Kesalahan Saya adalah Menerbitkan Buku ke Penerbit ‘itu’

Opini- Di dalam benak beberapa penulis, menyaksikan tulisannya di rak toko buku adalah salah satu yang menyenyakkan tidur. Apalagi buku-buku tersebut tertata rapi di daftar ‘best seller’. Saya tidak tahu bagaimana perasaan seorang penulis di saat seperti itu. Setidaknya, saya pernah punya

firasat seperti itu.

Saya sadari betul saya bukan tergolong penulis yang baik. Menulis bagi saya tidak lebih cara terbaik merelaksasikan syaraf otak yang sering ribut akan berbagai hal. Suatu waktu benar saya membayangkan tulisan saya akan dicetak dan dibaca orang lain. Rasa itu mencuat ketika beberapa orang mulai memberikan tanggapan positif pada status-status yang saya tulis. Baiklah, beberapa sanjungan cukup untuk memupuk kepercayaan diri.

Sekali lagi, saya bukan penulis yang baik. Saya layangkan pikiran saya pada satu kesimpulan untuk membuat satu buku. Buku sekumpulan puisi. Selama proses pembuatan puisi, saya rasakan berbagai macam emosi yang bergumul menjadi satu. Tak jarang saya membatalkan janji bertemu dengan kawan saya hanya untuk merampungkan naskah puisi saya yang, dalam benak saya, akan meledak.

Saya mulai memakan banyak bahan referensi. Mulai dari cara penyampaian, gaya puisi, konten isi puisi, kritik puisi, sampai beberapa teori puisi yang tak sungkan membuat kepala senut-senut. Sekali lagi, saya hanya berpikir tulisan ini akan tembus penerbit.

Cukup lama proses penulisan puisi ini. Waktu demi waktu terlewati begitu saja. Berbagai sumber inspirasi saya pungut satu demi satu untuk menghasilkan riset yang relevan. Semua demi sebuah buku dan harga diri (ego sentris kupikir di sini).

Akhirnya satu naskah menghela napas jedanya. Proses pertama selesai. Kali ini saya perlu berpikir untuk mulai memilah dan memilih penerbit mana yang cocok untuk saya sodorkan naskah. Mulai dari penerbit mayor sampai penerbit indie. Semua saya baca aturan pengiriman naskahnya.

Selama proses pencarian informasi, mulai terbayang bagaimana nanti saya akan melihat buku itu digenggam orang-orang, dibaca di pojok taman, di sudut perpustakaan, di samping kopi panas, atau sebagai media pengungkapan perasaan para introvert. Entahlah, semua begitu kentara di pikiran itu.

Akhirnya saya memilih untuk menerbitkan indie. Alasan kenapa saya memilih proses itu tak lain tak perlu waktu lama untuk proses cetak. Ditambah lagi, ada sedikit kepastian bahwa naskah itu akan masuk cetak. Bagaimana pun, saya bukan penulis yang tenar, cukup sulit menembus penerbit mayor (kesalahan persepsi saya).

Sekarang masuk ke tahap saya memilih penerbit indie yang pas. Saya coba googling di beberapa website, dan akhirnya saya menemukan satu penerbit yang lumayan meyakinkan dari segi manajemen prosesnya. “Baiklah, aku pilih,” kata saya. Mulai saya hubungi pihak penerbit.

Benar tidak waktu lama, buku saya direspon dan akan masuk cetak. Anda bisa bayangkan bagaimana perasaan saya kala itu. Semuanya seperti tertebus segala waktu yang saya curahkan untuk satu buku itu. Bayangan imajiner saya mulai bermain lagi di kepala saya. Lagi-lagi sisi narsisme yang tak terkendalikan.

Selama proses cetak saya sudah membaca peraturan yang tertera. Semua saya baca sedemikian detail. Buku saya dicetak sepuluh eksemplar sebagai sample. Baiklah, saya sangat senang sekali. Dari sana, muncul pikiran untuk memasarkan buku saya.

Saya mulai membuat postingan promosi dan sebagainya. Siapa menyangka! Banyak dari beberapa teman dan kawan di sosial media menanggapi positif buku saya. Mereka ingin membeli buku saya. Saya sangat senang, meskipun tidak ada di toko buku, saya senang puisi saya dibaca orang.

Inilah kesalahan saya, setelah melihat reaksi pasar, saya menghubungi lagi pihak penerbit untuk meminta proses cetak buku sesuai pesanan. Saya ingin membuat ‘stock’ sendiri, sehingga bisa saya pasarkan. Bukankah itu hal yang bagus? Beberapa kolom chat room saya tidak mendapatkan balasan. Baiklah, mungkin pihak penerbit tengah sibuk (saya tidak begitu yakin organisasinya bisa mengabaikan chat room costumer).

Saya mulai gerah dengan dicampaknya chat saya hingga berminggu-minggu. Saya mulai jengah. Sedangkan, teman-teman saya mulai menanyakan buku saya. Saya tidak bisa menjawab banyak kecuali, “masih proses cetak.” Berapa lama lagi saya harus membuat pembaca saya, walaupun tidak seberapa, kecewa? Semua disebabkan tidak adanya balasan sekali dari pihak penerbit. Tidakkah mereka tahu usaha saya dan optimisme saya dalam menulis naskah? Apakah usaha saya cukup adil dengan tidak ditanggapinya permintaan saya mencetak buku lagi? Itulah kenapa saya mulai berpikir, kesalahan saya tidak ada pada bukunya, tapi pihak penerbit ‘itu’.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s