia tertarik dengan seorang perempuan. Mereka bertemu dalam kondisi yang tidak diceritakan. Tiba-tiba saja kawan saya mulai menanyai saya apa saja yang bisa menarik simpati perempuan. Setiap kita bertemu, ia semangat sekali bercerita perihal perempuan tersebut. Ia gambarkan mulai dari hal-hal umum hingga yang paling rinci. Bagaimana ia bicara, bagaimana perempuan itu tersenyum, perbedaannya dengan perempuan yang lainnya. Saya sadar, kawan saya ini tengah tak sadar.

Tidak butuh waktu lama. Ia kisahkan cukup waktu tiga bulan untuk PDKT. Ia ceritakan bagaimana proses ia nyatakan cintanya. Sungguh romantis, batinku. Kawan saya menembak saat mereka makan malam di tempat yang sudah disewa kawan saya untuk momen spesial itu.

Dua bulan pertama kawan saya tidak menghubungi saya sama sekali. Bulan ketiga ia mulai menanyakan kabar saya. Ia mulai mengajak bertemu. Ia katakan pada saya hal-hal yang kontradiktif tentang pacarnya. Pacarnya ternyata tidak seperti yang ia kenal dulu. Sekarang sifatnya berubah. Pacarnya posesif. Setiap pacarnya memerlukan perhatian, kawan saya harus senantiasa ada untuknya. Pacarnya juga meminta hal-hal aneh seperti meminta kawan saya memasang foto profilnya dengan wajah pacarnya.

“Aku pengen putus aja.” katanya.

Apakah Anda juga termasuk orang yang demikian? Apa guna pacaran bagi Anda kalau bukan untuk putus? Itulah garis akhir dari sebuah ukuran hubungan.

Saya akan beri analogi sederhana. Anda ingin mengajak kawan Anda mendaki gunung. Anda akan mengalami sebuah proses pendakian yang panjang hingga sampai pada puncak. Apa yang akan Anda lakukan setelah sampai sana kalau tidak menengok kebelakang dan kembali lagi ke titik awal?

Banyak yang tidak sadar dengan gejala ini. Pacaran memiliki fase yang sama dengan mendaki gunung. Masa pendekatan Anda adalah proses pendakian Anda yang menguras tenaga dan biaya. Semua harus Anda lalui demi sampai di puncak tujuan. Dalam hal ini adalah kata “sepakat” dalam hubungan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang putus karena hal-hal sepele. Mungkin hanya karena perdebatan kecil, mungkin kecemburuan abu-abu, atau mungkin ketidaksamaan persepsi. Semua ini sebenanrnya wajar.

Jatuh cinta adalah gejala emosional yang wajar yang diwujudkan dengan adanya tindakan-tindakan pendukung. Setelah emosi ini mencapai titik klimaks, ia akan cenderung ke kondisi semula. Ini yang terjadi lewat adanya permasalahan-permasalahan tidak perlu. Permasalahan yang kita wujudkan sendiri. Bahkan ada yang sengaja mencari masalah agar punya topik. Secara emosinal, ini adalah tindakan pemancing agar emosional itu tumbuh.

Putus adalah hal wajar. Jadi, untuk apa Anda menangis jika putus? Kenapa Anda rela berencana bunuh diri setelah putus? Kenapa Anda mulai membenci orang lain atas kesalahan Anda sendiri? Putus adalah gejala yang lumrah.

Hal yang perlu kita perhatikan adalah kesadaran itu. Selama putus adalah final dari pacaran, maka selesai. Tetapi, jika kita mengalami proses pacaran dengan memperhatikan langkah setelahnya (menikah), ini akan berbeda lagi urusan. Tetapi pada garis besarnya adalah Anda tetap memutuskan pacaran dengan mencari sensasi emosional yang lain, yakni jenjang pernikahan.

Logika kewajaran putus yang lain adalah seorang suami yang ditinggal istrinya. Mereka pacaran selama 10 tahun dan menikah selama hampir 40 tahun. Lalu apakah putus masih dianggap wajar? Jelas. Dengan kematian istrinya, ia memiliki dilema atas keputusan yang musti ia ambil. Pertama, apakah ia mencari pengganti. Kedua, apakah ia musti setia sampai ia menyusul istrinya di sana.

Jadi, pada intinya adalah sebuah hubungan pasti akan mencapai titik final. Jika kita tidak merencanakan tujuan-tujuan lain diantara final-final kecil, maka selama itu pula kita akan terjebak pada kesalahan yang sama. Jadi, semoga dengan kesadaran ini kita punya dua sisi positif. Pertama, memberikan penyadaran bagi mereka untuk mewajarkan gejala putus hingga menimbulkan depresi (atau hal tak diinginkan lainnya). Kedua, memberikan pelajaran agar kita lebih siap dalam merancang tujuan-tujuan yang sifatnya emosional. Akan ada apa setelah ini. Karena semua yang diawali akan berakhir juga. Tetapi, kita bisa menanggulanginya dengan memulai hal baru yang mana merupakan proses lanjutan yang lebih baik. Hargai pasangan Anda. Kepastian itu penting. Jangan takut putus. Putuslah untuk awal yang lebih baik lagi.

Iklan

10 tanggapan untuk “Puncak Pacaran Adalah Putus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s