Percuma Saja ‘Percaya’

silence

Masih adakah yang bisa dipegang dari omongan orang lain saat ini? Kau pasti pernah begitu percaya kepada orang lain. Seolah-olah apapun yang keluar dari mulutnya memabukkan dan melegakan. Terkadang rasa curiga dan tidak percaya perlu juga ditanam sedini mungkin. Setidaknya memagari diri agar tidak tersesat ke dalam prinsip orang lain.

Ada seorang teman datang padaku. Wajahnya bisa kautebak. Sama sekali tidak enak dilihat. Ia menceritakan satu kasusnya yang tengah menghujam kepalanya. Ia mulai menceritakan sikap-sikap pacarnya yang beranjak berbeda. Setidaknya tidak sesuai dengan apa yang pacarnya tampilkan kala PDKT. Ia menceritakan kejelekan kekasihnya sangat lancar.

Aku bukan orang yang lihai perihal asmara. Apalagi memberikan solusi-solusi jitu soal mempertahankan hubungan atau memperkeruh suasana tanpa harus terlihat tetap tidak bermasalah. Yang aku tahu, aku masih punya sedikit ingatan kecil tentang beberapa adegan dalam film jika terjebak dalam situasi seperti ini. Semua mengalir begitu saja, dan kau harus lihat bagaimana raut wajahnya berubah. Ia menyimak setiap kata-kata yang aku kutip dari potongan-potongan ingatanku yang tidak utuh.

Aku bilang padanya bahwa pacarnya itu tidak pantas untuknya. Sebuah komitmen dalam hubungan emosional manusia sebenarnya hanya memenuhi kebutuhan psikologisnya saja. Jikalau memang pada masa PDKT kekasihnya sering mengucapkan selamat malam, selamat tidur, atau kata-kata aneh lainnya. atau bahkan ada kebiasaan dia yang sengaja berubah untuk mendapatkan perhatian, itu kewajaran. mungkin saja ia tengah menjajaki kepuasan emosionalnya. kupikir, puncak kepuasan emosionalnya berada pada komitmen itu mulai terbangun.

Dan kau boleh tebak yang terjadi kemudian. Ia memutuskan pacarnya. Kedatangannya kali ini sungguh berbeda. Ia datang dengan perasaan menggebu-gebu. Ia bilang perihal gadis lain yang sangat menarik perhatiannya. Sungguh banyak sekali kejadian-kejadian hebat semasa PDKT nya kali ini. Mulai dari bangun pagi dan bekerja dengan ucapan-ucapan manis dari calon kekasihnya itu. Dia sendiri sekarang sedang menjajaki kepuasan emosionalnya.

Dari kejadian yang menimpa kawanku, ada satu yang ingin aku bilang padamu. Berapa banyak orang hanya menuruti kebutuhan emosionalnya? Berapa banyak orang jatuh cinta, menggebugebu, berseteru, putus, dan menangis sejadi-jadinya? Kebutuhan emosional diciptakan tidak bertahan lama. Dan kasus kawanku, ia adalah orang yang terlalu menggunakan sisi emosionalnya sehingga hidupnya jadi penuh reka-reka. Ia mulai merasa ditikam sikap yang tajam. Logikanya memang demikian. Hubungan apa pun akan menjadi suram jikalau diawali dengan jalinan asmara yang emosional.

Aku kasih kau satu lagi contoh kenapa kita perlu berkata ‘tidak’ pada omongan orang lain. Kau pasti pernah mendambakan suatu mainan. Kau harus merengek, menabung, bahkan mengancam orang tua sekali pun untu mendapatkannya. Rasanya, kau akan dapati puncak kebahagiaan tertinggi saat engkau raih mainan itu dari tangan penjualnya. Tetapi, laun demi laun, kau tidak lagi merasa impresive pada mainan tersebut. Mulai kau acuhkan, mulai kau tinggalkan, bahkan kau mulai melirik mainan lain. Inilah sifat dasar manusia. Bila kita hadapi dengan wajar dan tingkat emosional yang sewajarnya, tidak akan ada yang merasa disakiti hanya karena perubahan sikap.

Aku bilang, mulai sekarang, berlatihlah untuk curiga. Maksudku begini, kau tingkat kesadaranmu sendiri. Kamu memiliki potongan-potongan ingatan yang sampai kapan pun akan kau bawa. Orang dahulu menamakan itu dengan ‘prinsip’. Terkadang perlu kita batasi antara kepercayaan pada diri sendiri dengan hubungan interaktif orang lain. Orang lain mungkin bisa datang dan mengomel sepuasnya. Tapi kadang kita bisa ambil sesuatu yang positif dari omelannya jika saja memang ada nilai-nilai yang sesuai dengan prinsip kita.

Kau boleh bilang ini sedikit gila. Tapi, aku hanya ingin mengajak kamu untuk percaya pada dirimu sendiri. Ambil kata-kata orang lain sebagai perbandingan terhadap apa yang kamu kira baik atau buruk. Jika semua sudah dilalui dengan proses penuh pertimbanga, maka daya emosional itu akan menuruti logika kita. Kembali ke kawanku tadi, mantannya aku tanyai perihal apa yang diceritakan kawanku. Dan ia bilang, “Kawanmu itu brengsek. Dia selingkuh.” “Aku tak percaya padanya soal hubunganmu. Aku percaya ingatanku masih berfungsi.” kataku.

Iklan

4 tanggapan untuk “Percuma Saja ‘Percaya’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s