Orang Miskin Tidak Berhak Mencintai? (Review Buku: ‘Gadis Pantai’ Pramoedya Ananta Toer)

gadis-pantai-5af700fbab12ae2409328722

Bisakah seseorang mengampuni nasib yang menggencet pundak seseorang? Aku hidup di lingkungan yang memiliki manusia dengan nasib yang bertingkat. Sebelum aku sebutkan apa saja jenis mereka, kau harus tahu kita sedang membicarakan pandangan sosial umum. Pertama, komoditas orang yang lahir dengan sekeliling harta. Mereka akan merasa bersyukur kepada leluhur karena mereka digariskan dan ditempatkan di tingkat strata yang tinggi karena usaha sejarah.

Selain orang yang aku sebutkan tadi, masih ada lagi golongan yang hidup atas nama dogma. Mereka memandang hidup ini tidak lebih dari usaha manusia mengenali ketidaksempurnaannya. Mereka akan menghabiskan diri dengan berkunjung ke surau, mengaji agama, dan mulai menanamkan hidup ini sebagai arena percobaan menahan siksa materi untuk masuk ke dunia yang hakiki.

Di sudut lain, akan bisa kau temukan beberapa orang dengan kulit kasar, wajah kaku, dan otaknya yang tidak pernah dididik untuk menyerah. Ia ditikam keadaan. Di dalam kepalanya, kebahagiaan adalah angan-angan dan cita-cita. Mereka terbiasa hidup kekurangan. Tidak ada alasan untuk menyalahkan takdir, karena mereka sendiri menyadari bahwa hidup ini adalah soal ikhlas dan mampir minum.

Kenapa aku katakan keadaan orang-orang di sekitarku seperti itu? kau pasti bisa menebak. Tidak lain aku ingin mengklasifikasikan pandangan kita terhadap objek hidup sesuai latar belakang diri kita. Aku akan mengangkat ‘cinta’ dalam hal ini. Setiap kata cinta disebutkan, ketiga kelas umum di atas akan menghadapi pola pemikiran yang unik.

Atas dasar ini, aku ingin berterima kasih kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah memberikan aku satu kesan cinta yang menarik dalam bukunya ‘Gadis Pantai’. Buku ini menceritakan seorang gadis yang bernama Gadis Pantai. Ia lahir di kalangan kampung nelayan yang berkeyakinan bahwa hidup tidak lebih berharga dari bekerja menyambung hidup. Gadis Pantai diajari oleh adatnya untuk tidak berlaku seperti gadis kota. Ia akrab dengan jala ikan, sawit kelapa, dan tidak diajarkan untuk memperhatikan kemulusan kulit dan rupa. Yang diajari oleh kehidupannya yaitu kecantikan terpancar dari yang tidak mampu dilihat mata.

Sampai pada suatu hari yang tidak ia sadari, ia digiring menjauhi area kampungnya. Ia akan menjaga jarak dengan jala ikan, kotor pasir pantai, dan kotor-kotor lainnya yang menepungi tubuhnya. Ia dipilih untuk menjadi istri seorang Bendoro. Gadis Pantai tidak tahu menahu alasannya kenapa ia bisa dipilih. Yang ada di dalam benaknya hanya bakti pada orang tuanya sahaja. Ia lihat wajah ayahnya yang garang, kasar, kaku, dan berjiwa kesatria bisa begitu lunak ketika sampai dipelataran Bendoro. Ia berpikir apa bagaimana bisa seorang yang jagoan di kandang bisa tertunduk dan kehabisan kata-kata di tempat asing ini, tempat orang besar.

Gadis Pantai telah dipilih untuk menjadi istri seorang Bendoro. Awalnya ia tidak merelakan dirinya ditinggal di sana. Dalam masa awalnya, ia canggung dan seolah dirinya adalah monyet yang bergerak di sana. Apa –apa yang ia dapatkan di kampungnya, tidak boleh dilakukan di rumah megah ini. Ia dilarang berbicara dengan orang ‘kebanyakan’, ia dilarang berbahasa seperti orang kebanyakan, ia harus mulai beribadah, melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh seorang istri Bendoro. Begitulah hidup Gadis Pantai.

Seiring berjalannya waktu, Ia harus menyadari bahwa ia telah ditakdirkan beralih pada kehidupannya. Ia sudah mengabdikan diri sebagai istri seorang Bendoro. Tapi, sikap bendoro terhadap istrinya masih memperlihatkan bahwa orang tinggi tidak boleh bersama orang kebanyakan. Semuanya diukur atas nama harta dan sejarah sosial. orang yang tidak berpendidikan adalah kotor. Gadis Pantai harus bersusah payah untuk itu. bahkan, ibu dan bapaknya tidak lagi bisa berbicara seperti dulu. Anak mereka telah jadi milik Bendoro. Itu artinya menatap wajahnya adalah kelancangan. Dalam hati Gadis Pantai, betapa mudahnya seseorang berubah sikap hanya karena perubahan status sosial.

