Sudahkah Kita Tersenyum untuk Orang Tersayang?

downloadAku pulang pagi lagi. Semalaman aku begadang dengan dua orang temanku; Ginanjar dan Rifqi Kaje. Mereka hari ini akan tampil di suatu acara pemerintah kota. Aku hanya menemani mereka latihan saja. Malam berangsur cepat, beberapa puluh lagu yang diputar bergilir, dua gelas kopi, sebungkus rokok, dan bualan-bualan informasi yang hinggap pergi di telinga kita. Semua tidak akan berhenti kecuali memang sudah dilantunkan adzan dari toak masjid.

Sesampai di rumah, aku sadari semua pintu terkunci. Ini wajar, mana ada rumah yang membuka pintu 24 jam tanpa henti. Aku ketuk beberapa kali, dan memang tidak ada jawaban. Rasanya ada yang mengganjal di dadaku. Ada ingatan-ingatan kecil yang merambat di impuls syaraf otak. Sebuah ingatan yang membangun fragmen wajah sendu bangun tidur dan membukakan pintu setiap aku pulang pagi. Kalimat yang selalu sama dari tahun ke tahun, “Jane ki turu nang ndi to, Le?” Dalam bahasa Indonesia artinya sebenarnya kemana saja sih kamu, Nak. Yah, itu kalimat almarhum ibuku.

Aku ingat suatu teori persinggungan. Sebenarnya kita sendiri diajari memahami setiap tanda. Dan tanda-tanda disekitar kita memberikan rekam jejak memori yang cukup lama di kepala kita selama kita memiliki repetisi di sana. Semisal, kau pasti ingat apa yang guru Bahasa Inggrismu ucapkan ketika hendak memulai kelas. Mungkin juga, kamu masih ingat bagaimana orang-orang yang pernah ada dan tiada mendadak mampir hinggap di ingatanmu seperti hantu hanya karena kamu mencium aroma parfum yang sama dengannya, menempati suatu tempat yang pernah mengesankan kalian, atau mungkin lagu yang pernah kalian dengarkan berdua. Semua itu adalah persinggungan. Dalam linguistik, kita sebut ini semiosi.

Sebagai remaja tanggung, terutama bagi seorang lelaki. Aku ingin mengutuk diri sendiri dan berkata, seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktu begadang bersama ibuku. Menonton televisi berdua sambil memijat kakinya. Bisa juga mengantarnya belanja dengan niat mendapat uang jajan daripada bermain di luar sebagai seorang pejantan. Mungkin ini yang disebut ‘penyesalan selalu belakangan’. Maksudku, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin kita ingat di masa mendatang. Tidak banyak orang tua yang bercerita panjang lebar tentang bagaimana ia menghabiskan masa lalunya untuk hal-hal yang ia syukuri di masa mendatang. Tidak sedikit orang yang merasa kehidupannya hambar atau hanya memiliki ingatan-ingatan penggembira sesaat dan tak berlaku lagi di masa tuanya untuk dikenang.

Dalam kasusku, aku merasa aku telah menjadi orang yang kekurangan persinggungan dengan ibuku. Siapa yang akan mengira, wanita yang murah senyum, mengiringi kita setiap waktu, menggoreng telur sarapan, bahkan mencucikan celana dalam kita, akan lebih cepat berpulang. Kita tidak pernah tahu. Bahkan jika aku boleh menghitung, di umurku yang setanggung ini, jumlah aku mengucapkan ‘selamat pagi’ dan ‘have a nice dream’ pada ibuku lebih sedikit daripada aku mengumbarkan kata-kata ‘jangan lupa makan’ pada kekasihku. Betapa kita bisa sejahat itu dengan seolah kita adalah orang yang dijauhkan dari masalah.

Ini adalah kasus sederhana. Di luar sana masih banyak orang yang kehilangan orang lain dan menyesal sejadi-jadinya karena apa yang ingin mereka rawat sebagai ingatan begitu sedikit. Banyak seorang lelaki tua menduda sampai akhir khayat. Jika kau tanyakan apakah ia masih mencintai istrinya. Maka ia akan memiliki begitu banyak persinggungan dengan istrinya yang ia hidupkan kembali dalam kepalanya. Ia tidak akan merasa sedih. Karena di masa lalu, mereka berdua telah melakukan begitu banyak persinggungan positif dan bersifat long term (jangkan panjang).

Setiap orang memiliki ruang paling rapuh di dalam dirinya. Sayangnya, betapa banyak dari kita mengelak atas kerapuhan itu. Berapa banyak dari kita mencari pelarian agar kita terus terliihat kuat dan bahagia. Aku, dalam mengingat ibu, selalu ingin menangis sejadi-jadinya. Peduli apa dengan cengeng. Aku ingin meresapi persinggungan yang sedikit jumlahnya ini. Kenali kerapuhanmu. Kenali sebagian dirimu yang lain. Perhatikan hari esok. Apa yang akan membuatmu hampa ketika persinggungan dalam dirimu saat ini di lepas. Ciptakan lebih banyak persinggungan yang bisa kita kenang dan membahagiakan bagi kita di masa mendatang. Jadikan setiap waktu kita hari ini, adalah kebaikan bagi kita di masa mendatang. Hargai orang-orang yang ditakdirkan mengenal diri kita. Karena, semakin sedikit persinggungan dalam hidup ini terhadap hal lain, semakin menyesal kita mengingat hari ini di lain hari; kecuali kehampaan dan remah-remah penyesalan. Sayangi orang terdekat kita. Hargai mereka. Jadikan mereka menjadi orang yang abadi dalam ingatan.

Iklan

2 tanggapan untuk “Sudahkah Kita Tersenyum untuk Orang Tersayang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s