Bangun Pagi atau Siang?

Akhir-akhir ini aku sering tidur pagi. Jelas bisa kau bayangkan, aku mulai membuka lagi mataku dari tidur sekitar matahari sudah hampir sejarum jam 12 dengan kepala. Saat kubereskan diri, biasanya ada salah seorang yang jadi saksi mata ‘kekeblukanku’ ini; tetanggaku penjual kelontongan yang sewot karena aku tiap hari beli shampo se-sachet saja.

Sebenarnya tidak ada yang berubah, aku dulu waktu SMA sering sekali tidur pagi. Ini hanya beda masa saja. Aku Mahasiswa sekarang, tepatnya mahasiswa tingkat akhir. Ada dunia aneh yang mengelilingi sekitar. Satu, aku tidak bekerja. Kedua, orang menilai kehidupanku seperti kaum intelek. Ketiga, aku menjunjung ego tinggi bahwa masa muda harus dihabiskan dengan bahagia karena hidup hanya sekali mampir. Selesai itu, mati sudah.

Dari kebiasaan-kebiasaan ini aku seolah menentang jarum tradisi. Aku ingat waktu mengaji di surau, “Bangun pagi atau rejeki dipatok ayam.” Dan sekarang, aku merasa rejekiku sudah dipatok ayam sepenuhnya. Namun lihatlah. Tak ada satu ayam pun di

sekeliling rumahku yang membuat CV, belanja baju, beli gincu, atau sebatas ngopi di warung-warung pinggiran menggunjing pemerintahan. Tidak ada. Kemana larinya rejekiku?

Ada hal yang sedikit mengganjal di benak. Urusan pagi atau siang itu urusan waktu. Kau pasti ingat teori rotasi bumi. Bumi memiliki belahannya masing-masing untuk menatap dan memunggungi matahari. Kita bisa tidur dan merasa seolah bintang di langit menjaga mimpi-mimpi busuk kita, sedangkan di waktu yang sama ada orang lain, di belahan bumi lain, sedang menenggak es teh karena panas matahari yang makin lama gak tahu diri.

Anehnya lagi, urusan rejeki disambungkan dengan waktu. Aku ingin keluar sedikit dari dogma agama. Dalam agama apa pun, waktu itu memang secara mistis memiliki ruangan tersendiri untuk membina urusan diri dengan Pencipta. Tapi, urusan rejeki, semua kembali lagi pada urusan kita membina waktu. Bisakah jika aku keluar dari zona waktuku dan mulai mengikuti zona lain? Kau pasti tahu maksudku, internet adalah burok bagi informasi jaman sekarang. Dan informasi ini mengalir deras tanpa mengenal pagi atau siang.

Inilah yang membuat seseorang mulai menilai diri kita dari waktu yang sempit sesuai kaca matanya. Mereka melihat kita dalam batasan waktu yang menurut mereka adalah suatu keburukan. Tapi, apakah mereka pernah bertemu kita saat kita bersujud tanpa mendongak, berusaha memeras ide untuk merancang masa depan, menuangkan segelas bir atau kopi untuk menghilangkan stres tinggi, mereka tidak melihat semua itu. Mereka hanya melihat kau acak-acakan tidak mandi dan seolah kita ini manusia paling sial karena menolak rejeki.

Bangun pagi dengan segumpal rencana-rencana yang tertunda lebih buruk dari bangun siang yang lelah menelan pagi dengan kata ‘lakukan’. Jadi kupikir, dunia ini perlu lagi mengkaji waktu. Jika rejeki ditentukan batasan waktu, tidak akan ada pekerjaan yang cocok. Bisa kaubayangkan jika semua penjual makanan malam hari pindah ke pagi hari? Pelanggan akan kabur. Akhirnya, urusan hati dan Pencipta bisa kocar-kacir.

Maksudku, kenapa sekarang kita tidak berpikir lebih bijak. Lebih baik mana mencari waktu, atau menentukan waktu kita sendiri?

Iklan

2 tanggapan untuk “Bangun Pagi atau Siang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s