Gadis Pantai Hamil. Ia mencintai anaknya dengan setulus hati. selumrahnya seorang ibu pada Jabang bayi, ia ingin menjadi ibu yang pantas dan menjadikan anaknya luhur. Tapi kenyataan pahit menghampirinya, status sebagai sitri bendoro selesai pada hari ia melahirkan. Bahkan, di hari persalinan, bendoro tak sudi melihat istri dan anaknya karena ada urusan neara yang lebih penting menurutnya.

Gadis Pantai dicerai. Alasan sederhananya adalah menikahi orang kebanyakan adalah salah satu cara bagi bendoro untuk melagsungkan pernikahan aslinya dengan orang yang berstatus sederajat. Gadis Pantai sakit hati. Ia merasa pengabdiannya telah dinodai. Cin bisa menembus dinding tebal pandangan negative orang petinggi. Ia lahir sebagai rendahan, mau apa lagi kalau bukan kembali menjadi rendah. Ia memutuskan kabur dan sesekali melihat keadaan anaknya yang tinggal di rumah besar itu.

Dari apa yang Pramoedya ceritakan, ada yang mengganggu pikiranku tentang cinta. Aku teringat kawanku yang bisa dikatakan lahir dari kalangan orang kebanyakan. Ia memiliki kekasih. Dan kau harus tahu apa yang ia pikirkan. ia bilang ia tidak punya banyak waktu menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya karena ia harus bekerja mencukupi kebutuhan hidupnya. Cinta baginya adalah suplemen baru yang memompa jantung dan ototnya untuk bekerja lebih giat. tapi, fakta menyakitkan yang harus aku katakana adalah kekasihnya lahir dari golongan orang kaya. Kawanku tertekan. Cinta membutuhkan wajahnya yang lain yang ia sebut pembuktian. Pembuktian materi? Entahlah.

Apakah orang miskin tidak berhak jatuh cinta? kau bisa bayangkan sebuah makan malam dengan lilin dan bir digelas dengan leher panjang. Alunan music jazz, dan seorang senorita menyanyi dengan sensualitas tinggi. Ini lah bayangan sebuah keromantisan. Kita terbiasa mengukur taraf kebahagiaan dari apa yang tinggi itu perlihatkan. Ingat! Mereka diberkati sejarah. Dan bagi kita? Hal-hal semacam itu adalah bayang-bayang belaka yang siap setiap saat mencekat leher kita.

Apa yang ada dalam bayangan kalian terhadap sepasang kekasih yang tertangkap basah berciuman di bawah pohon kelengkeng di malam yang remang? Kita akan katakan itu adalah sebuah pelecehan terhadap sosial. tapi kita tidak pernah membayangkan apa yang mereka pikirkan. mereka bercinta dengan tulus. Sadar penuh ia dengan lingkungannya yang tidak bisa kita ukur seperti kamar hotel dengan wangi aloefera yang menggairahkan gerakan di atas ranjang orang kaya?

Selama pandangan seseorang terhadap orang lain masih sebatas apa yang dilihat mata, maka cinta akan tetap salah kaprah. Seperti Gadis Pantai yang dididik keadaan, ia sadar bahwa cinta yang ia lihat adalah rasa tidak menyerah ayahnya yang berjudi dengan maut hanya untuk memastikan keuarganya bisa makan. Cinta Gadis Pantai telah dipertaruhkan.  Dan kau bisa tebak seperti akhir cerita itu? ia dibuang begitu saja. karena cinta yang dipandang dengan mata, maka selamanya orang miskin akan mengutuk keadaan bahwa cinta tidak berhak atas mereka. Tapi bagi mereka yang mau mengerti tentang kebahagiaan. Cinta bisa jadi apa yang tidak nampak dan apa yang tidak mereka sebut sebagai emas dan tahta. Cinta adalah lautan yang bisa mematikan siapa saja sekaligus menghidupi siapa saja.index

Itulah yang aku dapat setelah membaca buku Pramoedya tentang Gadis Pantai. Buku ini akan sangat cocok bila kalian termasuk orang yang tidak kaya  atau kalian orang kaya. Bagi orang miskin, buku ini menyajikan wajah abstraksi cinta, dan bagi orang kaya buku ini menjadi sebuah teguran untuk mulai menyadari hakikat cinta. Bacalah buku ini. Terima kasih Pramoedya atas karya hebat ini.

Iklan

2 tanggapan untuk “Orang Miskin Tidak Berhak Mencintai? (Review Buku: ‘Gadis Pantai’ Pramoedya Ananta Toer)

  1. Bagaikan membayar hutang, beberapa kali saya pernah mencoba membaca novel ini tapi tak kunjung selesai. Mungkin karena seperti buku Pak Pram lainnya yang menuntut perhatian penuh, menolak yang setengah-setengah.😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s